Sukses


Berapakah Usia yang 'Pas' untuk Beli Rumah?

Liputan6.com, Jakarta - - "Gaya hidup seseorang bisa berubah 180 derajat, ketika Ia sudah melakukan cicilan rumah," begitu ungkapan Lisa, seorang karyawan swasta yang saat ini tengah berjuang melunasi rumah idamannya.

Hal ini pun dibenarkan oleh CEO Mitra Rencana Edukasi sekaligus Perencana Keuangan, Mike Rini Sutikno. 

Ia memaparkan pendapatnya mengenai usia yang pas untuk membeli rumah melalui fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah). (Mau apapun pilihan KPR-nya, simulasikan dulu cicilan rumah per bulannnya lewat Kalkulator KPR dari Rumah.com)

"Usia produktif adalah yang paling ideal. Kenapa? Karena di usia ini, Anda bisa memiliki tabungan jangka panjang yang nantinya akan menghasilkan nilai jual investasi yang lebih tinggi. Ketimbang Anda memulainya di usia yang sudah terlampau matang," tutur dia.

Usia produktif adalah usia dimana seseorang masih memiliki banyak tenaga, mampu bekerja, dan menghasilkan sesuatu. Biasanya usia produktif berada di rentang 20-30 tahun. Hal ini senada, jika Anda mengajukan angsuran KPR kepada bank. Karena bank mematok usia minimum yakni 21 tahun atau sudah menikah.

(Eits, jangan coba-coba beli rumah di pinggir kota tanpa menyimak ulasan wilayahnya di Area Insider Rumah.com!)

Lain halnya jika Anda sudah berusia 40 tahun dan belum memiliki rumah. Kebutuhan yang semakin besar mulai dari biaya sekolah anak, fisik yang melemah sehingga membutuhkan uang untuk pengobatan, hingga biaya tak terduga lainnya seringkali menjadi penyebab sulitnya seseorang mengumpulkan uang.

Namun Mike tetap menegaskan, rumah itu wajib dimiliki baik oleh usia produktif maupun usia matang, laki-laki ataupun perempuan.

"Jadi, saat Anda punya penghasilan pertama, sebaiknya fokuskan bahwa gaji Anda harus ditabung untuk membeli rumah. Jangan boros membeli hal-hal yang bersifat sekunder!," imbuhnya.

 

2 dari 2 halaman

Jangan lebih dari sepertiga gaji

Di usia yang masih muda, penghasilan seseorang biasanya belum memadai untuk melakukan cicilan rumah seharga Rp500 jutaan keatas. Oleh karena itu, pilihlah lokasi hunian yang masih bisa dijangkau dari pusat beraktivitas namun menawarkan harga yang mumpuni.

Mengingat DP rumah yang biasanya akan menguras dana besar, maka mulailah untuk menyisihkan penghasilan ke bentuk investasi emas. "Ambil yang jangka waktu cicilannya panjang, misal 2 atau 3 tahun agar hasilnya cukup untuk DP rumah impian," ungkap dia.

Selain itu, Mike menyarankan agar mencari rumah yang cicilan KPR-nya sesuai dengan kemampuan. "Cari KPR berbunga ringan, dan angsuran per bulannya jangan melampaui batas dari sepertiga gaji Anda," tegas dia.

(Simak Review Properti dari Rumah.com yang disajikan secara obyektif dan transparan, sehingga Anda dapat menilai spesifikasi material hunian, rencana pembangunan infrastruktur di sekitar lokasi, hingga perbandingan harga dengan hunian lain di sekitarnya)

Sebelum membeli rumah, sebaiknya Anda mengetahui harga, jenis, dan tipe rumah yang akan dibeli. Artinya, Anda dituntut untuk membeli rumah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah biaya administrasi.

Jangan sampai Anda menunda biaya pelunasan administrasi KPR yang diajukan dalam waktu lama. Sebab, semakin cepat biaya administrasi dilunasi, maka beban KPR akan semakin ringan.

Jika penghasilan dirasa masih belum mampu untuk membeli rumah di lokasi idaman, maka alternatif lainnya adalah apartemen. Meski luas areanya sangat minimalis, namun unit di apartemen biasanya dibanderol dengan harga yang lebih terjangkau dibanding rumah.

Nah, sambil Anda menghuni apartemen, jangan lupa sisihkan 20% penghasilan per bulan untuk tabungan membeli rumah. Jika Anda konsisten hingga 10 tahun lamanya, maka rumah impian sudah ada di depan mata. Selamat menabung!

(Mau beli rumah? Agar transaksi pembelian rumahnya nyaman sekaligus aman manfaatkan saja jasa agen properti profesional di Rumah.com!)

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah


REVIEW PROPERTY

Lihat Semua
Artikel Selanjutnya
Jangan Sembarangan Pilih Produk KPR
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani Kaji Penghapusan Pajak Properti Mewah