Sukses

Sentilan Pantun Jenaka Butet Kartaredjasa untuk Paslon 1 dan 3

Liputan6.com, Jakarta - Budayawan Butet Kartaredjasa membacakan sebuah pantun jenaka berisi dukungan terhadap pasangan Cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut tiga Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat.

Namun, aktor teater itu juga menyematkan sentilan jenaka tentang pasangan calon nomor satu dan tiga yang berbau politik uang di dalamnya.

"Jangan tanya jenis-jenis ikan kepada ku, bertanyalah yang pantas memimpin ibukota. Jika kalian dibayar untuk milih nomor tiga dan nomor satu, jangan ragu. Terima uangnya, tapi tetap nyoblos nomor dua," ucap Butet di panggung Konser Gue 2 di Ex Driving Range Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 Februari 2017.

Membacakan pantun di sela-sela penampilan grup band Slank, Butet juga sempat menyindir kasus dugaan korupsi yang sempat terjadi di tubuh Mahkamah Konstitusi (MK).

"Paling enak jadi hakim konstitusi, tertangkap korupsi ngakunya dizolimi," kata Butet yang disambut tawa massa yang hadir.

Berikut isi pantun lengkap yang dibacakan Butet dalam acara Konser Gue 2:

Jaka sembung makan mangga gadung, waspadalah kalau jakarta mendung. Karena bingung otak gak nyambung, berfantasilah Jakarta jadi kota terapung.

Menguras banjir janganlah memakai panci, mengurus banjir janganlah memakai fantasi. Yang lain masih berjanji, Ahok-Djarot sudah berikan bukti.

Prajurit mengundurkan diri namanya desersi, harusnya didenda karena diongkosi negara. Dilengser jadi menteri banting stir ngejar ambisi, jadi kutu loncat tak apa, asalkan bisa berkuasa.

Paling enak jadi hakim konstitusi, tertangkap korupsi ngakunya dizolimi. Ahok dipersoalkan karena nonpribumi, padahal dia paling oke jadi Gubernur DKI.

Ikan lele, ikan teri, ikan paus dan ikan anu. Semua enak digoreng tapi satunya disunat dulu. Jangan milih gubernur memble dan belagu, ahok djarot gubernur pilihanku.

Jangan tanya jenis-jenis ikan kepada ku, bertanyalah yang pantas memimpin ibukota. Jika kalian dibayar untuk milih nomor tiga dan nomor satu, jangan ragu, terima uangnya tapi tetap nyoblos nomor dua.

Jalan kaki Yogya-Jakarta kurang kerjaan namanya, lebih baik naik kereta dijamin aman dan nyaman. Meski selalu dijegal, dikerjain dengan berbagai cara, ingatlah pasangan Basuki-Djarot menang satu putaran.

Masinis nyopiri kereta, eh ada ayah nyopirin anaknya. Hati-hati kalau bicara, salah-salah kata dituduh penistaan. Jika ingin bahagia dan korupsi sirna dari Jakarta, pasangan Basuki-Djarot menjamin semakin aman.

Ngakunya bersih, suci, tapi hobinya baca novel stensilan. Hati-hati kalau berjalan, bisa kepeleset lendir di mana-mana. Kalau rakyat ingin pelayanan tanpa sogokan, pasangan Ahok dan Djarot sudah membuktikan.

Kapal keruk taline kenceng, jangan ngamuk jika tak seneng. Kapal keruk taline rafia, jangan lupa pilih nomor dua.

Loading