Sukses


Pedagang Pasar Pun Bisa Cicil Rumah

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) terus berupaya melakukan pengembangan kebijakan program bidang pembiayaan perumahan.

Salah satunya terkait Skim Pembiayaan Perumahan, dengan program Tapera alias Tabungan Perumahan Rakyat yang bertujuan untuk membantu pekerja informal memiliki rumah.

Dengan adanya program Tapera, pekerja informal seperti freelancer, pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), hingga tukang bakso dan pedangan pasar sekalipun, akan lebih mudah mengakses pengajuan pembiayaan perumahan.

Baca juga: Rumah.com Property Index untuk mencari tahu tren kenaikan harga properti per kuartal di berbagai lokasi favorit

“Masyarakat yang bekerja di sektor informal memiliki banyak kendala seperti dia tidak mendapat struk gaji, penghasilannya tidak tetap, sehingga tidak ada jaminan. Untuk itu, kami upayakan dengan bentuk skim Tapera," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono.

Tapera merupakan program penyimpanan dana jangka panjang yang dimanfaatkan untuk pembiayaan perumahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Program Tapera ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2019.

Tapera merupakan salah satu program nasional yang diperuntukan seluruh pekerja baik formal maupun informal yang secara sukarela bisa menjadi peserta Program Tapera.

Syarat-syarat menjadi peserta Tapera adalah berpenghasilan minimal harus upah minimal di daerah tersebut. Besaran iuran yaitu 2,5% dari penghasilan pribadi ditambah 0,5% kontribusi dari pemberi tugas pekerjanya. Tetapi jika dia adalah pekerja mandiri maka dipotong langsung 3% per bulan.

Simak juga: Review Properti untuk mengetahui ulasan mendalam tentang hunian incaran Anda

2 dari 2 halaman

Kondisi Pedagang Terkini

Melalui program Pemerintah tersebut, tak menutup kemungkinan akan ada banyak pedagang yang ikut serta. Asalkan, ruang gerak mereka untuk berdagang didukung dengan situasi yang kondusif.

Fakta di lapangan, saat ini perjalanan pedagang kue subuh di Pasar Senen tak selalu senikmat kuenya. Mereka pun mengalami pasang surut, diantaranya disebabkan lokasi di mana mereka berdagang sudah mengalami beberapa kali kebakaran.

Tak cukup sampai di situ, munculnya sentra-sentra kue subuh baru di tempat lain serta area parkir yang tidak memadai juga disebut sebagai kendala.

(Kalau mau beli rumah baru, simulasikan dulu cicilan per bulannnya lewat Kalkulator KPR dari Rumah.com)

"Pertama kebakaran, sehingga para pedagang sering harus berpindah tempat. Lalu ada aksi premanisme, yakni para supir ditagih pungutan liar. Jadi harapan kami punya tempat layak untuk berdagang, terlihat langsung oleh para pembeli dan mudah dikunjungi, tidak kehujanan saat musim hujan, area parkir cukup, aman dari gangguan preman, dan ada media promosi yang baik," ucap Mira, salah seorang pedagang.

Menurut informasi, pasca kebakaran yang terjadi di blok 1-2 tahun lalu, pedagang kini menempati blok 4-5 seluas 1.769m2 untuk berjualan. Hampir setiap malamnya, ada sekitar puluhan truk yang mengantar kue ke Pasar Senen.

Menariknya, sekitar 500-700 pengunjung datang setiap malam dan melakukan transaksi dengan total antara Rp600-800 jutaan. Sebelum kebakaran terjadi, angka transaksi bisa mencapai hampir Rp1 miliar dengan jumlah pengunjung mencapai 1000 orang.

Kilas balik, sejarah kue subuh berawal dari tahun 1988-an diawali oleh Elkana Tju beserta 4 orang rekannya. Kala itu, mereka berdagang kue di area pinggiran Pasar Senen. Hanya dengan menggunakan lima meja, mereka berjualan sejak pukul 02.00 hingga pukul 08.00 pagi.

Dari waktu ke waktu, jumlah pedagang bertambah menjadi 50 meja. Pada tahun 1991, Elkana selaku pelopor kue subuh  memberanikan diri mengajukan izin ke Pengelola Senen Blok 4, untuk menggunakan lahan parkir sebagai area dagang kue subuh.

Setelah resmi menempati area parkir Pasar Senen Blok 4, perkembangan kue subuh semakin luar biasa dari tahun 1991 hingga 1998. Mereka yang datang ke Pasar Senen bukan hanya warga Jakarta saja, melainkan juga dari Bekasi, Bogor, Tangerang bahkan Cilegon.

(Ingin tahu apa yang menjadi kebutuhan konsumen properti saat ini? Temukan jawabannya dalam Riset Konsumen Properti di Rumah.com!)

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah


Loading
Artikel Selanjutnya
Riset Rumah.com: Pasar Properti di 2019 Lebih Positif
Artikel Selanjutnya
Rumah Pertama, Pilih Gaya Modern atau Minimalis?