Sukses

Niat dan Tata Cara Iktikaf Serta Keutamaannya di Bulan Ramadan

Liputan6.com, Jakarta Iktikaf merupakan amalan sunnah yang bermanfaat saat dilakukan di bulan suci Ramadan. Iktikaf sendiri adalah tindakan berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah dan bermuhasabah atau introspeksi atas perbuatan-perbuatannya.

Amalan sunnah ini dianjurkan untuk dilakukan di bulan Ramadan dan hendaknya dikerjakan terutama di sepuluh malam terakhir. Hal ini berkaitan dengan upaya kita menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.

Diharapkan ketika malam Lailatul Qadar tiba, seorang muslim sedang melakukan iktikaf sebagai bentuk amalan saleh dan upaya meraih keutamaan Lailatul Qadar. Untuk memaksimalkan iktikaf, Anda dapat melakukan berbagai kegiatan di masjid seperti, salat wajib lima waktu, salat malam, membaca Al Qur-an, dan berdzikir.

Mengerjakannya pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadan, lebih diutamakan dibanding pada waktu-waktu yang lain. Hal ini demi bisa meraih keutamaan Lailatul Qadar yang waktunya tidak dapat diprediksi secara pasti. Maka dari itulah, siapa pun harus senantiasa mengisi malam-malam Ramadan dengan berbagai amalan sehingga dapat memaksimalkan dan menyempurnakan ibadah di bulan suci Ramadan.

Bagi Anda yang ingin melakukan iktikaf, maka Anda perlu mengetahui tata caranya, niat serta keutamaannya. Berikut penjelasan yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbaga sumber, Selasa (27/4/2021).

2 dari 5 halaman

Mengenal Apa Itu Iktikaf

Kata iktikaf berasal dari bahasa Arab Akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), iktikaf merupakan tindakan berdiam diri untuk beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dikutip situs Nahdlatul Ulama (NU), secara terminologi iktikaf adalah berdiam diri di masjid disertai dengan niat. Tujuannya adalah semata-mata beribadah kepada Allah SWT.

Iktikaf dapat dilakukan setiap saat, termasuk pada waktu-waktu yang diharamkan salat. Hukum iktikaf adalah sunnah, tapi bisa menjadi wajib apabila dinazarkan. Hukumnya bisa jadi haram apabila dilakukan oleh seorang istri atau hamba sahaya tanpa izin. Bisa juga menjadi makruf bila dilakukan oleh perempuan yang bertingkah dan mengundang fitnah.

Melakukan amalan sunnah ini pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan lebih diutamakan dibanding pada waktu-waktu lain. Hal ini demi menggapai keutamaan Lailatul Qadar  yang waktunya dirahasiakan Allah. Sebab dirahasiakan itulah, maka siapa pun yang senantiasa mengisi malam-malam Ramadan dengan amaliah, baik wajib maupun sunnah dengan tujuan agar tidak terlewatkan.

Pada sebuah haditsnya, Rasulullah SAW, bahkan menyatakan bahwa iktikaf di sepuluh malam terakhir bagaikan beriktikaf bersama beliau.

“Siapa yang ingin beriktikaf f bersamaku, maka beriktikaflah pada sepuluh malam terakhir,” (HR Ibnu Hibban).

3 dari 5 halaman

Niat Iktikaf

Untuk Anda yang ingin mengisi bulan Ramadan dengan amalan baik seperti amalan sunnah iktikaf. Berikut adalah niatnya.

Nawaitu an a'takifa fi hadzal masjidil ma dumtu fih

Artinya, “Saya berniat itikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya.”

Selain itu, ada pula niat iktikaf lain yang dapat digunakan dikutip dari Kitab Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi, sebagai berikut.

Nawaitul  i'tikafa fi hadzal masjidil lillahi ta'ala

Artinya, “Saya berniat iktikaf di masjid ini karena Allah SWT.”

Waktu yang tepat menjalankan iktikaf di bulan Ramadan sebaiknya dimulai pada 10 hari terakhir Ramadan. Di mana masuk ke masjid sebelum waktu maghrib di malam ke 21 Ramadan dan keluar dari masjid pada malam Idul Fitri.

4 dari 5 halaman

Tata Cara Iktikaf

Setelah mengetahui pengertian dan niat dari iktikaf, selanjutnya Anda harus memahami dari tata caranya selama melakukan alaman sunnah tersebut di masjid. Selama berdiam diri, Anda bisa melakukan banyak aktivitas keagamaan yang membuat iktikaf menjadi lebih berkah. Berikut panduan dan tata cara iktikaf yang perlu Anda perhatikan.

1. Syarat iktikaf

Orang yang beriktikafharus memenuhi syarat yaitu harus beragama Islam, berakal sehat, suci dari hadats atau junub, haid, dan nifas, serta dilakukan di dalam masjid. Oleh karena itu, iktikaf tidak sah bagi orang yang bukan muslim, anak-anak yang belum dewasa, orang yang terganggu akalnya, orang yang dalam keadaan junub, serta wanita dalam masa haid dan nifas.

2. Hal-hal yang membatalkan iktikaf

a. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan yang dikecualikan walaupun sebentar.

b. Murtad (keluar dari agama Islam).

c. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk.

d. Haid atau nifas.

e. Bersetubuh dengan istri[4], akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.

f. Pergi salat Jumat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunakan untuk salat Jumat).

3. Adab saat mengerjakan iktikaf

a. Berdoa.

b. Membaca dzikir.

c. bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

d. Membaca Al Quran ataupun Hadis.

e. Jangan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan tidak bermanfaat.

f. Mengharap ridho dari Allah disertai niat yang bersih.

g. Sedikit makan, minum, dan tidur agar lebih khusyu’.

h. Menjaga kebersihan dan kesucian diri serta tempat iktikaf.

5 dari 5 halaman

Keutamaan Iktikaf di Bulan Suci Ramadan

Sebagai suatu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadan, iktikaf memiliki banyak keutamaan. Keutamaan iktikaf yang didapatkan oleh seorang muslim yang mengerjakannya akan sangat berguna baginya, bahkan menjadi bekal pahala yang besar. Berikut keutamaan yang didapatkan dari iktikaf.

1.  Dihapusnya dosan dan digantikannya dengan kebaikan

Keutamaan yang pertama ialah dihapuskannya dosa-dosa di masa lampau kemudian digantikannya dengan banyak kebaikan. Tentu saja penghapusan dosa merupakan pahala yang selalu diidamkan oleh manusia karena setiap manusia pasti memiliki banyak dosa yang bisa menghambatnya menuju surga.

Seperti yang diriwayatkan dalam hadis Ibnu Majah, "Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah menjelaskan berkaitan dengan orang yang beriktikaf: "Ia berdiam diri dari dosa-dosa dan dialirkan baginya kebaikan seperti orang yang melakukan semua kebaikan."

2.  Pahala mengerjakan iktikaf digambarkan seperti pahala haji dan umrah

Siapa sangka mengerjakan iktikaf mengandung pahala yang begitu besar bahkan digambarkan seperti pahalanya orang yang tengah melaksanakan ibadah haji dan umrah. Diriwayatkan dalam Hadis Baihaqi, Rasulullah bersabda, "Barang siapa iktikaf 10 hari di dalam bulan Ramadan maka (dapat pahala) seperti orang yg dua kali haji dan dua kali umrah."

3. Berkesempatan mendapatkan malam Lailatul Qadar

Rasulullah SAW beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat pada Allah SWT, banyak berdoa dan banyak berdzikir ketika itu.