Sukses

Saparan Bekakak, Persembahan untuk Lelembut

Liputan6.com, Sleman: Derap langkah pasukan marching band bregodo atau satu kompi prajurit Surowito terdengar serempak. Mereka mengawal arakan tiga buah joli berisi sesaji dan dua pasang boneka pengantin. Keramaian ini berlangsung di pinggiran selatan Yogyakarta, tepatnya Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, pada suatu petang bulan Safar atau pertengahan April 2003. Inilah awal sebuah prosesi ritual unik di sana.

Bagi warga Desa Ambarketawang, upacara tersebut bukanlah sembarang ritual. Namun, acara yang dinamakan Saparan Bekakak ini adalah sebuah ritual yang digelar sebagai wujud penghormatan pada leluhur sekaligus memohon perlindungan pada sang penguasa jagat. Tradisi tersebut diambil dari kata saat berlangsungnya ritual yakni bulan Safar dan Bekakak adalah sebutan untuk sepasang pengantin boneka yang terbuat dari tepung beras dan ketan. Sedangkan puncak ritual Saparan Bekakak adalah menyembelih sepasang boneka pengantin.

Sejatinya, ritual Saparan Bekakak telah digelar hampir seusia Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun, ritual ini bukan tradisi yang dirintis satu di antara penerus Kerajaan Mataram Islam tersebut. Melainkan masyarakat biasa yang berprofesi sebagai penggali batu kapur. Konon, 250 tahun yang lampau, Desa Ambarketawang adalah sebuah wilayah perbukitan gamping atau batu kapur. Seluruh warga desa menjalani kehidupan sebagai penggali batu kapur yang saat itu digunakan untuk membangun Keraton Yogyakarta. Namun, usaha penggalian batu kapur ini kerap menelan banyak korban jiwa. Di antaranya adalah sepasang suami istri yang juga abdi dalem keraton. Sang suami bernama Wirosuto.

Lantaran banyak korban yang berjatuhan, Sri Sultan Hamengku Buwono I yang memerintah saat itu mencari petunjuk untuk menyelesaikan musibah ini. Sultan pun bertapa di kawasan Gunung Gamping. Ternyata dalam pertapaannya, Sang Sultan mendapat wisik atau petunjuk dari para setan Bekasakan. Dalam wisik tersebut, penunggu tempat itu meminta sepasang pengantin dikorbankan setiap tahunnya demi kelancaran dan keselamatan kegiatan penggalian batu gamping. Namun Sultan berpikiran lain, wisik itu lantas ditanggapi melalui sebuah tipu muslihat. Yakni, dengan membuat sesaji berbentuk bekakak atau boneka pengantin untuk kemudian dikorbankan. Ternyata, tipuan itu berhasil. Nah, sejak itulah tradisi Saparan Bekakak menjadi sebuah rutinitas tahunan yang dilaksanakan di Desa Ambarketawang.

Kini, kondisi desa tersebut memang telah jauh berbeda. Gunung kapur tak lagi terlihat, kecuali sebuah bukit kapur berukuran kecil yang tetap dipertahankan sebagai monumen. Kendati demikian, tradisi penyembelihan bekakak tetap dilanjutkan oleh warga setempat yang tentu saja tak lagi berprofesi sebagai penggali batu kapur. Kendati begitu, sejumlah warga masih meyakini bahwa penyembelihan sepasang boneka pengantin akan membuat mereka terhindar dari gangguan para setan bekasakan.

Prosesi tradisi itu sendiri diawali dengan pengambilan air suci Tirto Donojati. Air suci beserta tiga buah joli berisi sesaji, dua patung genderuwo, dan dua pasang boneka pengantin kemudian dibawa beriringan menyisir pelosok desa menuju balai pertemuan. Di tempat inilah, berbagai perlengkapan upacara akan disemayamkan selama semalam. Seluruh perlengkapan upacara itu akan melengkapi puncak prosesi penyembelihan sepasang pengantin bekakak pada esok hari.

Sedangkan kesibukan persiapan ritual dan pembuatan berbagai sesaji sebenarnya telah dimulai dua hari sebelumnya di rumah Kepala Dukuh Ambarketawang. Selama dua hari, warga membuat kue Bekakak dari tepung beras dan ketan dengan kerangka bambu yang di dalamnya diiisi sirup gula kelapa. Bekakak yang dibuat untuk puncak upacara berjumlah dua pasang. Nantinya, sepasang di antaranya akan disembelih di bekas Gunung Ambarketawang. Sisanya akan disembelih bekas Gunung Gamping.

Setelah sempat disemayamkan selama semalam, akhirnya acara puncak Saparan Bekakak dimulai. Para panewu, demang, dan petinggi desa pun telah berkumpul di atas panggung acara. Prosesi dibuka dengan sebuah arak-arakan yang dipimpin para petinggi desa yang diikuti dua bregodo pasukan Wirosuto mengiringi di belakang untuk mengawal sepasang pengantin bekakak yang ditandu di atas joli. Di sisi lain, pasukan gendruwo dan setan-setan bekasakan, simbol jagat lelembut yang kerap meminta tumbal menari bergembira bersama korban yang akan disembelih. Semua arakan ini berangkat menuju dua tempat yang akan menjadi altar penyembelihan sang bekakak. Setelah menyusuri jalan desa, arak-arakan tiba di bekas Gunung Ambarketawang.

Di sebuah altar, sepasang pengantin diturunkan. Di hadapan ribuan penonton, seorang petinggi desa yang bertugas sebagai algojo mulai menyembelih sepasang boneka pengantin tersebut. Tak lama berselang, prosesi yang sama dilaksanakan di altar kedua yang terletak di Gunung Gamping. Darah dari sirup gula kelapa mengucur dari leher sang pengantin bekakak. Darah yang membasahi bumi untuk dipersembahkan kepada para penguasa jagat lelembut di Desa Ambarketawang. Akhirnya, prosesi pun ditutup saat seluruh bagian tubuh disebarkan pada ribuan penonton yang menanti berkah. Seluruh tahapan prosesi Saparan Bekakak telah dilaksanakan. Warga percaya, para makhluk halus telah terpuaskan, agar tak lagi mengganggu kehidupan.(ORS/Tim Potret)
    Loading