Sukses


Jakarta Sudah Tak Layak Sebagai Ibu Kota, Apa Alasannya?

Liputan6.com, Jakarta Pemindahan ibu kota ke luar pulau sudah direncanakan dengan matang yang dahulunya baru menjadi wacana saja. Secara tak langsung, Jakarta dianggap sudah tak layak sebagai ibu kota dikarenakan beberapa faktor.

Ibu kota Jakarta dipandang tak lagi layak sebagai sebuah ibu kota karena kota ini terlalu banyak menampung penduduk pendatang dan pertumbuhan urbanisasi yang tinggi dengan konsentrasi penduduk terbesar di Jakarta dan Jabodetabek. Saat ini Jakarta memasuki peringkat ke-9 kota terpadat di dunia.

Rencana menjadi Jakarta Tenggara? Panduan lengkap seputar properti di Bekasi

Dari sisi potensi ancaman gempa, di Jakarta terancam oleh aktivitas gunung api seperti Gunung Krakatau dan Gunung Gede. Belum lagi potensi gempa Tsunami Megathrust di Selatan Jawa Barat dan Selat Sunda, gempa darat Sesar Baribis, Sesar Lembang, dan Sesar Cimandiri.

 

Mengapa Ibu kota Harus Pindah?

Sekitar 57% penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pulau jawa memiliki jumlah penduduk tertinggi, 56,56% dari total jumlah penduduk Indonesia, sementara itu  daerah-daerah lain memiliki jumlah penduduk sangat rendah (<10%) kecuali Pulau Sumatera.

Kontribusi Ekonomi Pulau Jawa terhadap PDB Nasional 58,49%, Share PDRB Jabodetabek  terhadap PDB Nasional 20,85%.

Simak juga: Cara Investasi Properti Agar Cepat Kaya

Konversi Lahan Terbesar Juga Terjadi di Pulau Jawa

Warga ibu kota masih bergantung dengan penggalian sumur tanah untuk memperoleh air bersih. Tingginya tingkat ketergantungan ini menyebabkan penurunan permukaan tanah dan kemiringan Monas (Monumen Nasional) sebesar 6 cm per tahunnya. Akibatnya, banjir rob yang identik dengan wilayah Semarang dan Tegal, kini juga telah melanda Jakarta Utara.

Di sisi lain kualitas air sungai di Jakarta sebesar 96% masuk dalam kategori tercemar berat. Jakarta juga menyandang predikat kota dengan kualitas udara terburuk berdasarkan data air visual 2019.

Selain itu, untuk menjadi standar kota yang benar, penggunaan tabung gas LPG unuk kepentingan dapur harus digantikan dengan jaringan gas dan listrik. Namun jaringan kabel listrik Indonesia masih semrawut harus bisa diselesaikan dengan tekonlogi penyaluran listrik via bawah tanah.

Baca berita selengkapnya Klik Di Sini

Temukan beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, kpr, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com

Hanya rumah.com yang Percaya Anda semua bisa punya rumah


Loading
Artikel Selanjutnya
Sandiaga Nilai Pelayanan Kesehatan Warga Jakarta Masih Memprihatinkan
Artikel Selanjutnya
Cuaca Hari Ini: Akhir Pekan, Jakarta Cerah Seharian