Sukses

Drama Heboh Pilkada DKI Era Jokowi-Ahok dan Ahok-Djarot

Liputan6.com, Jakarta Bakal calon gubernur dan wakil gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat telah mendaftar ke KPU DKI Jakarta. Ahok semringah karena diantar langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat mendaftar ke KPUD.

Pasalnya, sebelum Selasa 20 September 2016 malam, Ahok gundah menunggu kepastian Megawati. Akankan memilihnya menjadi calon gubernur DKI Jakarta atau tidak. Mantan Bupati Belitung Timur itu tetap berharap dukungan dari PDIP , meski sudah mendapat dukungan dari 3 partai politik lain.

Drama politik jelang pendaftaran Pilkada DKI ini seperti mengulang peristiwa 2012 lalu. Kala itu yang menjadi bintang adalah Ahok. Drama-drama ini tercipta karena PDIP yang suka bermain teka-teki di menit terakhir. Baik saat pilkada 2012 maupun pilkada saat ini, Megawati lah sang juru kunci penetapan calon gubernur dan wakil gubernur.

Berikut beberapa kisah jelang pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur di era Jokowi-Ahok dan Ahok-Djarot.

2 dari 4 halaman

Sang Bintang

Jokowi-Ahok

Bintang drama politik saat Pilkada DKI Jakarta 2012 saat itu adalah Ahok. Pada 19 Maret 2012, Ahok tiba-tiba dibawa Partai Gerindra mendatangi markas PDIP. Padahal ketika itu pria kelahiran Belitung tersebut masih menjabat sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Golkar. Saat itu publik belum mengenal sosok Ahok.

Di tengah riuhnya simpatisan bakal cagub dan cawagub PDIP, beberapa petinggi Partai Gerindra yang dipimpin oleh Mohamad Taufik, mendatangi kantor PDIP yang terletak di Tebet, Jakarta Selatan.

"Yang jelas kami datang ke sini bawa Ahok," ujar Taufik di tengah para simpatisan PDIP.

Taufik mengaku datang membawa pesan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, yang menginginkan agar Ahok disandingkan dengan Jokowi, yang saat itu masih menjabat Wali Kota Solo. Menurut dia, Ahok sangat siap untuk dicalonkan sebagai cawagub. Jabatan Ahok sebagai anggota Komisi II DPR dan anggota Partai Golkar pun siap dilepas.

"Kalau PDIP menerima dia sebagai cawagub dampingi Jokowi, hari ini dia akan mengundurkan diri," Taufik meyakinkan.

 

Pasangan Pemimpin DKI Jakarta Jokowi dan Ahok

 
Kendati belum dipastikan sebagai calon resmi PDIP, namun keputusan untuk mengusung Jokowi sudah disetujui Megawati Soekarnoputri. Meski masih ada beberapa petinggi di partai itu yang menginginkan nama lain seperti Adang Ruchiyatna dan Boy Sadikin.

Untuk posisi bakal cawagub, selain Ahok, ada nama aktor senior Deddy Mizwar. Bahkan, Deddy menyatakan kesiapannya bila dicalonkan.

Di kantor PDIP, Ahok dan rombongan Partai Gerindra melakukan rapat tertutup. Hadir pula Jokowi yang saat itu datang telat, karena blusukan ke Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan.

Sementara, saat rapat berlangsung, suasana di depan markas PDIP tampak semakin ramai. Para simpatisan dan kader tampak bersiap menunggu siapa calon gubernur yang akan diusung dan siap untuk di antar mendaftarkan diri ke KPU DKI Jakarta.

Beberapa jam usai rapat, petinggi dari dua partai, PDIP dan Gerindra keluar dan menggelar konferensi pers.

Dari pihak Gerindra ada Sekjen DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani dan M Taufik. Sedangkan dari pihak PDIP di antaranya ada Tjahjo Kumolo, Djarot Saiful Hidayat yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPD PDIP DKI Jakarta dan Boy Sadikin.

Tampak pula sosok yang di tunggu-tunggu, Jokowi dan Ahok, yang keluar dari ruang rapat.

"Jadi saya sudah resmi ditunjuk PDIP maju sebagai cagub dan sore ini saya akan mendaftar ke KPU DKI Jakarta bersama pasangan saya, Basuki Tjahaja Purnama," tutur Jokowi.

Jokowi saat itu tak banyak mengumbar janji. Ia hanya meyakinkan dapat bekerjasama dengan Ahok dalam membenahi Ibu Kota.

"Ya kami intinya visinya sama yakni menangani masalah yang ada di Jakarta," ucap dia.

Tjahjo Kumolo, Sekjen PDIP saat itu mengatakan, pasangan Jokowi-Ahok sebenarnya baru diresmikan di menit akhir jelang rapat konsolidasi antara PDIP dan Gerindra.

"Dikawinkan jam 2 siang, tadi baru diputuskan bersama," kata Tjahjo.

Sementara, Ahok yang saat itu masih berstatus politikus Golkar mengaku telah mengundurkan diri dari Partai berlambang beringin detik itu juga. Ahok juga mengaku telah mengundurkan diri dari Komisi II DPR RI.

"Di komisi II tidak ajukan izin, tapi ajukan pengunduran diri. Mulai hari ini saya sudah pegang kartu anggota Partai Gerindra," ujar Ahok.

Ahok-Djarot

Drama jelang pengumuman calon gubernur DKI kembali terulang Selasa 20 September 2016 malam. Bintangnya lagi-lagi Ahok.

Malam itu calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta akan diumumkan oleh PDIP. Sore harinya, Ahok diundang makan malam oleh Megawati. Namun saat keluar dari kediaman Mega di Teuku Umar, wajah Ahok tak semringah. Tanpa senyuman. Bahkan dia buru-buru kembali ke Balai Kota.

 

PDI Perjuangan resmi dukung Ahok dan Djarot untuk Pilkada DKI Jakarta

 
Di Balai Kota Ahok mengatakan, akan kembali ke DPP PDIP jika ditelepon oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Setelah 30 menit berada di Balai Kota, Ahok keluar dan mengaku akan pulang ke rumahnya di Jakarta Utara.

Dengan pernyataan Ahok tersebut, publik mengira Ahok tidak mendapat dukungan dari PDIP. Sebab jauh sebelum Selasa malam itu, banyak kader PDIP yang menolak Ahok. Partai berlambang banteng moncong putih itu gerah dengan sikap Ahok yang cenderung meremehkan PDIP. Hingga terciptalah yel-yel 'Ahok pasti tumbang' yang menggema di kantor DPD PDIP DKI Jakarta.

Ahok mengaku, hingga meninggalkan Balai Kota pukul 19.57 WIB, dirinya belum mendapat telepon dari calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengenai keputusan PDIP.

"Dia (Djarot) cuma bilang nanti kalau jadi, ditelepon dateng. Saya juga bingung ke mana. Datang ke ruangan Pak Djarot, enggak ada dia," ucap Ahok.

Nyatanya, di detik terakhir Ahok datang ke kantor DPP PDIP. Di sanalah Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengumumkan calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung PDIP adalah Ahok-Djarot.

3 dari 4 halaman

Baju Kotak-Kotak

Jokowi-Ahok

Saat menjelang pengumuman calon gubernur dan wakil gubernur, Jokowi dan Ahok keluar dari ruang rapat dengan mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang berwarna dasar merah. Keduanya kompak mengenakan kemeja tersebut dengan menggulung lengannya.

Kemeja itu lah, yang kelak menjadi atribut dan pakaian resmi keduanya di Pilkada DKI. Kostum perpaduan warna merah, biru, dan putih ini tidak asal pilih, ada makna tersendiri yang ingin mereka sampaikan kepada warga Jakarta.

 

Ahok dan Jokowi dalam kemeja kotak-kotak yang sama beberapa waktu yang lalu. Sumber : jakartakita.com


Saat itu Jokowi mengatakan, ia selalu menggulung lengan baju kotak-kotak yang ia kenakan karena ingin menunjukkan bahwa pemimpin harus siap bekerja.

"Kami memilih kemeja ini bukan tanpa alasan. Ini ada artinya. Intinya adalah kami akan kerja untuk rakyat dan turun terus ke lapangan. Jakarta butuh cagub-wagub yang tidak hanya duduk di belakang meja," kata Ahok ketika itu.

Soal tiga warna yang terdapat dalam baju tersebut, Ahok mengatakan, hal itu memiliki makna bahwa warga Jakarta beraneka ragam, baik dari suku, etnis, maupun agama, dan tetap hidup berdampingan dengan damai.

Ahok-Djarot

Baju kotak-kotak juga dikenakan Ahok-Djarot saat mendaftar ke KPU DKI pada Rabu 21 September 2016. Ahok punya alasan sendiri mengapa dia menggunakan baju kotak-kotak.

"Kita akan meneruskan Pak Jokowi," ujar Ahok.

 

Ahok dan Djarot kompak menggunakan baju kotak-kotak biru, putih, merah.


Baju kotak-kotak yang dipakai Jokowi-Ahok dan Ahok-Djarot tak sama. Saat masa Jokowi, baju kotak-kotanya dominan berwarna merah dengan motif kotak kecil-kecil.

Sementara yang dikenakan Ahok-Djarot dominan berwarna biru, dengan motif kotak-kotak lebih besar dan garis merah yang tegas.

4 dari 4 halaman

Kopada dan Mobil Mega

Jokowi-Ahok

Setelah resmi memegang surat dukungan Gerindra dan PDIP, Jokowi dan Ahok bertolak menuju ke Kantor KPU DKI, di Jalan Budi kemuliaan dengan menumpang transportasi umum Kopaja.

Sejak berangkat dari Gedung DPD PDIP, keduanya dikawal ratusan simpatisan PDIP dan Partai Gerindra dengan mengendarai motor, mobil, dan angkutan umum yang telah disewa.

"Ini bukan cari sensasi. Saya hanya ingin membuktikan apakah Kopaja masih layak dipakai atau tidak. Ternyata sudah saatnya diganti," kata Jokowi ketika itu.

Ada dua Kopaja yang ditumpangi rombongan. Pertama, Kopaja 612 jurusan Kampung Melayu-Ragunan bernomor polisi B 7216 EL, yang diisi Jokowi dan Ahok juga pengurus PDIP lainnya. Lalu Kopaja 612 lain yang diisi Boy Sadikin dan Ribka Tjiptaning.

 

Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat kepada Ahok usai acara pelantikan Gubernur di Istana Negara, Rabu (19/11/2014). (Liputan6.com/Faizal Fanani)



Sekitar pukul 17.00 WIB, rombongan tiba di depan Gedung Bank Indonesia. Jokowi dan rombongannya turun dari Kopaja. Mereka lantas berjalan kaki menuju kantor KPUD.  Di sepanjang jalan, mereka dielu-elukan oleh simpatisannya.

"Jokowi siapa yang punya, yang punya kita semua," teriak para simpatisan.

Tak hanya itu, mereka juga membawa berbagai poster. Antara lain bertuliskan 'Jokowi Harapan Masyarakat Jakarta' dan 'Macet Jakarta, Jokowi Solusinya'.

Setelah mendaftarkan diri di Kantor KPUD, Jokowi dan Ahok kemudian pulang dengan berjalan  ke arah Bundaran Hotel Indonesia. Puluhan simpatisannya pun ikut berjalan di belakang Wali Kota Solo itu. Keduanya tampak berjalan menyusuri trotoar sepanjang Jalan MH Thamrin.

"Ini menunjukkan pentingnya trotoar bagi pejalan kaki," kata Jokowi yang berjalan berdampingan dengan Ahok.

Ahok-Djarot

Berbeda di era Jokowi, Ahok berencana mendaftar ke KPU DKI dengan menggunakan bus. Usai makan siang, Ahok-Djarot naik bus ke DPP PDIP untuk menjemput Megawati.

Meninggalkan Kantor DPP PDIP pukul 13.05 WIB, Ahok-Djarot batal menggunakan bus, melainkan mobil Mega berpelat B 2100 BS.

 

Ahok dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berada di dalam satu mobil saat menuju ke KPU (Liputan6.com/ Delvira Chaerani Hutabarat)

 
Ahok duduk di samping Mega di bagian tengah, Djarot di depan di samping sopir. Ahok dan Djarot mengenakan kemeja yang sama.

Hujan deras mengiringi rombongan Ahok-Djarot saat tiba di KPU DKI Jakarta untuk mendaftar menjadi cagub dan cawagub.