Sukses

Kain Gringsing Bali Aga Diminati Kolektor Dunia

Liputan6.com, Jakarta: Keindahan karya seni para pengrajin Pulau Dewata tidak diragukan lagi. Salah satunya adalah Kain Gringsing, kain tenun ikat ganda yang sangat unik dalam motif dan warna. Dengan sekilas pandang, kualitas kain yang dibuat dengan tangan itu jelas terlihat. Kain ini diburu para kolektor dunia namun kurang dikenal oleh masyarakat Tanah Air. Untuk memperkenalkan kepada masyarakat, Kain Gringsing dipamerkan di Borneo Gallery, Jalan Kemang Utara Raya 58B, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Kain Gringsing adalah satu-satunya tenun ikat ganda yang dibuat di Indonesia. Kain yang dipergunakan untuk upacara-upacara keagamaan ini melambangkan kesucian dan dipercaya dapat menolak bala. Harga sehelai kain tersebut berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 20 juta.

Proses pembuatan sehelai kain ikat ganda bisa memakan waktu antara lima hingga 10 tahun. Penenun biasanya memintal sendiri kapas yang akan dijadikan kain. Untuk pewarnaan, mereka menggunakan pewarna dari rumput atau kayu. Warna merah, misalnya, berasal dari akar sunti Nusa Penida. Sedangkan warna kuning berasal dari minyak kemiri.

Agar warna bisa merasuk ke dalam serat-serat benang melalui proses yang panjang. Warna kuning muncul setelah diproses 37 hari sementara warna merah perlu diproses tiga hari. Keseluruhan pemrosesan--mulai dari mencuci, jemur, dan menyimpan-- membutuhkan waktu tiga bulan.

Kain Gringsing dibuat para penenun Bali Aga, masyarakat tertua yang tinggal di Desa Tenganan, Karangasem. Tenganan memang kalah pamor dengan Ubud, Kuta, atau Sanur. Tetapi desa yang berpedoman pada awig-awig atau peraturan adat desa itu mempunyai kain Gringsing yang banyak diminati terutama motif Wayang Kebo, Wayang Putri, atau Cempaka.

Selain Kain Geringsing, Indonesia memiliki kain lain yang diincar wisatawan [baca: Kain Tenun Bima yang Kian Diminati]. Masyarakat Kabupaten Bima di ujung timur Provinsi Nusatenggara Barat ternyata memiliki hasil kerajinan berupa kain tenun berbagai corak. Selembar kain tenunan Bima berukuran 4 meter X 60 sentimeter dijual dengan harga Rp 85 ribu hingga Rp 500 ribu.(YAN/Esther Mulyanie dan Agus Ginanjar)