Sukses

Menjaga Protokol Kesehatan di Bulan Ramadan, Jadi PR Semua Pihak

Liputan6.com, Jakarta - Setahun lebih sudah kita lewati untuk menghadapi pandemi. Sudah semestinya masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup tentang protokol kesehatan. Namun tetap saja kita harus terus saling mengingatkan. Karena, mungkin sebagian besar dari kita juga sudah lelah menghadapi pandemi yang melumpuhkan berbagai lini kehidupan.

Oleh karena itu, Vaksinolog, dr Dirga Sakti Rambe, mengatakan betapa pentingnya edukasi seputar COVID-19. Ditambah dengan meningkatkan kebiasaan untuk saling mengingatkan, baik itu pada tingkat Rukun Tetangga, Rukun Warga, sampai tingkatan pemerintah yang lebih tinggi.

Dirga juga berpendapat bahwa secara umum kesadaran masyarakat sudah relatif lebih baik dibandingkan ketika awal pandemi. Tapi kondisi ini seharusnya tidak menjadikan pihak manapun lengah. Perlu adanya upaya pencegahan terus-menerus dari semua pihak.

Bulan Ramadan menjadi saat-saat yang rawan pengabaian protokol kesehatan, karena bertepatan dengan kegiatan mudik dan lebaran.

Menjaga protokol kesehatan di bulan Ramadan, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah saja. Akantetapi, menjaga protokol kesehatan merupakan tanggung jawab kita bersama.

“Karena bagaimana pun pengendalin pandemi sangat bergantung pada sikap kita masing-masing,” ujar Dirga dalam Dialog Produktikf Kabar Jumat (16/04).

 
2 dari 5 halaman

Vaksinasi, 3M, 3T, Kunci Kenalikan Pandemi

Kunci mengendalikan pandemi COVID-19 adalah dengan menerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak) dan melakukan 3T (Testing, Tracing, dan Treatment). Kemudian disempurnakan dengan vaksinasi.

Sudah sepatutnya Indonesia mencontoh negara lain yang mampu melakukan vaksinasi dengan cakupan luas.

“Kita bisa belajar dari negara-negara yang menjalankan vaksinasi dengan cakupan yang sudah cukup luas, contohnya Amerika Serikat, Inggris, Israel,” kata Dirga.

Penerapan 3M dan 3T yang baik juga memengaruhi tingkat keberhasilan negara-negara tersebut dalam menekan laju angka penularan COVID-19 dan menurunkan kasus kematian akibat COVID-19.

 
3 dari 5 halaman

Jangan Lengah karena Hasil Rapid Tes Antigen

Terdapat 2 metode testing yang digunakan di Indonesia saat ini. Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) testing dan Metode Rapid Test Antigen.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Widyastuti MKM, memaparkan data selama sepekan terakhir menunjukkan metode PCR testing telah dilakukan sebanyak 68 ribu kali dan metode Rapid Test Antigen telah dilakukan sebanyak 3 ribu kali per harinya.

Widyastuti berpesan kepada warga yang melakukan Rapid Test Antigen dan mendapatkan hasil negatif untuk jangan merasa tenang dan terlena melupakan protokol kesehatan karena merasa diri sehat.

 

 

Penulis: Rissa Sugiarti

 
4 dari 5 halaman

Infografis DISIPLIN Protokol Kesehatan Harga Mati

5 dari 5 halaman

Simak Juga Video Berikut