Sukses

Serap Aspirasi, Bakal Cagub Sumbar Mulyadi Mulai Blusukan

Liputan6.com, Bandung - Tokoh masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) Simon Tanjung mengungkapkan, bakal cagub Sumbar Mulyadi merupakan sosok peduli dengan persoalan yang ada di masyarakat. Hal itu, kata dia, dibuktikan dengan seringnya dia turun menyapa masyarakat.

"Kalau kami ini senang sama pemimpin yang suka turun ke masyarakat. Artinya beliau memang peduli," tuturnya mengomentari kunjungan Mulyadi ke Kabupaten Pesisir Selatan, Rabu (5/2/2020). 

Sikap ini, sambung Simon, juga mengindikasikan bila Mulyadi memiliki karakter kesederhanaan. Keramahan yang diperlihatkan sosok yang pernah menjadi konsultan bidang lingkungan itu dinilai pula bukan pencitraan semata.

Itulah mengapa Simon berharap supaya provinsinya dinahkodai oleh pemimpin yang memiliki karakter demikian. Sebab, jika pemimpin mau turun dan dekat dengan warganya, ia menilai, di masa mendatang Sumbar berpotensi lebih maju.

Mulyadi menyatakan, dengan blusukan tak hanya dapat mengetahui kondisi langsung masyarakat, tapi di samping itu banyak aspirasi yang bisa terserap untuk diperjuangkan di pemerintah.

"Semakin rutin menemui masyarakat, maka semakin banyak aspirasi yang saya dapat. Jika saya dipercayakan sebagai gubernur periode mendatang, saya bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat dengan membuat kebijakan dan program yang manfaatnya bisa dirasakan bersama," kata Mulyadi.

2 dari 2 halaman

Milik Masyarakat

Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Demokrat, Mulyadi menyatakan siap maju Pilgub Sumbar 2020. Terlebih, adanya dorongan dari masyarakat yang ingin dirinya maju.

Mulyadi menegaskan, pemimpin bukan milik partai politik, tapi milik seluruh masyarakat. Mulyadi menilai, masyarakat Sumbar rindu pemimpin yang pro terhadap seluruh lapisan masyarakat.

Selama menjadi anggota DPR tiga periode di Senayan, Mulyadi banyak melihat ketimpangan yang dilakukan oleh pejabat publik. Seperti halnya memberikan bantuan terhadap golongan tertentu yang merupakan basis pendukung seorang wakil rakyat.

Hal seperti ini, menurutnya, sudah tidak relevan lagi di masa kini. Ia menilai gaya kepemimpinan seperti ini merupakan gaya yang telah ketinggalan zaman.

Apalagi ketika terjebak dalam kesetiaan buta yang hanya mementingkan kepentingan partai sehingga mengesampingkan kepentingan masyarakat banyak. Menepis paradigma kepemimpinan seperti itu, Mulyadi memegang prinsip kesetiaan terhadap negara lebih tinggi daripada kesetiaan terhadap partai.

"Pemimpin adalah milik rakyat bukan milik partai," kata Mulyadi, Minggu (2/2).