Sukses

Dua Masjid Bersejarah Favorit Warga Blora Saat Ramadan

Liputan6.com, Jakarta Euforia umat muslim dalam menyambut bulan Ramadan terlihat dari meningkatnya jumlah anggota jemaah di seluruh masjid. Biasanya mereka menghabiskan waktu di masjid dengan kegiatan keagamaan, seperti melaksanakan ibadah salat, mengaji, mendengarkan tausiah, hingga hanya berdiam diri.

Tak terkecual bagi masyarakat Blora, Jawa Tengah. Di balik keindahan alamnya, Blora menyimpan sejarah keagamaan melalui bangunan masjid.

Salah satu masjid yang menjadi favorit warga Blora adalah Masjid Baitunnur. Masjid tertua di Kabupaten Blora ini terletak di jantung kota, tepatnya di sebelah barat Alun-Alun Kota Blora.

Masjid Baitunnur diketahui dibangun oleh Bupati Raden Tumenggung (R.T.) Djajeng Tirtonoto. Masjid ini disebut-sebut sebagai masjid tertua pertama di Blora. Hal ini didasari oleh rujukan yang ditemukan dalam lembaran arsip keluarga R.M. Tejonoto Kusumaningrat:

"Wa awwalu bisai in hadzal babu yaumal isnain fi syahris sawwal wafii sanatil wawu waiddatu hijratun nabi sholallohu 'alaihi wasallam alfu wasittaani wakhomsa wasittuuna sanah."

Yang memiliki arti :

"Mulai berdirinya di hari Senin di tahun wawu Hijrah Nabi 1265, dalam tahun Jawa 1775 atau tahun Walanda 1846"

Menurut catatan sejarah, masjid ini didirikan pertama kali oleh R.T. Djajeng Tirtonoto pada tahun 1774. Hal ini ditandai dengan 'Sengkala Catur Ing Pandhita Sabdaning Ratu' yang artinya 1774.

Di masa pemerintahannya, Masjid Baitunnur telah memiliki bedug yang terbuat dari pohon jati utuh yang berlubang di tengahnya.

R.T. Djajeng Tirtonoto kemudian membangun rumah kabupaten berikut alun-alunnya dan dilanjutkan dengan membangun masjid.

2 dari 2 halaman

Masjid Tua Baiturrahman

Masjid lainnya yang menyimpan sejarah di Blora adalah Masjid Baiturrahman. Masjid ini terletak di Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora Kota. Masjid Baiturrahman disebut sebagai masjid tertua kedua di Blora setelah Masjid Agung Baitunnur.

Menurut catatan sejarah, Masjid Baiturrahman berdiri tahun 1774. Hal ini berarti pembangunan Masjid Baiturrahman hampir bersamaan dengan Masjid Agung Baitunnur.

Kedua masjid tersebut sama-sama didirikan oleh R.T. Djajeng Tirtonoto. Hal yang membedakan adalah bangunan Masjid Baiturrahman pada awal mulanya merupakan surau (langgar).

Awalnya, R.T. Djajeng Tirtonoto memilih sebidang tanah di Desa Ngadipurwo untuk dijadikan surau. Setelah 32 tahun berdiri, surau tersebut rusak, lantas direhab kembali menjadi sebuah masjid pada tahun 1814 oleh R.T. Prawirojoedo.

Kemudian surau tersebut diubah menjadi Masjid Baiturrahman oleh Kandjeng Raden Mas Tumenggung (K.R.M.T) Tjokronegoro III pada 19 Agustus tahun 1894 Masehi.

R.T. Djajeng Tirtonoto sengaja memilih Desa Ngadipurwo karena letaknya jauh dari alun-alun yaitu sekitar 7 kilometer. Ia bermaksud menjadikan tempat tersebut sebagai tempat tinggal ketika nantinya ia meletakkan jabatannya sebagai Bupati Blora.

Meskipun diubah menjadi masjid, keaslian kayu dari surau masih terjaga. Di dalamnya juga terdapat mimbar khotib dan mustaka (kepala) masjid Jawa yang bentuknya mirip mahkota raja Jawa.

Mustaka di atas masjid ini melambangkan makrifat, yakni tingkat penyerahan diri kita kepada Allah secara berjenjang, setingkat demi setingkat, hingga sampai pada tingkat keyakinan yang kuat.

Kemudian, pohon jati untuk bedug ditemukan R.T. Djajeng Tirtonoto di suatu tempat yang sekarang dinamakan Desa Growong.

Pohon jati dipotong menjadi 3 bagian untuk membuat tiga bedug. Bedug pertama diperuntukkan Masjid Agung Surakarta yang diambil dari potongan pohon jati pada bagian pangkal.

Sementara potongan pada bagian tengah diperuntukkan untuk beduk Masjid Agung Baitunnur, dan pada bagian pucuk untuk beduk Masjid Baiturrahman.

 

Penulis: Ahmad Hadiri