Sukses


Meski Lesu, Pengembang Tetap 'Pede' Kejar Target

Liputan6.com, Jakarta – Memasuki kuartal terakhir di tahun 2018, pelaku industri properti terus berharap akan ada perubahan besar yang terjadi. Sayang, kondisi pasar yang masih melambat berdampak cukup dalam pada penjualan proyek.

“Kondisi pasar yang melambat sangat terasa khususnya pada properti harga di atas Rp1 miliar. Pembeli cenderung menunggu sehingga keputusan pembelian jadi lebih lama. Termasuk juga saat memilih waktu pembayaran, konsumen lebih mempertimbangkan tenor panjang,” jelas Hermon Simanjuntak, Marketing & Sales Division Head PT Bakrie Swasakti Utama.

Baca juga: Informasi properti secara komprehensif, mulai dari lokasi properti favorit konsumen, hingga ke harga hunian di Indonesia dalam Rumah.com Property Index!

Ia menambahkan, “Sehingga jika dibandingkan dengan paruh kedua tahun 2017, di paruh pertama 2018 kemarin belum menunjukkan perbedaan signifikan.”

Meski begitu, berbagai pelaku industri tetap meyakini instrumen investasi di sektor riil (properti) masih sangat menjanjikan. Lantaran dibanding negara Asia lainnya, Indonesia masih menjadi negara tertinggal.

(Ingin tahu apa yang menjadi kebutuhan konsumen properti saat ini? Temukan jawabannya dalam Riset Konsumen Properti di Rumah.com!)

Prospek properti sendiri sangat bergantung pada beberapa faktor eksternal terkait, diantaranya pertumbuhan ekonomi, siklus bisnis, suku bunga, rasio Loan to Value (LTV), infrastruktur, demografi (populasi: jumlah dan usia), regulasi pemerintah, dan lokasi.

Menyangkut pertumbuhan ekonomi Indonesia, realisasinya pada tahun ini diperkirakan meleset dari target (5,2%) atau hanya tumbuh 5,05%.

2 dari 2 halaman

Pendekatan Melalui Gimmick

(Untuk kenyamanan dan keamanan dalam membeli apartemen gunakan jasa agen properti dengan spesialisasi apartemen di Rumah.com)

Menyiasati kondisi pasar yang masih lesu, pengembang pun memilih melakukan berbagai siasat agar penjualan tetap terjaga. PT Bakrie Swasakti Utama, misalnya, mengupayakan pendekatan kepada konsumen dengan melancarkan sejumlah gimmick.

“Diskon untuk pembayaran secara tunai keras yang saat ini tengah kami lakukan. Gimmick lain, bayar tunai empat kali langsung serah terima unit, dan gratis biaya membership gym di Elite Club Epicentrum. Dari strategi ini hasilnya lumayan, kami bahkan cukup percaya diri mampu membukukan target penjualan di akhir tahun sebesar Rp360 miliar untuk proyek The Masterpiece dan The Empyreal,” kata Hermon.

The Masterpiece dan The Empyreal merupakan proyek apartemen yang berlokasi di jantung CBD Kuningan. Berdiri di atas lahan seluas 26.7957 m2, unitnya dipasarkan kisaran Rp2,7 miliar sampai Rp8 miliaran.

(Sebelum beli apartemen, pastikan Anda sudah menyimak Review Properti dari Rumah.com)

The Masterpiece menawarkan tipe 2 bedroom (83 m2 dan 105 m2) dan 3 bedroom (147 m2 dan 176 m2), sementara The Empyreal memiliki tipe 1+1 bedroom (66 m2 dan 70 m2), 2 bedroom (86 m2), dan 3 bedroom (127 m2).

“The Masterpiece dan The Empyreal sangat layak dijadikan instrumen investasi, sebab harga sewa untuk unit dengan dua kamar sekitar Rp250 juta per tahun,” tandasnya.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah


REVIEW PROPERTY

Lihat Semua
Artikel Selanjutnya
Sentimen Negatif Bayangi Pasar Apartemen di Jakarta
Artikel Selanjutnya
Pasar Properti Masih Stabil Sampai Akhir 2018