Sukses

Belasan Orang Tewas Akibat Gempa di Nabire

Liputan6.com, Nabire: Sedikitnya 13 warga tewas tertimpa puing-puing bangunan saat gempa tektonik berkekuatan 6,4 skala Richter mengguncang Nabire, Papua, Jumat (26/11) siang. Gempa juga mengakibatkan sejumlah rumah warga dan bangunan bertingkat seperti Gedung Indosat serta gereja roboh. Selain itu, saluran komunikasi terputus dan Bandar Udara Nabire rusak sehingga jalur penerbangan dari dan ke Nabire terganggu.

Kantor Berita Antara melaporkan, belasan korban meninggal itu seluruhnya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Nabire di Kampung Sriwini. Sedangkan seluruh aktivitas penduduk setempat praktis lumpuh. Sementara menurut petugas Badan Meteorologi dan Geofisika Jayapura, guncangan terjadi sekitar pukul 11.25 WIT. Pusat gempa berada di 17 kilometer arah Selatan Nabire (bukan tujuh kilometer seperti ditulis sebelumnya--Red.) [baca: Nabire Digoyang Gempa].

Kondisi Kota Nabire juga dilaporkan Wakil Kepala Kepolisian Resor Nabire Komisaris Polisi Wempy Batlayery. Saat bertelewicara dengan reporter SCTV Bayu Sutiyono, Wempy menjelaskan, gempa telah menghancurkan sekitar 150 rumah, dua masjid, dan tiga gereja. Untuk bangunan sekolah, gempa telah merusak satu gedung sekolah dasar, tiga sekolah menengah pertama, dan dua sekolah menengah umum. Komunikasi dan penerangan umum Kota Nabire mati. Saat ini, jaringan komunikasi yang bisa dipergunakan adalah telekomunikasi nirkabel Satelindo.

Lebih jauh Wempy mengungkapkan, evakuasi para korban berjalan tanpa hambatan. Sebagian korban masih berada di rumah sakit dan sebagian lainnya sudah dibawa pihak keluarga. Sedangkan jasad bayi dan anak-anak kecil telah dimakamkan. Warga saat ini tidak ada yang berani tinggal di dalam rumah karena takut gempa susulan. Mereka memilih untuk mendirikan tenda di halaman rumah masing-masing.

Menurut Wempy, gempa kali ini lebih besar dibanding gempa pada Februari silam. Guncangan gempa kali juga terasa lebih lama. Selain itu, bencana kali ini diikuti kebakaran yang meluluhlantakkan 28 rumah penduduk.

Seperti diketahui, Februari silam, Nabire juga diguncang gempa berkekuatan 6,9 skala Richter yang berpusat di tujuh kilometer sebelah Timur Nabire. Bencana itu menyebabkan 30 orang tewas dan lebih dari 100 warga Kota Nabire luka-luka. Guncangan juga merusak sebagian besar infrastruktur kota mulai dari jalan, rumah-rumah warga, dan bangunan lain. Jusuf Kalla yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat menetapkan gempa Nabire tersebut sebagai bencana nasional [baca: Korban Tewas di Nabire Bertambah].
Para korban yang tewas adalah Yorce Rumarupen, 37 tahun, Herlina Batang, 40, Obet Alxander, 18, Haji Muin, 70, dan Hasnah Umur, 60. Multi, 24 tahun, Thamrin, 30, Suriadi, 20. Di antara korban tewas ada juga bayi di bawah lima tahun. Mereka adalah Maria Wadiata, 5 tahun, Sindi dan Silaradi Setiawan yang sama berumur 2 tahun, Manimbo, lima bulan, dan Andy Ardiansyah, dua bulan.(TOZ/Ruba`i Kadir)