Sukses

PDIP: Siap Lawan Kotak Kosong, Tak Perlu Calon Boneka di Pilkada Solo

Liputan6.com, Solo - Pilkada Kota Solo akan berlangsung 23 September 2020. Hampir seluruh partai yang mempunyai kursi di DPRD Solo mengindikasikan dukungannya ke bakal calon yang diusung PDIP. Baik Achmad Purnomo maupun putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka.

Dengan dukungan penuh tersebut, sangat dimungkinkan PDIP yang mendominasi kursi dewan bakal melawan kotak kosong. Apalagi calon independen perlu kerja keras memenuhi persyaratan KPU.

Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo menuturkan, partainya siap memenangkan Pilkada Solo 2020. Siapapun calon yang direkomendasikan. Dia mengaku sudah berpengalaman dalam pemilihan wali kota hingga lima kali Pilkada. Dia optimistis pilkada tahun ini bakal kembali menang. Termasuk jika harus melawan kotak kosong.

"Tidak masalah. Lawan kotak kosong ya siap memenangkan, ada calon lain ya siap memenangkan," ujar Rudy, Jumat (14/2/2020).

Menurutnya, jika muncul calon tunggal bisa diartikan secara demokrasi rakyat menghendaki calon tersebut. Apalagi PDIP mendapatkan 30 kursi di DPRD Solo, yang berarti mayoritas. Jika partai lainnya memberikan dukungan, itu berarti Pilkada Solo selesai. Sehingga, tidak perlu ada pihak yang harus membuat calon boneka.

"Kalau partai lain mendukung PDIP, ya sudah Pilkada selesai. Jadi tidak perlu membuat boneka-boneka segala," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Tak Ada yang Berani Lawan PDIP?

Senada, pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto menyampaikan, kemungkinan besar PDIP akan melawan kotak kosong. Pasalnya partai lainnya tidak ada yang berani mengusung calon lainnya.

Menurut dia, jika Purnomo tak mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP kecil kemungkinan dia mau dicalonkan oleh partai lain. Pasalnya selama ini sebagai kader PDIP Purnomo akan tegak lurus dan mengikuti keputusan partai. Kemungkinan menjadi calon wakil wali kota juga kecil, pasalnya dia sudah dua kali merasakan jabatan tersebut.

"Kemungkinan pak Purnomo menjadi wakilnya Gibran sangat kecil. Beliau kan sudah dua kali menjabat, jadi ada rasa tidak nyaman atau jenuh. Faktor umur juga sangat berpengaruh. Beliau sudah 70 tahun, itu sangat berpengaruh pada psikologis beliau," ucapnya.

Terkait lawan kotak kosong, Agus menilai hal tersebut sah sah saja. Hal tersebut juga diatur dalam Undang-Undang. Namun harus diberikan kesempatan calon lain untuk kembali ikut atau mendaftar dalam Pilkada yang ditunda.

Reporter : Arie Sunaryo

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Mendagri Ajak Seluruh Pihak Bangun Skenario Kesuksesan Pilkada
Artikel Selanjutnya
Mendagri Minta Pemerintah Daerah Sigap Hadapi Dampak Virus Corona