Sukses

Empu Djeno dan Keris Bertuah

Liputan6.com, Sleman: Sulit mencari empu keris di zaman sekarang. Begitu juga dengan keris yang indah serta bertuah. Maklum, pembuat keris klasik nyaris punah. Adalah Ki Empu Djeno Harumbrodjo yang bertahan dan bisa dibilang satu-satunya empu di Tanah Jawa.

Kini, pria yang menurut silsilah adalah keturunan ke-15 Empu Supa pada zaman Kerajaan Majapahit (abad XIII) hanya mengukir dan mengisi keris. Sedangkan proses menempa dan menghasilkan keris diberikan pada putranya. Sebab, nyaris seluruh keahlian empu yang yang tinggal di desa Gatak, Sleman Yogyakarta (15 km barat Yogya) itu, telah diwariskan pada putranya, Sungkowo.

Keris bagi masyarakat Jawa tak sekadar alat perang. Sebilah keris menjadi ekspresi dari makna-makna keindahan sebuah karya seni. Keris juga memiliki makna tersendiri bagi kehidupan orang Jawa. Dahulu, hidup lelaki Jawa dianggap sempurna jika memiliki sebilah keris yang sesuai dengan kedudukannya di masyarakat.

Keindahan keris terletak pada pamor atau guratan ornamen keperakan yang ada di bilahnya. Dalam khasanah keris terdapat ratusan bentuk pamor yang masing-masing memiliki nama tersendiri. Sekar Glagah, Beras Wutah, Ron Genduru atau Blarak Sineret adalah sebagian kecil nama pamor itu.

Sedangkan keris dibuat dari besi, nikel, dan baja. Tak jarang pembuat keris menggunakan meteorit yang mengandung unsur titanium. Nilai keris semakin tinggi dan ada "isi"-nya jika dihasilkan dengan kemampuan batin.

Sebilah keris awalnya hanyalah berupa potongan besi dan nikel yang disatukan melalui proses pembakaran dan penempaan. Besi dibakar membara dan memanjang. Hingga ukuran tertentu, besi panas itu dilipat menjadi dua. Selanjutnya ditempa kembali. Proses yang sama dikerjakan berulang hingga mencapai jumlah lipatan yang diinginkan. Semuanya tergantung model atau tangguh, sebutan yang lazim dikenal.

Untuk memperoleh tangguh Blambangan, diperlukan sekitar 16 lipatan. Sedangkan tangguh Mataram membutuhkan 256 lipatan. Tangguh Sendang Sedayu harus terdiri dari 4.096 lipatan. Setelah mencapai jumlah yang diinginkan, besi tempaan itu disisipkan sebilah baja sebagai penguat.

Membuat keris klasik memang lama dan harus konsentrasi penuh sambil melakukan puasa penuh. Untuk memproduksi keris seperti itu bisa memakan arang kayu jati sekitar 50 karung, besi 12 kg, setengah kilogram baja, dan 100 gram pamor. Setelah menjadi keris, beratnya hanya sekitar satu kilogram karena menyusut akibat pemanasan dan penempaan tadi.

Selanjutnya, lempengan dibentuk sesuai keris yang diinginkan. Pada dasarnya, keris memiliki bentuk lurus atau berkelok yang dikenal dengan istilah keris Luk. Empu Djeno kerap turun tangan pada tahap pengikiran untuk mendapatkan guratan-guratan besi nikel bakal pamor. Sebab, untuk itu diperlukan kejelian. Jika tak hati-hati, pamor akan hilang terkikis.

Keindahan keris akan kentara setelah dibasuh larutan arsenikum yang dicampur jeruk nipis. Guratan-guratan pamor kian jelas. Dengan demikian, sebuah keris telah lahir. Memang, membuat keris seperti itu memakan waktu yang tak singkat. Dalam setahun, Ki Empu Djeno bisa menghasilkan dua keris.

Puluhan keris bertuah telah dihasilkan oleh Empu Djeno. Hasil karyanya tersebar di seluruh penjuru dunia. Tak sedikit wisatawan mancanegara mengagumi hasil buah tangannya. Sebilah keris bisa bernilai hingga puluhan juta rupiah. Tapi, untuk memilikinya ada syarat-syarat tertentu. Ada keris untuk petani, orang muda, kerabat raja , dan raja. Menurut Empu Djeno hanya raja yang bisa memiliki semua keris.

Kini, Empu Djeno menginjak umur 74 tahun. Tapi, putra bungsu yang mewarisi keahlian sang ayah Empu Supowinangun itu tetap menekuni profesi itu. Dia bertekad terus bergelut untuk melestarikan budaya yang tak ternilai itu. Umurnya Empu Djeno telah senja namun hasil ciptaannya tak akan terkikis oleh cakrawala zaman.(TNA/Tim Potret)