Sukses

Kunjungi Koperasi Susu Pangalengan, Ridwan Kamil Tawarkan Strategi Pemasaran

Liputan6.com, Jakarta - Calon Gubernur Jawa barat Ridwan Kamil berkunjung ke Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, saat berkampanye di Kabupaten Bandung. Dalam kunjungannya itu, Ridwan Kamil berdialog dengan jajaran manajemen KPBS dan para peternak sapi perah di Pangalengan.

KPBS Pangalengan merupakan sebuah koperasi yang beranggotakan para peternak sapi perah di Kec. Pangalengan, Kab. Bandung Jawa Barat. Koperasi yang berdiri pada tahun 1969 ini telah meraih beberapa penghargaan, diantaranya, koperasi berprestasi tahun 2007, dan prestasi nasional lainnya seperti penghargaan Koperasi Teladan Nasional (1982, 1984, dan 1985), Koperasi Mandiri (1988), dan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama (1997).

Menurut Manajer Pengolahan Susu KPBS Heri Hidayat, kapasitas mesin terpasang untuk pengolahan susu milik KPBS adalah sebesar 60 ton perhari. Namun saat ini baru mengolah 25 ton perhari.

Hal ini menurut Heri disebabkan oleh semakin bekurangnya pasokan susu yang dikirim peternak, karena harga susu segar yang masij berkisar pada angka Rp 5.000,-/liter.

"Dengan mengolah susu yang dipasok per petani, KPBS bermaksud memberi nilai tambah pada produk susu, sehingga margin keuntungan susu pun bisa naik menjadi 5p%, dibanding dengan hanya menjual susu segar steril yang marginnya hanya 10 persen" ungkap Heri.

Saat ini, produk olahan susu KPBS, dipasarkan di daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Kepada Ridwan Kamil, para pengurus KPBS dan peternak sapi mengharapkan agar Kang Emil, mengawal regulasi terkait stabilitas harga susu, jika ia terpilih sebagai gubernur.

Kang Emil pun berjanji saat terpilih sebagai gubernur, ia akan melakukan inovasi di bidang regulasi agar harga susu peternak bisa lebih tinggi.

"Idealnya harga susu yang diterima peternak adalah sebesar Rp 6-7 ribu perliter. Angka ini dapat meningkatkan kesejahteraan peternak," ungkap dia, Jumat, 18 Mei 2018. 

 

1 dari 2 halaman

Tawarkan Inovasi

Selain itu, Kang Emil juga menawarkan model kerjasama dimana sapi disiapkan oleh perusahaan besar, namun pengelolaannya dilakukan oleh petani dengan skema bagi hasil.

Meski demikian, skema ini harus didasarkan pada skala ekonomi dan dibangun berdasarkan konsep dan sistem pengelolaan yang jelas. "Jika petani dapat mengelola sapi perah hingga 10 ekor per peternak, insya allah ini akan mendatangkan pendapatan ke petani hingga Rp 8 juta perbulan, yang seharusnya bisa membuat peternak susu sejahtera," tegasnya.

Menurut Heri, tiga kecamatan di kabupaten Bandung yaitu Pangalengan, Pacet, dan Kertasari sebenarnya mampu menampung dan mengelola hingga 35 ribu ekor sapi. "Saat ini sapi yang diternak di tiga kecamatan tersebut masih sekitar 11 ribu ekor, jadi peluangnya masih terbuka," pungkasnya.

Artikel Selanjutnya
KPU Garut Mulai Sosialisasikan Pilkada 2018 ke Gereja-gereja
Artikel Selanjutnya
Ridwan Kamil Ingin Generasi Milenial Jabar Bisa Kuasai Teknologi