Sukses


Pasar Apartemen Bogor Diprediksi Tumbuh Hingga 2020

Liputan6.com, Jakarta – Pergerakan pasar hunian vertikal kelas menengah di wilayah Bogor dalam satu tahun belakangan ini tumbuh secara perlahan. Fenomena tersebut seiring dengan respon pasar.

Menurut catatan Rumah.com Property Index untuk kuartal pertama (Q3) 2018, median harga properti di kawasan penyangga tersebut berada pada angka Rp16,45 juta per meter persegi. Harga ini mengalami kenaikan sebesar 9,65% dibanding kuartal sebelumnya (qtq).

Secara year-on-year (y-o-y), indeks harga terkini lebih rendah dibandingkan kuartal pertama tahun lalu di mana tercatat berada pada Rp14,62 juta per meter persegi.

Sementara itu Ferry Salanto, Research Director Colliers International Indonesia menyampaikan, pasar apartemen di Bogor sejatinya baru mulai masif setelah tahun 2016. Dimana diperkirakan pangsanya akan terus bertumbuh sampai 2020.

(Jangan dulu beli rumah atau apartemen di pinggir kota tanpa menyimak ulasan wilayahnya di Area Insider Rumah.com!)

"Yang menarik dari Bogor khususnya wilayah kota, infrastruktur terpantau terus berkembang meskipun relatif lambat dibanding wilayah penyangga lain. Sebut saja ada Tol Cijago, BORR, BIRR, Tol Cibubu–Bogor, dan Bocimi. Sehingga Bogor ini akan menjadi hub yang penting," katanya.

Kota Bogor sendiri saat ini memiliki satu juta penduduk dengan pertumbuhannya populasi yang mencapai 2,5% per tahun. Untuk properti di Bogor, saat ini warga asal Jakarta tercatat masih mendominasi.

"Warga Jakarta mengincar Bogor, selain karena suasana wilayahnya yang masih sejuk dan alami, tak dipungkiri juga karena harga apartemen di sini yang masih rendah. Bandingkan dengan Tangerang atau Bekasi. Kami pun demikian, memasarkan Grand Central Bogor dengan harga Rp400 jutaan untuk tipe studio seluas 25m2," ucap Direktur Marketing PT Cowell Development Tbk, Firdaus Fahmi.

2 dari 2 halaman

Rendah Bukan Berarti Tak Bisa Tumbuh

Kendati harga hunian vertikal di Bogor paling rendah dibanding kota penyangga lainnya, akan tetapi bukan berarti tidak bisa mengalami kenaikan yang positif.

"Begitu juga, tidak berarti Bogor tidak cocok bagi apartemen dengan harga-harga yang premium, semua tergantung lokasi. Sekarang ini harga rata-rata apartemen di Bogor sekitar Rp15 juta per m2. Dan kompetisi ini cukup ketat," ucap Ferry.

Jika Anda merupakan pembeli hunian pertama dan masih ragu dengan rumah tinggal incaran Anda, tanyakan apa saja informasi yang dibutuhkan melalui Tanya Agen.

Sementara itu, apartemen Grand Central Bogor yang berlokasi di Jalan Mayor Oking dilepas dengan harga jual Rp16 juta per m2. Hunian vertikal yang dikembangkan oleh PT Mega Graha Citra Perkasa, member of PT Cowell Development Tbk ini sangat mudah diakses dari Stasiun Bogor.

Menara pertama dari apartemen dengan ketinggian 22 lantai ini mulai dipasarkan dengan jumlah unit yang terbatas, hanya 400 unit saja.

"Market untuk properti di Bogor itu sendiri cukup kompleks, mulai dari pekerja yang sehari-hari beraktivitas dengan kendaraan pribadi, pekerja komuter, investor daily rental, orangtua yg ingin anaknya tetap stay di Bogor, maupun karyawan kantor pemerintahan. Kami ingin sasar seluruh kategori tersebut," terang Wahyu Hartanto, Direktur Operasional PT Cowell Development Tbk, 

Ia menambahkan, “Dengan harga yang sangat kompetitif, kami memastikan konsumen bisa meraih keuntungan dari kenaikan harga (capital gain). Selain memungkinkan konsumen mendapat capital gain, passive income dari nilai sewa juga sangat mungkin didapatkan," tukasnya.

Ingin tahu apa yang menjadi kebutuhan konsumen properti saat ini? Temukan jawabannya dalam Riset Konsumen Properti di Rumah.com!

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah


REVIEW PROPERTY

Lihat Semua