Sukses

HEADLINE: Pilkada 2018 Dimulai, dari Skandal hingga Cerita Lucu

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki 2018, tensi politik di Tanah Air memanas. Ratusan orang berebut simpati dan dukungan untuk bisa menjadi calon kepala daerah.

Puncaknya pada Rabu, 10 Januari 2018, ratusan pasangan calon kepala daerah berlomba-lomba paling cepat mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).

Aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU), pendaftaran calon kepala daerah hanya berlangsung tiga hari, yakni 8-10 Januari. Telat dari tanggal itu, tidak bisa ikut pilkada. Berdasarkan situs KPU, infopemilu.kpu.go.id, Kamis, 11 Januari 2018, tercatat ada 576 pasangan calon (paslon) yang mendaftar ikut pilkada serentak di 171 daerah tahun ini.

Dari jumlah itu, yang diterima 569 paslon. Terdiri dari 57 pasangan cagub dan cawagub, 376 pasangan bupati dan wakil bupati, dan 136 pasangan wali kota dan wakil wali kota. Hanya satu pasangan cagub dan cawagub yang ditolak dan tiga pasangan calon wali kota dan wakil wali kota.

Panasnya panggung politik di awal tahapan pilkada tahun ini tidak mengherankan. Sebab, sebelumnya terjadi drama-drama politik yang membuat publik tercengang. Di Jawa Timur, calon wakil Gubernur Abdullah Azwar Anas tiba-tiba menyatakan mundur dari kontestasi pilkada.

Padahal, Anas yang berpasangan dengan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul merupakan pasangan yang pertama diumumkan pencalonannya oleh PDI Perjuangan di Pilkada Jatim. Azwar Anas diduga mundur setelah diserang kampanye hitam, dengan beredarnya foto-foto mirip dirinya memegang paha mulus seorang wanita.

Tidak hanya Gus Ipul yang bingung, publik juga penasaran, siapa penggantinya? Tepat di hari terakhir pendaftaran calon kepala daerah, PDIP akhirnya mengumumkan pengganti Anas, yakni Puti Guntur Soekarno.

Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri adalah cucu Presiden Pertama RI Sukarno, yang berarti keponakan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Nama Puti sebelumnya tak pernah disebut sebagai bakal calon kepala atau wakil kepala daerah.

Pasangan Gus Ipul-Puti bertarung di Pilkada Jatim melawan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak. Meski menjadi lawan, kedua pasangan ini terlihat akur saat menjalani pemeriksaan kesehatan psikologi di Graha Amerta RSUD dr Soetomo Surabaya, Kamis pagi, 11 Januari 2018.

"Selamat pagi kawan-kawan wartawan. Matur nuwun, matur nuwun," sapa Emil kepada awak media saat tiba di Graha Amerta RSUD dr Soetomo, pukul 07.00 WIB.

Tak lama muncur Gus Ipul. "Yok opo rek? Wes akeh tah stok fotone? Aman yoo (Bagaimana, stok fotonya sudah banyak belum? Aman ya)," sapa Gus Ipul yang kemudian bersama Puti berhenti sejenak di tangga untuk diambil fotonya oleh awak media.

Kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu tampak berbincang hangat. Keempatnya terlihat berbicara sambil tersenyum lebar. Bahkan, Puti berbicara sambil memegang kedua tangan Khofifah, seolah keduanya sedang tidak bertarung.

Agar bisa melewati tes kesehatan dengan lancar, Khofifah mengaku harus puasa ngopi.

"Tidak ada persiapan khusus, cuma harus puasa 12 jam gitu aja. Aku ini kan tukang ngopi jadi nanti harus disetop jam delapan malam enggak boleh ngopi," tutur Khofifah soal persiapannya.

 

1 dari 3 halaman

Nasib Djarot yang Menegangkan

Kebahagiaan juga tengah dirasakan calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Saat menjalani tes kesehatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Kamis, 11 Januari 2018, Dedi memborong nasi bungkus dan membagi-bagikannya ke pasien dan keluarga pasien di rumah sakit.

"Alhamdulillah langsung habis. Tadi sisa 80 bungkus, biasanya jam 11 siang baru habis. Ini masih pagi sudah enggak ada sisa," ujar Sri Mulyati (40), pedagang nasi uduk di RSHS Bandung.

Tidak hanya bagi-bagi nasi bungkus, Dedi juga membantu seorang pasien yang mengalami kecelakaan kerja. Dia melunasi biaya rumah sakit pasien itu. Aksi Dedi berbagi kebahagiaan ini memang bukan yang pertama. Namun, bisa jadi aksi di rumah sakit itu sebagai bagian dari rasa syukur setelah namanya resmi terdaftar di KPU Jawa Barat sebagai calon wakil gubernur.

Dedi berpasangan dengan Dedi Mizwar di Pilkada Jabar. Keduanya diusung oleh Partai Demokrat dan Partai Golkar. Dedi patut bersyukur setelah sebelumnya mengalami drama di Pilkada Jabar.

Namanya sempat tidak dicalonkan oleh Ketua Umum Golkar sebelumnya, Setya Novanto. Beruntung terjadi pergantian pimpinan di Golkar, sehingga nama Dedi pun kembali masuk bursa Pilkada Jabar. Meski demikian, Dedi yang sempat digadang-gadang menjadi calon gubernur harus puas menjadi cawagub Deddy Mizwar.

Tidak hanya Dedi yang bergembira. Djarot Saiful Hidayat pun tersenyum lebar saat mendaftar ke KPU Sumatera Utara, Kamis kemarin. Setelah sempat terancam tidak bisa maju Pilkada Sumut karena kekurangan dukungan suara, Djarot akhirnya bisa melanggeng ke KPUD setelah pada hari terakhir pendaftaran, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyatakan mendukungnya.

Belakangan PKPI, yang semula mendukung pasangan JR Saragih-Ance Selian, tiba-tiba mengalihkan dukungannya untuk Djarot. Sehingga Djarot yang semula kekurangan suara, malah menjadi kelebihan suara.

Di Pilkada Sumut, bertarung tiga pasangan cagub dan cawagub. Mereka adalah pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah yang diusung Partai Golkar dengan 17 kursi di DPRD Sumut, Gerindra 13 kursi, PKS 9 kursi, PAN 6 kursi, Nasdem 5 kursi, dan Hanura 10 kursi. Total jumlah dukungan yang mereka peroleh mencapai 60 kursi.

Kemudian pasangan JR Saragih-Ance Selian diusung Partai Demokrat dengan 14 kursi, PKPI 3 kursi, dan PKB 3 kursi, sehingga total mendapat dukungan 20 kursi. Namun setelah mendaftar ke KPUD, PKPI mengalihkan dukungan ke pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus yang diusung oleh PDIP dengan 16 kursi dan PPP 4 kursi.

"Sumut bagian dari NKRI. Saya terpanggil untuk bisa membangun dan mengabdi. Jangan sangsi. Ditugaskan di mana saja harus siap. Kita semua bersaudara," ujar Djarot diplomatis saat ada yang menyebutnya bukan putra daerah.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 3 halaman

Pertarungan Rindu dan Asyik

Para calon kepala daerah tidak hanya berjuang memperebutkan dukungan partai politik agar bisa mendaftar ke KPU Daerah. Mereka juga harus berjuang memperebutkan simpati dan dukungan pemilih. Dukungan pemilih ini sangat penting, karena mereka-lah nanti yang menentukan menang tidaknya pasangan calon di pilkada.

Karena itu, sejak tahap pertama pilkada, para calon kepala daerah sudah mempersiapkan langkah dan strategi mumpuni untuk memperebutkan suara pemilih. Selain program dan visi misi, para calon kepala daerah juga berusaha menciptakan jargon dan nama-nama unik untuk menarik pemilih.

Pasangan calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan pasangannya Uu Ruzhanul Ulum, mengusung jargon RINDU yang merupakan gabungan dari nama Ridwan dan Uu. Pasangan yang didukung oleh PPP, PKB, Nasdem, dan Hanura ini membuat nama Rindu agar mudah diingat masyarakat.

"RINDU itu mudah diterjemahkan, seperti RINDU Jabar juara, RINDU Jabar dipimpin inovatif, RINDU Jabar agamis. Semua Jabar RINDU," tutur Ridwan Kamil.

Tak mau kalah, pasangan cagub dan cawagub Jabar lainnya, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, menamakan diri mereka sebagai "Asyik". Pasangan Asyik diusung oleh PKS, Gerindra, dan PAN, serta didukung PBB dan PPP versi Djan Faridz.

Sementara pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi menamai diri mereka duo DM. Ada juga pasangan Brather yang merupakan singkatan nama dari pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Biak Numfor, Frans L. Baransano dan Theresia Lusianak, juga pasangan Mas Bro yang merupakan singkatan dari nama calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Murad Ismail-Barnabas Orno.

Keunikan pilkada serentak tahun ini tidak hanya terlihat dari jargon-jargon yang dibuat paslon.

Kisah pertarungan saudara kandung dan sesama kader partai ikut mewarnai pilkada.

Hal ini terjadi di Sulawesi Selatan. Anggota DPD tiga periode, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, harus menghadapi adiknya Bupati Luwu, Andi Mudzakkar di Pilkada Sulawesi Selatan. Keduanya sama-sama menjadi calon wakil gubernur mendampingi pasangannya masing-masing.

Aziz merupakan cawagub yang mendampingi Nurdin Halid (NH). Adapun sang adik yang akrab disapa Cakka itu berpasangan dengan Ichsan Yasin Limpo. Aziz dan Cakka merupakan putra Kahar Mudzakkar dari ibu yang berbeda. Kahar Mudzakkar dikenal sebagai tokoh pejuang dan mantan pengawal kesayangan Presiden Sukarno. Namun, kemudian Kahar membentuk Tentara Islam Indonesia karena kekecewaannya.

"Apa yang menjadi keprihatinan sekian lama, dan kemudian juga ternyata sama juga dengan pemikiran Pak NH, bahwa bangsa kita ini sudah berada di depan jurang. Baik di bidang politik maupun ekonominya," kata Aziz tentang kesediaannya kembali bertarung di pilgub Sulsel untuk kali ketiga.

Masih di Sulawesi Selatan, dua srikandi cantik Partai Nasdem harus berhadapan di Pilkada Kota Makassar 2018-2023. Mereka adalah Andi Rachmatika Dewi dan Indira Mulyasari Paramastuti yang sama-sama menempati posisi sebagai calon Wakil Wali Kota Makassar.

Indira merupakan Wakil Ketua DPRD Kota Makassar. Dia berpasangan dengan Wali Kota Petahana, Mohammad Romdhan Pomanto alias Danny Pomanto. Sementara Andi Rachmatika Dewi berpasangan dengan pasangan Munafri Arifuddin.

"Saya maju mendampingi Pak Danny Pomanto dari jalur independen. Meski pribadi saya hingga saat ini masih kader tulen Partai Nasdem karena sampai detik ini belum ada surat resmi pemecatan saya dari DPP Nasdem yang telah diajukan oleh DPW Nasdem Sulsel," kata Indira, yang dikenal masyarakat sebagai salah satu srikandi cantik asal Partai Nasdem tersebut, Kamis, 11 Januari 2018.

Ada juga cerita lucu dari Padang. Pasangan suami istri, Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang, Sumatera Barat, Syamsuar Syam-Misliza, mendaftar pilkada lewat jalur perseorangan.

Saat mendaftar pada Rabu, 10 Januari 2018 pukul 22.30, mereka membawa "orang ketiga". Istri kedua Syamsuar, Yuli Farida ada di barisan pendamping.

Melihat berbagai fenomena yang terjadi di tahapan awal pilkada serentak 2018, dosen politik di Universitas Indonesia Sri Budi Eko Wardhani mengatakan, tarik ulur dukungan terjadi karena partai sangat berhati-hati.

Adanya aturan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota, kata Sri, membuat partai harus benar-benar memastikan calon yang diusungnya itu menang dalam pilkada.

"Sejak UU ini berlaku maka partai-partai sangat berhati-hati untuk bisa memastikan kemenangan calonnya itu, sehingga sering terjadi perubahan-perubahan saat last minute," kata Sri saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, 11 Januari 2018.

Sikap partai yang hati-hati ini juga membuat munculnya banyak calon tunggal dan sikap pragmatis partai di pilkada serentak 2018. Di Banten, dari empat pilkada, tiga di antaranya diikuti oleh calon tunggal.

"Daripada mengusung pasangan yang belum tentu menang, partai berpikir yang jelas saja," ujar Sri.

Koalisi ketat partai politik yang terjadi saat pemilihan presiden 2014 dan Pilkada DKI 2017 lalu pun tidak terjadi pada pilkada tahun ini. PDIP bersama Gerindra, PKS, dan Demokrat di beberapa daerah berkoalisi mengusung paslon yang sama. Padahal saat pilpres dan Pilkada DKI, PDIP berseteru dengan Gerindra, PKS, dan Demokrat.

"Koalisinya cair dan sangat tergantung dengan keadaan lokal," kata Direktur Eksekutif di Saiful Mujani Research & Cunsulting (SMRC), Djayadi Hanan, kepada Liputan6.com, Kamis.

Dari 576 paslon yang bertarung di pilkada 2018, Djayadi menyebut yang paling berpeluang memenangkan pertarungan adalah incumbent yang benar-benar kuat, seperti cagub Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan cagub Maluku Said Assagaff.

 

Artikel Selanjutnya
Pilkada Jateng 2018 Terkesan Sunyi, Tren Partisipasi Pemilih Menurun
Artikel Selanjutnya
KPU Sumsel Mulai Cetak Surat Suara Pilkada 2018