Sukses

Cuaca Hari Ini Sabtu 10 Juni 2023: Jakarta Bakal Cerah dan Cerah Berawan hingga Malam Nanti

Liputan6.com, Jakarta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan langit cerah hingga cerah berawan terjadi disetiap sudut wilayah DKI Jakarta, Sabtu (10/7/2023). Tak hanya pagi hari, cuaca cerah tersebut diiprediksi berlangsung hingga malam nanti. 

Tak ada hujan maupun cuaca mendung yang bakal menyelimuti Ibu Kota seharian penuh di akhir pekan ini. 

Begitu pun untuk daerah penyangga Jakarta. Langit cerah berawan menaungi wilayah Depok, Bekasi serta Bogor pagi hari, sedangkan Tangerang diperkirakan berawan. 

Cuaca cerah tersebut terjadi hingga siang nanti, namun Kota Bogor dilaporkan turun hujan intensitas ringan. Bahkan berpotensi dibarengi petir dan angin kencang hingga malam hari. 

"Waspada potensi hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dengan skala lokal pada waktu siang hingga malam hari di sebagian wilayah Kab dan Kota Bogor," jelas BMKG diperingatan dini cuac, Sabtu. 

 Berikut informasi prakiraan cuaca hari ini, Sabtu untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG:

 Kota  Pagi   Siang  Malam 
 Jakarta Barat  Cerah  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Jakarta Pusat  Cerah  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Jakarta Selatan  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Jakarta Timur  Cerah  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Jakarta Utara  Cerah  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Kepulauan Seribu  Cerah  Cerah Berawan  Cerah
 Bekasi  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
Depok Cerah Berawan Cerah Berawan Hujan Ringan
Bogor  Cerah Berawan  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Tangerang  Berawan  Cerah Berawan  Berawan

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini

2 dari 3 halaman

Cuaca Panas Sampai Kapan Terjadi di Indonesia? Ini Penjelasan BMKG

Cuaca panas dan gerah di Indonesia masih terasa saat ini. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan ada sejumlah faktor penyebab yang membuat suhu panas dan terasa gerah di Indonesia. Lalu hingga kapan cuaca panas ini berlangsung?

Kepala Pusat Layanan Iklim Terapan BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan Indonesia merupakan negara tropis dan temperature di kisaran 30-an derajat Celsius.  Saat ini ada perubahan siklus tahunan, menurut Ardhasena hal itu terjadi lantaran gerak semu matahari dari utara ke selatan. Hal tersebut membuat temperatur naik pada April dan Mei, kemudian kembali terjadi pada September, Oktober.

"Dampak di Indonesia temperatur naik, (terasa gerah-red), kenaikan (temperature) 1-2 derajat Celcius. Ini berbeda kenaikan (kalau gelombang panas-red), kalau di Indonesia hanya 1-2 derajat Celsius,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (28/4/2023).

Selain gerak semu matahari yang akibatkan temperature naik, Ardhasena menuturkan, Indonesia juga terjadi pancaroba yakni transisi musim hujan ke musim kemarau. Hal itu membuat atmosfer lembap. Kondisi seperti itu, menurut Ardhasena menyebabkan ketidaknyamanan karena gerah atau sumuk.

“Kelembapan bertemu kenaikan temperatur karena gerak semu matahari. Dua penyebab (cuaca panas dan terasa gerah-red). Setelah Mei (temperature-red) turun, karena masuk musim kemarau. Musim kemarau temperatur sedikit turun tapi masih di kisaran 30 derajat Celsius,” kata dia.

Ia menuturkan, cuaca panas dan terasa gerah sehingga membuat tidak nyaman karena temperatur yang naik dan kelembapan masih tinggi. Namun, menurut Ardhasena kisaran suhu masih di kisaran 34-36 derajat Celsius. Saat musim kemarau, temperatur akan turun tetapi lebih kering. Oleh karena itu,  cuaca panas dan terasa gerah ini akan berakhir memasuki musim kemarau.

3 dari 3 halaman

Musim Kemarau di Indonesia Bakal Bervariasi

Ardhasena menuturkan, musim kemarau di Indonesia akan bervariasi. “Secara umum akhir Mei-September. Wilayah Riau, Timur Aceh dan Sumatra Utara sudah masuk musim kemarau sejak Februari. Di Jakarta awal musim kemarau pada awal Juni di Jakarta Utara, dan daerah sekitar selatan pada pertengahan Juni, dan Banten Mei. Indonesia ini beragam,” ujar dia.

Ardhasena menambahkan, selain faktor alam yang sebabkan cuaca panas dan gerah, faktor lainnya yang turut berkontribusi yakni perubahan iklim. “Temperatur ada kenaikan 0,1-0,2 derajat Celsius per 10 tahun. Itu kontribusi kecil, tapi tren jangka panjang,” kata dia.

Ardhana mengatakan, masyarakat di perkotaan juga merasakan suhu panas lantaran daerah perkotaan yang banyak bangunan beton. Ardhasena menuturkan, beton menjadi salah satu penyimpan panas yang baik. “Lingkungan perkotaan terasa lebih panas karena beton yang serap panas,” tutur dia.

Selain itu, pemakaian AC juga turut berpengaruh. “Gedung-gedung pakai AC untuk mendinginkan ruangan tetapi memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar ruangan. Ada energi yang dipindahkan,” kata dia.

Ardhasena juga mengingatkan, masyarakat tak perlu panik dengan kabar gelombang panas yang terjadi di Asia. Indonesia tidak alami gelombang panas.

Meski demikian, ia mengimbau masyarakat untuk memakai alat perlindungan ketika aktivitas di luar rumah dengan memakai topi, payung, dan tabir surya.

Sedangkan Indonesia yang akan memasuki musim kemarau, Ardhasena mengimbau masyarakat untuk menampung air hujan terutama yang punya lahan dan tidak langganan PAM.

"Harus bersiap mitigasi musim kemarau," kata dia.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini