Sukses

Menduga Penyebab Kecelakaan Pesawat Lion Air

Liputan6.com, Solo: Hujan lebat mengguyur Solo, Jawa Tengah, Selasa petang silam. Di langit, sesekali kilat. Langit yang gelap, terang jadinya. Kebetulan, Abdul Basyir, anggota reserse Kepolisian Resor Solo, melintas di sekitar Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo. Jalanan sepi. Tak satu pun kendaraan yang melintas di jalan. Namun, sekonyong-konyong, dari atas terdengar deru mesin pesawat memekakkan telinga. Sebuah pesawat sipil terbang rendah dari arah berlawanan. "Tak biasanya pesawat terbang serendah itu," kata Basyir di Solo, Rabu (1/12).

Belum sempat berpikir jauh, suara keras terdengar. Spontan, Basyir berbalik arah dan bergegas mendekati sumber suara. Kemudian, dia melihat pesawat jenis MD-82 tersungkur di dekat pemakaman warga. Bagian depan pesawat hancur. Lambung pesawat juga rusak berat. Bau avtur (bahan bakar pesawat) menusuk hidung. Sementara mesin pesawat masih menderu.

Sesaat, Basyir ragu mendekat. Takut pesawat milik maskapai Lion Air itu tiba-tiba meledak. Namun, keraguan disingkirkan setelah mendengar teriakan minta tolong dan tangisan anak kecil penumpang pesawat. Beberapa di antara korban mengerang kesakitan karena tergencet puing pesawat. Basyir langsung mengevakuasi penumpang sebisanya untuk menjauhkan korban dari badan pesawat sambil menghubungi Markas Polres Solo untuk meminta bantuan.

Informasi yang dirangkum SCTV, 31 dari 163 penumpang pesawat dikabarkan tewas. Delapan belas lainnya belum diketahui keberadaannya. Namun, data jumlah korban meninggal itu masih simpang-siur--ada yang menyebutkan korban tewas 26 orang.

Di antara korban tewas adalah Ketua Komisi VII DPR Yusuf Muhammad, Kapten Pilot Dwi Mawastoro, dan Abdul Syukur Wahid. Syukur berangkat ke Solo untuk menghadiri Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama di Boyolali, Jateng. Sebagian penumpang Lion Air memang nahdiyin yang hendak menghadiri muktamar.

Korban luka berat yang mencapai puluhan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sedangkan penumpang yang mengalami luka ringan memenuhi bandara. Situasi bandara langsung hiruk pikuk, penuh kepanikan. Seorang ibu memeluk erat anaknya yang kedinginan. Sementara yang lain duduk terdiam di lantai dengan tatapan kosong.

Suasana rumah sakit tak kalah kalut. Tubuh-tubuh tak bernyawa terpaksa dijejerkan di lorong rumah sakit karena kamar mayat tak mampu menampung. Tangisan histeris terdengar di beberapa sudut. Mereka adalah keluarga korban yang datang memastikan jenazah adalah anggota keluarga atau kerabat. Korban tewas dan luka berat umumnya penumpang yang duduk di bagian depan pesawat. Bahkan, pilot Dwi Mawastro terlempar beberapa meter dari kokpit sebelum akhirnya tertindih sayap pesawat.

Cuaca buruk diduga sebagai faktor utama penyebab kecelakaan. Selain landasan pacu yang licin, Manajer Hubungan Masyarakat Lion Air Hasyim Arsal Alhabsi mengatakan, tailwind--angin yang mendorong pesawat--bisa jadi menyulitkan pilot menghentikan pesawat. "Dan yang memperparah keadaan tersebut adalah adanya tanggul, yang berada sekitar 100 meter dari runaway. Tanggul ini yang ditabrak oleh ujung moncong pesawat," kata Hasyim saat jumpa pers di Kantor Lion Air Jakarta, tadi siang [baca: Lion Air Membantah Menyalahi Prosedur Penerbangan].

Senada dengan Hasyim, pilot pesawat F-28 dari maskapai penerbangan Merpati Kapten Junaidi mengatakan, cuaca buruk mungkin menjadi penyebab utama. Menurut mantan instruktur Sekolah Penerbangan Curug ini, pilot biasanya beralih ke pangkalan alternatif jika tidak yakin landasan yang dituju cukup aman untuk mendarat. Bila landasan tak terlihat, misalnya, penerbang harus meninggalkan landasan untuk menuju pangkalan terdekat. Rupanya, Dwi Mawastro memutuskan mendarat karena yakin aman. "Jadi nggak bisa disalahkan karena dianggap telah cukup untuk membawa pesawat mendarat dengan aman," kata bekas penerbang pesawat Hercules TNI Angkatan Udara itu.

Junaidi menjelaskan, sebelum mendarat, petugas di bandara memberikan berbagai informasi, termasuk cuaca dan keadaan landasan. Petugas bandara juga memberikan berbagai saran. Tapi, keputusan mendarat atau tidak tetap berada pada pilot.

Berdasarkan kesaksian beberapa penumpang yang selamat, pesawat sempat mendarat tapi terasa pesawat terangkat lagi sebelum akhirnya terjerembab. Mengenai hal itu, Junaidi mengatakan, ada dua kemungkinan. Pertama, pesawat bisa jadi mengalami ballooning atau mengambang kembali. Hal ini biasanya terjadi karena pendaratan terlalu keras atau laju pesawat masih terlalu cepat. Kedua, karena si pilot merasa keadaan tidak aman dan berusaha untuk take off kembali. "Menurut saya, dua kemungkinan itu mungkin-mungkin saja," kata Junaidi.

Dalam keadaan hujan, pendaratan tak perlu halus. Bahkan, dianjurkan mendarat lebih kasar supaya memecah lapisan air di landasan pacu. Dengan demikian fungsi rem, antislip atau antiskid, dan rem udara bisa berfungsi dengan baik.

Soal kondisi mesin masih hidup setelah kecelakaan, Junaidi menyimpulkan, pilot berusaha keras untuk menghentikan pesawat. Mesin tetap dihidupkan untuk mengaktifkan reverse thrust atau daya dorong balik saat mengerem. "Atau mungkin si pilot sendiri sudah pada kondisi yang lebih parah lagi, dalam artian mungkin kepala pesawat sudah pecah," papar Junaidi.

Beberapa penumpang kecewa karena pilot tak memberitahukan kondisi darurat lebih awal. Awak pesawat seolah menutup-nutupi keadaan penerbangan saat mendekati bandara. Namun, menurut Junaidi, dalam dunia penerbangan, kondisi darurat dibagi dua: terantisipasi (prepared) dan tak terantisipasi (unprepared). Junaidi mencontohkan, jika mesin pesawat mati di udara, awak pesawat bisa memberitahukannya kepada penumpang. Dalam kasus ini, Junaidi menduga, keadaan saat itu tak terantisipasi. Sebab, kecelakaan terjadi beberapa saat setelah mendarat. "Jadi wajar saja kalau si pilot tidak memberi tahu kepada penumpang," ujar Junaidi.

Penyelidikan mengenai penyebab kecelakaan masih berlangsung. Salah satu petunjuk kunci adalah informasi dari kotak hitam pesawat yang sudah ditemukan tadi siang [baca: Kotak Hitam Pesawat Lion Air Ditemukan]. Kotak hitam tersebut kemudian dibawa oleh tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) ke pos koordinasi Bandara bagian Emergency Operations Center atau Pusat Operasi Darurat untuk diteliti. Meski demikian, Departemen Perhubungan menyatakan akan mengevaluasi kelayakan seluruh armada yang dioperasikan semua penerbangan di Indonesia [baca: Menhub Berjanji Mempercepat Investigasi Kecelakaan Lion Air].

Evaluasi juga dilakukan pada seluruh bandara yang digunakan untuk penerbangan komersial. Menteri Perhubungan Hatta Rajasa menduga, kondisi landasan yang tidak terawat ikut berperan dalam kecelakaan pesawat kemarin. Tapi, menurut Junaidi, faktor ini tidak terlalu besar karena semua landasan bandara di Tanah Air cukup baik dan terawat. "Kemungkinan landasan tidak terawat itu kecil sekali," kata Junaidi.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)
    Loading