Sukses

Pengurus Partai Golkar 2004-2009 Terbentuk

Liputan6.com, Jakarta: Ketua Umum DPP Partai Golkar terpilih Jusuf Kalla telah menyusun anggota kepengurusan partai periode 2004-2009, Ahad (19/12). Ada yang menarik dari susunan kepengurusan Partai Beringin pimpinan Jusuf Kalla. Sejumlah nama tokoh partai yang pernah dipecat semasa kepimpinan Akbar Tandjung, kini ikut duduk dalam kepengurusan baru itu. Di antaranya, Fahmi Idris, Edison Betaubun, dan Burhanuddin Napitupulu. Sedangkan Wiranto, Marwah Daud Ibrahim, dan Slamet Effendy Yusuf tak tergabung dalam kepengurusan baru itu [baca: Kalla Memimpin Golkar].

Seperti sudah diperkirakan, sejumlah nama yang selama ini setia mendampingi Jusuf Kalla masuk dalam kepengurusan tersebut. Misalnya, Surya Paloh menjabat ketua dewan penasihat dan Agung Laksono mengisi posisi wakil ketua umum. Sedangkan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Aburizal Bakrie, dan Fahmi Idris berada dalam dewan penasihat.

Selain para pendukung Jusuf Kalla, kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Beringin kali ini mengikutsertakan nama-nama yang selama ini dikenal sebagai "orang-orangnya" Akbar Tandjung. Sebut saja, Syamsul Muarif, Theo L. Sambuaga, dan M. Yahya Zaini. Kendati begitu, susunan kepengurusan yang baru ini masih mewarisi pola kepemimpinan sebelumnya, yakni menempatkan purnawiran TNI. Satu di antaranya Letnan Jenderal (Pur) Soemarsono yang kini menjabat sebagai sekretaris jenderal DPP Partai Golkar.

Kepengurusan baru ini sejatinya menggambarkan adanya kombinasi pendukung Kalla dan Akbar Tandjung. Menanggapi adanya loyalis Akbar yang duduk di kepengurusan Kalla, mantan Ketua DPR memahaminya sebagai bagian dari politik. Kendati begitu, Akbar merasa selama Munas VII berlangsung, dirinya dikeroyok para rivalnya. Pasalnya, tokoh-tokoh itu bersemangat merebut posisi pimpinan justru ketika partai dalam keadaan mapan. Padahal, mereka juga yang beramai-ramai meninggalkan Golkar saat partai itu dihujat saat reformasi, 1998. Tokoh-tokoh yang dimaksud di antaranya Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Agung Laksono, dan Ginandjar Kartasasmita. "Sepertinya saya diserang dari delapan penjuru angin," ujar Akbar.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)