Sukses

Filosofi Lepet yang Penuh Makna Tersirat, Sajian Khas Lebaran Mirip Ketupat

Liputan6.com, Jakarta Lebaran ketupat atau Hari Raya ketupat sebentar lagi akan digelar. Dalam tradisi ini, biasanya terdapat sajian ketupat dan lepet. Lepet adalah hidangan khas Hari Raya Ketupat yang bentuknya mirip dengan ketupat.

Konon lepet juga menjadi salah satu kudapan yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masyarakat Jawa, selain ketupat. Penganan ini lazim ditemukan di pulau Jawa dan populer disantap sebagai kudapan.

Bagi daerah yang tidak memiliki tradisi Syawalan, lepet disajikan pada tanggal 1 Syawal (saat hari raya Idul Fitri). Sedangkan beberapa daerah yang merayakan tradisi Syawalan seperti Jepara, Demak, dan Solo, lepet disajikan pada tanggal 8 Syawal (1 minggu setelah hari raya Idul Fitri).

Berikut Liputan6.com ulas mengenai makna filosofi lepet yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (6/5/2022).

2 dari 3 halaman

Asal Muasal Tradisi Lebaran Ketupat

Lebaran ketupat murni berasal dari tanah Jawa, sejak pemerintahan Paku Boewono IV. Sebuah kearifan lokal yang hanya dilakukan di Indonesia, sama halnya dengan tradisi halal bihalal. Tradisi Lebaran Ketupat yang disertai dengan acara halal bihalal tidak ditemukan di negara lain selain di Indonesia.

Lebaran Ketupat ini di masayarakat Jawa dikenal dengan istilah Syawalan, di mana waktunya bertepatan dengan bulan Syawal. Lebaran Letupat juga dinamai dengan istilah Badha Kupat. Lebaran Ketupat dilaksanakan tepat pada hari ketujuh pada bulan Syawal.

Masyarakat Jawa dikenal dengan tingkat religiusitas yang tinggi. Pada masyarakat selain Jawa, setelah sholat Ied mungkin mereka melakukan aktivitas kegiatan seperti hari-hari biasanya. Namun masyarakat Jawa, setelah sholat Ied, mereka biasanya melakukan kegiatan silaturahim ke sanak keluarga, saudara, tetangga dekat dan sekitar lingkungan mereka.

Sehari setelah Idul Fitri atau lebaran, umumnya mereka melaksanakan puasa sunnah bulan Syawal. Puasa sunnah Syawal dilaksanakan sampai enam hari, setelah itu mereka mengadakan acara halal bihalal (maaf memaafkan) dan bersilaturahim dengan kerabat dekat maupun jauh. 

Acara silaturahim ini umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa di mana yang muda mengunjungi yang lebih tua. Hal ini mencerminkan pandangan hidup orang Jawa, bahwa orang hidup harus tepa selira lan unggah-ungguh (tahu tata krama dan sopan santun).

Biasanya yang muda membawa makanan khas ketupat dengan lauk opor ayam yang akan diberikan kepada kerabat yang lebih tua. Makanan ini nantinya akan disantap bersama-sama dengan kerabat. Makanan ketupat inilah yang menjadi ciri khas pada Lebaran Ketupat, sehingga hampir dipastikan di tiap keluarga masyarakat Jawa akan menghidangkan suguhan ketupat dengan lauknya opor ayam dan sambal goreng setiap Lebaran Ketupat tiba.

Kemudian tradisi ini menyebar ke luar tanah Jawa dibawa oleh orang-orang Jawa yang merantau ke luar pulau, bahkan ke luar negeri. Tradisi Lebaran Ketupat hingga akhirnya dikenal oleh masyarakat di luar Jawa dan menjadi tradisi yang nasional, hampir di tiap daerah terdapat tradisi yang sejenis dengan tradisi Lebaran Ketupat tak terkecuali di luar negeri yang ada orang Jawanya.

3 dari 3 halaman

Mengenal Filosofi Lepet

Lepet adalah makanan yang disajikan saat Lebaran. Kata lepet berasal dari kata ‘silep’ yang berarti ‘kubur atau simpan’ dan ‘rapet’ yang berarti ‘rapat’.  Peribahasa yang terkenal tentang lepet adalah ‘mangga dipun silep ingkang rapet’ yang berarti ‘mari kita kubur yang rapat’.

Selain itu, lepet juga mempunyai simbol kesucian dan kebersihan. Untuk itu banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai gantungan di depan rumah (atap, pintu, dan lainnya) untuk mengusir hal-hal negatif.

Kuliner khas ini terbuat dari beras ketan ditambah dengan kelapa muda parut dan sedikit garam. Kemudian dibungkus daun kelapa muda atau janur dan direbus hingga matang. Lepet mirip lember dan lontong, meskipun perbedaannya teksturnya lebih liat dan lengket.

Bentuk lepet sangat unik karena menyerupai mayat. Lepet juga diberi tali tiga melingkar seperti pembungkus jenazah. Inilah yang mempertegas bentuknya yang menyerupai mayat. Secara filosofis, ditali tiga seperti mayat ini berarti kesalahan seyogyanya tidak menjadi dendam sampai mati. 

Selain itu, lepet memiliki tekstur yang lengket. Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, ini adalah simbol manusia tidak luput dari kesalahan. Diharapkan dengan adanya lepet, tumbuh sifat saling memaklumi dan memaafkan kesalahan satu sama lain. Setiap komponen bahan yang digunakan dalam pembuatan lepet memiliki makna sendiri, sebagai berikut:

a. Ketan yang memiliki tekstur menempel dan lengket satu sama lain menggambarkan ikatan pertemanan yang kuat.

b. Kelapa parut yang memiliki tekstur halus menggambarkan kehalusan perasaan dan sopan santun yang diharapkan terdapat pada umat Islam saat Idul Fitri.

c. Garam menggambarkan keseimbangan hubungan antara komunitas yang harmonis.

d. Janur (daun kelapa muda) yang berasal dari kata "jatining nur" memiliki arti cahaya sejati, menggambarkan sucinya kondisi manusia setelah menerima cahaya sejati selama bulan Ramadhan. Selain itu, kesulitan proses pengambilan janur yang berada pada puncak pohon menggambarkan upaya yang dilakukan umat muslim demi mencapai kesucian.

e. Tali bambu merupakan simbol pertemanan yang kuat karena sifat alami tanaman bambu yang tumbuh berkelompok.

Selain muncul saat Hari Raya Idul Fitri, lepet juga muncul seminggu setelah Lebaran. Dalam budaya Jawa, dikenal adanya Lebaran Kupat atau Lebaran Ketupat yang berlangsung seminggu setelah Lebaran. Pada momen itu, orang-orang memasak atau membeli lepet dan ketupat. Lantas, mereka mengantar dan membagikannya ke rumah tetangga dekat maupun kerabat dekat. Ini adalah upaya bersilaturahmi dan simbol meminta maaf dengan para tetangga dan kerabat.