Sukses

KPU Rekomendasikan Nama yang Tak Perlu Diundang pada Debat Kelima

Liputan6.com, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) bakal menindak tegas pendukung paslon yang membuat keributan saat acara debat kelima Pilpres 2019 berlangsung. Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengatakan, komite damai yang bertugas saat debat berlangsung akan mengeluarkan pembuat keributan itu.

"Kami sepakat untuk debat kelima, apabila ada pengunjung yang tidak tertib, mengganggu suasana debat, maka komite damai akan mengeluarkan yang bersangkutan. Siapapun dia," ujar Wahyu usai menghadiri rapat evaluasi debat di kantor KPU, Jakarta Pusat, Senin 1 April 2019.

Tindakan tegas perlu dilakukan KPU, sebab acara debat merupakan hak masyarakat dalam melihat gagasan para kandidat jika memimpin negara dalam lima tahun ke depan. Jika terdapat keributan, lanjut dia, maka masyarakat dirugikan.

KPU sudah mengantongi beberapa nama dari kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Nama-nama itu direkomendasikan agar tidak hadir saat debat kelima yang akan digelar di Hotel Sultan.

"KPU sudah catat dan sudah direkomendasikan ke TKN dan BPN agar pada debat kelima yang bersangkutan tidak diundang," tandas Wahyu.

Seperti diketahui, saat debat keempat berlangsung para hadirin sempat ramai saat Prabowo menyinggung ketahanan dan kemampuan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

2 dari 3 halaman

Gelar Doa Bersama

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan mengatakan, akan ada doa bersama usai perhelatan Debat Kelima Pilpres 2019. Hal itu dilakukan sebagai penutup rangkaian kampanye sekaligus menandai masa tenang sebelum hari pencoblosan pada 17 April.

"Untuk debat kelima, KPU merencanakan akan doa bersama dengan semua agama dan aliran kepercayaan pada Tuhan yang maha kuasa," ujar Wahyu usai menjalani rapat evaluasi debat bersama TKN dan BPN di kantor KPU, Jakarta Pusat, Senin (1/4/2019).

Nantinya, doa bersama usai Debat Kelima Pilpres 2019 ini dipimpin oleh tokoh ulama muslim, diikuti para tokoh agama lain.

Momen itu, kata dia, diharapkan menjadi pesan moral sekaligus kontemplasi atau perenungan bagi seluruh masyarakat bahwa masa kampanye telah berakhir dan saatnya memantapkan pilihan.

"Ini sebagai bentuk pesan moral damai sekaligus menandakan berakhirnya waktu kampanye dan memasuki masa tenang. Sehingga seluruh masyarakat dapat mawas diri. Sehingga dapat gunakan hak pilih sebaik-baiknya," tandas Wahyu.

Reporter: Yunita Amalia

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Menko Luhut Bertemu Dubes China, Bahas Apa?
Artikel Selanjutnya
KPU Akan Gelar Doa Bersama Usai Debat Kelima Pilpres 2019