Sukses

Amankah Stok Logistik Jelang Ramadan 1442 Hijriah di Bulog Sulawesi Tenggara?

Liputan6.com, Kendari - Bulog Divisi Regional Sulawesi Tenggara memastikan ketersediaan stok kebutuhan bahan pokok di Sulawesi Tenggara jelang Ramadan 1442 Hijriah dalam kondisi cukup. Kepala Divre Bulog Sultra, Ermin Tora menyatakan, saat ini kondisi cukup stabil hingga menjelang Idul Fitri untuk ketersediaan beras, terigu, daging sapi, gula hingga minyak goreng.

Dia menyatakan, saat ini Sultra masih memiliki stok 5000 ton beras. Jumlah ini, diprediksi akan cukup hingga Ramadan dan Idul Fitri mendatang. Pihaknya, baru akan menambah persediaan di gudang, ketika stok menyisakan 2000 ton.

"Pengalaman tahun sebelumnya, kondisi sebanyak ini cukup. Ketersediaan di gudang dan hasil panen petani masih terjaga. Begitupun dengan terigu," ujar Ermin Tora, Selasa (6/4/2021).

Untuk ketersediaan minyak goreng dan daging sapi, Ermin Tora menyatakan, di Sulawesi Tenggara juga masih relatif stabil jumlahnya. Saat ramadan dan lebaran, Bulog akan menyediakan 20 ribu ton minyak goreng. Selain itu, ada stok 5 ton persediaan daging dan akan diisi mulai ulang ketika stok tinggal dua ton.

"Bulog saat ini menjual Rp 80 ribu perkilogram, kalau misalnya di pasaran Rp 100 ribu perkilo, mudah-mudahan tidak naik terlalu tinggi. Namun, ketika permintaan relatif meningkat, kami akan menambah persediaan," ujarnya.

Dia melanjutkan, stok gula pasir di Bulog Sulawesi Tenggara saat ini memiliki persediaan gula sebanyak 17 ton. Dalam waktu dekat, akan ada gula dari pabrik Jawa Tengah sebesar 200 ton yang akan masuk di Sultra.

2 dari 3 halaman

Harga Naik?

Pihak Bulog mengakui, ada sejumlah pelaku usaha 'nakal' yang kerap memainkan harga saat menjelang ramadan atau lebaran Idul Fitri. Namun, mereka tak menutup mata dengan kondisi ini.

Langkah strategis yang dilakukan Bulog, memperkuat personil dan informasi hingga ke pelosok. Ermin Tora menyatakan, saat ini Bulog sudah menyiapkan armada mobile yang bisa mencapai daerah pelosok. Sehingga, harga diharapkan bertahan sesuai standar normal yang diharapkan pihak Bulog.

"Misalnya harga gula pasir, masyarakat tidak perlu khawatir, kami mengantisipasi lonjakan harga sehingga bisa bertahan pada harga Rp 12.500 per kilogram," tegasnya.

Dia memaparkan, distribusi gula dan barang lainnya di pasar di Sulawesi Tenggara umumnya melalui retail atau dijual per kilogram. Untuk menahan agar harga tetap normal, selain menjual langsung melalui mobile yang menjangkau pelosok, bulog juga distribusi ke outlet lapangan.

"Itu sudah kami buktikan saat Pandemi Covid-19 tahun lalu, ketika banyak kebutuhan warga, kami bisa menekan harga tetap normal dan mengurangi peluang terjadinya permainan harga lapangan," pungkasnya.

 

 

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video pilihan berikut ini: