Sukses

Ulfa-Eko Sampai Tua di &quotSahur Kita"

Liputan6.com, Jakarta: "Sahur Kita nyem... nyem... nyem!" Demikian sapa pelawak Ulfa Dwiyanti dan Eko Patrio kepada penelepon yang mencoba keberuntungannya mengikuti kuis di acara "Sahur Kita" di SCTV, saban hari di Bulan Suci Ramadan. Sebelum menjawab pertanyaan, Eko dan Ulfa hampir selalu menggoda kepada setiap penelepon. Lantas, tawa pun menyemarakkan suasana. Dan, ritual makan sahur menjadi ceria.

Tahun ini adalah tahun kelima Ulfa-Eko menemani umat Islam di Tanah Air melaksanakan sahur. "Kata orang SCTV sih, ini sudah tahun kelima. Kita pikir ini baru tahun keempat," kata Ulfa, saat berdialog dengan reporter SCTV Bayu Sutiyono dan Eva Yunizar di Jakarta, Ahad (9/11) pagi. Bersama Ulfa, hadir pula Eko.

Memang, menurut Eko, tak menyangka mereka sudah selama itu memandu Sahur Kita. Maklum, lanjut dia, SCTV memanjakan dengan berbagai fasilitas. "Sampe Ulfa dikasih kamar khusus," ujar Eko. Kedua pelawak itu juga mengaku tak bosan setiap tahun nongol di acara yang sama. Itu lantaran tim kreatif yang selalu membuat konsep baru untuk Sahur Kita.

Tahun ini, Sahur Kita melakukan beberapa perubahan format panggung dan menghadirkan bintang-bintang tamu. Sebut saja komedian Jaja Miharja, Jody, sampai Peggy Melati Sukma. Sahur Kita juga menggelar acara off-air, seperti program "Patrol"--lomba kreatif membangunkan warga untuk sahur.

Selama Ramadan, Ulfa-Eko harus datang ke Studio SCTV di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, setiap pukul 01.00 WIB. Padahal Sahur Kita baru dimulai satu setengah jam kemudian. Waktu itu dipakai kedua artis dan seluruh kru menyiapkan acara, mulai dari merias wajah hingga mendiskusikan format Sahur Kita pagi itu.

Dasar pelawak, ada saja tingkah laku Eko-Ulfa selama mempersiapkan diri. Saat Eko memilih baju, misalnya. Melihat kamera SCTV menyorot, Eko berlagak menjadi tersangka pelaku kriminal yang digerebek polisi, persis seperti adegan penangkapan di tayangan berita kriminal Buser. Melihat sepintas tingkah laku itu, Ulfa-Eko seolah tak pernah lelah. Padahal, Sahur Kita bukanlah satu-satunya program yang harus mereka jalani.

Rahasianya, menurut Ulfa, memanfaatkan waktu di sela-sela kegiatan untuk tidur. Karena itu, mereka bersyukur dikarunai kemudahan dalam masalah memejamkan mata. Ulfa lantas mencontohkan ketika dirinya dirias. Selama wajahnya "digarap", Ulfa bisa memanfaatkannya untuk tidur. Sampai selesai di-make-up, Ulfa masih saja terlelap tidur. "Kuncinya satu, kita doyan molor," ujar Ulfa.

Kekompakan Ulfa-Eko memang tak bisa disangkal lagi telah menjadi kekuatan dari bertahannya program Sahur Kita. Padahal, menurut Eko, di awal kemunculannya Sahur Kita tak pelak menuai kritikan pedas dari berbagai pihak. Saat itu, format Sahur Kita yang dipenuhi dengan banyolan-banyolan Eko plus Ulfa dinilai tak pantas dalam sebuah acara bernapaskan religius. "Di tahun pertama, kita malah mendapat hujatan," tutur Eko.

Tapi lihatlah sekarang, hampir semua stasiun televisi mengemas acara pengantar santap sahur dalam bentuk komedi. Karena itu, pantaslah Eko berbangga hati menjadi pelopor acara lawak dalam program sejenis. "Dalam bahasa susahnya, kita ini pioneer dari plagiator-plagiator lain," ucap Eko, bangga. Ketika ditanya sampai kapan mereka bersedia menjadi presenter Sahur Kita. Keduanya menjawab serentak, "Sampai tua!"(ZAQ)