Sukses

Penembakan Pendeta di Palu Masih Diselidiki

Liputan6.com, Palu: Penyelidikan kasus penembakan di Gereja Efata, Jalan Banteng, Kelurahan Tatura, Palu, Sulawesi Tengah, menemui kemajuan. Tim Penyidik Kepolisian Resor Kota Palu menemukan sembilan butir selongsong dan lima butir peluru di tempat kejadian perkara (TKP) pada Senin (19/7). Jajaran Kepolisian Daerah Sulawesi yang membantu Tim Penyidik Polresta Palu masih mengidentifikasi jejak sepatu para tersangka yang ditemukan di halaman gereja.

Kasus penembakan yang menewaskan pendeta Susianti Tinulela ditanggapi serius Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar yang berangkat ke Palu, tadi siang [baca: Kapolri Terbang ke Palu]. Usai melihat TKP, Kapolri membesuk korban luka di Rumah Sakit Budi Agung dan melayat ke rumah Susianti di Jalan Lembu. Waktu pemakaman jenazah Susianti yang berencana akan menikah September mendatang, masih dibicarakan keluarga korban.

Kapolri kepada wartawan mengaku belum mengetahui motif kejadian tersebut. Dia menduga penembakan jemaah di Gereja Efata bernuansa kriminal. Namun Kapolri tidak menutup kemungkinan bahwa kejadian kemarin, terkait peristiwa sebelumnya seperti penembakan Jaksa Ferry Silalahi [baca: Pelaku Utama Pembunuhan Ferry Silalahi Belum Tertangkap]. "Kami meneliti apakah ada kesamaan dengan peristiwa sebelumnya," ujar Da`i. Kapolri berjanji akan membekuk para tersangka yang identitasnya mulai terbuka berkat keterangan saksi mata.

Sementara Ketua Majelis Persekutuan Gereja Indonesia Nathan Setiabudi mengutuk tindakan penembakan yang melukai empat jemaah. Nathan juga menyayangkan pengamanan yang dilakukan aparat. "Elemen jahat di negeri ini tidak kunjung terjangkau oleh aparat hukum dan intelijennya," kata Nathan. Selain aparat hukum, dia juga menyalahkan "aparat politik" yang menyebabkan kasus itu terjadi. Karena itulah, Nathan menuntut rasa aman dan keadilan masyarakat lebih diprioritaskan. Bagi umat kristiani diminta tenang dan tidak terprovokasi.

Sejauh ini, situasi Kota Palu berjalan normal. Namun penjagaan keamanan semakin ditingkatkan terutama di sejumlah tempat peribadatan. Hingga kini, Gereja Efata masih menjadi pusat perhatian warga Kota Palu. Warga nampak berkerumun di sekitar lokasi kejadian sepanjang hari ini untuk menonton proses pemeriksaan.

Bagi keluarga korban, penyerangan kelompok bersenjata api menyisakan trauma. Lustiani, salah seorang korban luka mengatakan, bunyi letusan mirip suara petasan. Dia dan jemaah lain yang tengah berdoa kaget lantaran pendeta Susianti roboh setelah rentetan bunyi itu. Lustiani dirawat di rumah sakit karena terserempet peluru. "Saya duduk di [kursi] belakang," kisah dia. Suasana, lanjut Lustiani, langsung kacau balau. Para penembak kabur menggunakan sepeda motor Yamaha RX King dan sebuah sepeda motor jenis bebek.

Theo Sulistiono yang juga berada di lokasi penembakan mengatakan hal senada. Namun, ia mengaku tidak melihat langsung jumlah para penembak karena panik berusaha menyelamatkan anaknya. "Saya hanya liat yang satu itu [penembak]," kata Theo. Theo juga mendengar tiga kali letusan saat kejadian. Dia menyangka para pelaku mempunyai gangguan jiwa karena berani menembak ratusan orang yang tengah melakukan kebaktian.

Lustiani, Theo, dan keluarga Susianti berharap Polri mengusut tuntas kasus tersebut. "Jangan mengorbankan masyarakat kecil Pak, kita tidak butuh jabatan," ujar salah seorang anggota keluarga korban kepada Kapolri. Mereka juga mempertanyakan kelambanan polisi dalam mengusut kasus jaksa Ferry.(YAN/Zainuddin)