Sukses

Pakar: Polisi Meyakini Ada Keterlibatan Pihak Lain dalam Kasus Brigadir J

Liputan6.com, Jakarta Bareskrim Polri menjerat Bharada E atau Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu sebagai tersangka kasus dugaan tewasnya Brigadir J atau Brigadir Nopryansyah Yosua Hutabarat di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo. Bharada E dijerat dengan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan 56 KUHP.

Ahli Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakir menyebut dengan penerapan Pasal 55 dan Pasal 56 terhadap Bharada E, artinya polisi meyakini Bharada E bukan pelaku tunggal.

"Dia tersangka dengan Pasal 55, ini sayapnya akan ke mana? Pasal 55 itu kan harus ada partnernya, pelaku lain, bisa satu, dua, tiga, empat, bisa banyak lah. Nah pertanyaannya adalah pasal ini mau dihubungkan ke mana? Karena dalam pasal ini ada namanya pelaku penganjur, pelaku turut serta, ada pelaku satu lagi namanya menyuruh melakukan," kata Mudzakir kepada Liputan6.com dikutip Sabtu (6/8/2022).

Diketahui, Pasal 338 KUHP berbunyi, 'Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.'

Sedangkan Pasal 55 KUHP ayat (1) menyatakan, 'Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:1. mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan,2. mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.'

Sementara Pasal 55 KUHP ayat (2) berbunyi, 'Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya.'

Bunyi Pasal 56 KUHP sendiri, yakni 'Dipidana sebagai pembantu kejahatan:1. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan,2. mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau ke- terangan untuk melakukan kejahatan.'

Menurut Mudzakir, polisi harus menjelaskan kepada masyarakat maksud dari penyematan Pasal 55 dan Pasal 56 terhadap Bharada E.

"Jadi kalau itu disuruh, pertanyannya siapa yang menyuruh, kalau itu dianjurkan, siapa yang menganjurkan, yang menganjurkan dengan yang menyuruh ini beda, dia aktor intelektual, ini otaknya, itu yg namanya menganjurkan, nah pertanyaanya ini si E ini dianjurkan oleh siapa? Atau apakah dia sebagai pelaku penganjur, pelaku turut serta, atau pelaku yang menyuruh melakukan atau justru dia eksekutor lapangan, ini yang belum jelas," kata dia.

"Penyidik harus mengungkapkan itu supaya jelas, kalau tidak, saya takutnya ada proses-proses yang justru prosesnya tidak ke atas, justru malah ke bawah," dia menambahkan.

Senada dengan Mudzakir, Pakar hukum pidana Universitas Parahyangan Agustinus Pohan menyebut, dengan pasal yang disematkan kepada Bharada E mempelihatkan keyakinan Polri adanya keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut.

"Jadi polisi berkeyakinan adanya pihak yang turut serta atau menggerakan, dan juga ada pihak yang membantu," ujar Agustinus Pohan dalam keterangannya, Sabtu (6/8/2022).

2 dari 3 halaman

Kuasa Hukum Brigadir J: Tak Ada Baku Tembak, Pelaku Pembunuhan Bukan Bharada E

Kuasa Hukum Keluarga Brigadir J, Kamarudin Simanjuntak menyampaikan bahwa pihaknya yakin tidak ada baku tembak dalam kasus kematian Brigadir J di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. Dia turut menyatakan pelaku yang menewaskan Brigadir J bukan Bharada E.

"Tidak ada baku tembak, ini murni pembunuhan berencana," tutur Kamarudin kepada Liputan6.com, Sabtu (6/8/2022).

Kembali Kamarudin menyatakan bahwa Brigadir J mengalami penyiksaan sebelum tewas dihujani timah panas. Terlebih, dia menyebut bahwa pelakunya bukan Bharada E.

"Pelakunya bukan Barada E," kata Kamarudin.

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik mengatakan, tidak ada saksi yang menyaksikan insiden Brigadir J melakukan adu tembak dengan Bharada E di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.

Menurut Ahmad Taufan Damanik, keterangan adanya adu tembak yang terjadi terhadap dua polisi tersebut, hanya keluar dari keterangan Bharada E yang saat ini menjadi tersangka pembunuhan Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

"Ini kan baru keterangan Bharada E sendirian yang kemduian diperkuat oleh keterangan ajudan Ferdy Sambo Riki yang juga berada di lantai bawah, tetapi Riki sebenarnya tidak melihat langsung tembak-menembak itu. Dia katanya melihat Yoshua mengacungkan senjata, kemudian ketika ada suara tembakan dia sembunyi, jadi dia enggak tahu sebenarnya lawan tembaknya Yoshua itu siapa, menurut kesaksian dia," ujar Ahmad Taufan Damanik di Komnas HAM, Jumat (5/8/2022).

Ahmad Taufan Damanik mengatakan, Riki, salah satu ajudan Ferdy Sambo itu tidak menyaksikan adanya baku tembak antara Brigadir J dan Bharada E. Menurut Ahmad Taufan Damanik, Riki baru keluar saat suara letupan tembakan mereda.

"Setelah kemudian suara tembakan berhenti, baru dia keluar, dia melihat Yoshua sudah terlungkup, kemudian dia lihat Bharada E turun dari tangga," kata Ahmad Taufan Damanik.

Ahmad Taufan Damanik juga menyebut banyak keterangan berbeda yang didapatkan Komnas HAM saat awal penyelidikan hingga sekarang. Salah satu keterangan yang dia temukan berubah yakni terkait penodongan senjata oleh Brigadir J.

Menurut Ahmad Taufan Damanik, problematika dalam penyelidikan kasus ini yakni lantaran pihaknya hanya baru mendapatkan keterangan dari Bharada E yang mengaku mendengar teriakan dari istri Irjen Ferdy Sambo.

"'Tolong Richard', nama panggilannya kan Richard, namanya Richard Eliezer, jadi bukan Bharada E lebih tepat Bharada R. 'Tolong Richard, tolong Riki', karena ada Riki satu lagi itu, kemudian Richard ini turun ke bawah, dia ketemu dengan Yoshua," ujar Ahmad Taufan Damanik.

"Jadi keterangan bahwa selama ini ada keterangan bahwa Yoshua sedang menodongkan senjata, dalam keterangan mereka, ini enggak ada peristiwa itu, makanya banyak sekali yang tidak klop antara keterangan yang disampaikan di awal dengan yang sudah kami telusuri," dia menambahkan.

3 dari 3 halaman

Tak Yakin Ada Pelecehan Seksual

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengungkapkan, pihaknya belum meyakini adanya pelecehan seksual yang dialami Putri Candrawathi, istri dari Irjen Ferdy Sambo. Pasalnya, dia menyebut tak menemukan bukti adanya penodongan pistol oleh Brigadir J terhadap Bharada E.

Adapun baku tembak antara Bharada E dengan Brigadir J alias Nofriansyah Yoshua Hutabarat ditengarai karena adanya dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir Yoshua terhadap Putri Candrawathi, istri mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.

"Jadi saksi yang menyaksikan penodongan itu tidak ada. Makanya kami juga belum bisa meyakini apa terjadi pelecehan seksual atau tidak," ujar Ahmad Taufan Damanik di Komnas HAM, Jumat (5/8/2022).

Meski demikian, Komnas HAM tetap akan memperlakukan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi layaknya korban. Pasalnya, istri Ferdy Sambo sudah melapor ke aparat kepolisian terkait dugaan adanya pelecehan seksual.

"Walaupun kami katakan dalam standar hak asasi internasional, yang itu juga diatur oleh UU TPKS kita, seseorang yang diduga, atau dia mengaku, atau dia sudah mengadu bahkan sebagai korban pelecehan seksual, meski kita belum bisa mengatakan itu benar atau tidak, dia tetap harus diperlakukan sebagaimana layaknnya seorang korban," kata dia.

Komnas HAM menyebut banyak keterangan berbeda yang didapatkan pihaknya saat awal penyelidikan hingga sekarang. Salah satu keterangan yang dia temukan berubah yakni terkait penodongan senjata oleh Brigadir J.

Diketahui, Bareskrim Polri telah menetapkan Bharada Eliezer sebagai tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan terhadap Brigadir Yoshua di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif Irjen Ferdy Sambo.

Penetapan tersebut sebagaimana pasal Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Jo Pasal 56 KUHP yang terancam maksimal hukuman 15 tahun penjara.

"Untuk menetapkan Bharada E sebagai tersangka dengan sangkaan Pasal 338 KUHP Jo Pasal 55 dan 56 KUHP," ujar Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu 3 Agustus 2022.

Adapun. Pasal 338 KUHP menyebut, Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.

Sementara jo atau penyertaan Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP yakni dimaknai terdiri dari 'pembuat' yaitu orang yang memberikan perintah, 'penyuruh' yaitu orang yang bersama-sama melakukan, 'pembuat peserta' yaitu orang yang memberi perintah dengan sengaja, 'pembuat penganjur' dan 'pembantu'.