Sukses

Update Minggu 3 Juli 2022: 6.093.917 Positif Covid-19, Sembuh 5.920.249, Meninggal 156.749

Liputan6.com, Jakarta - Masih terus dilaporkan di Indonesia adanya penambahan kasus positif, sembuh, dan meninggal dunia akibat virus Corona yang menyebabkan Covid-19.

Terdapat penambahan 1.614 orang pada hari ini, Minggu (3/7/2022) positif Corona dilaporkan Tim Satuan Tugas (Satgas) Penananganan Covid-19.

Dengan begitu total akumulatif ada 6.093.917 orang di Indonesia terkonfirmasi positif terinfeksi virus Corona yang menyebabkan Covid-19 hingga saat ini.

Kasus sembuh berambah 1.606 orang pada hari ini. Di Indonesia sampai kini total akumulatifnya terdapat 5.920.249 pasien berhasil sembuh dan dinyatakan negatif Covid-19.

Sementara itu, penambahan kasus meninggal dunia pada hari ini ada 4 orang. Jadi total akumulatifnya ada 156.749 orang meninggal dunia hingga saat ini akibat virus Corona yang menyebabkan Covid-19.

Data update pasien Covid-19 tersebut tercatat sejak Sabtu 2 Juli 2022 pukul 12.00 WIB, hingga hari ini, Minggu (3/7/2022) pada jam yang sama.

Sebelumnya, Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus baru Virus Corona Covid-19 naik sebesar 18 persen pada minggu lalu. Lebih dari 4,1 juta kasus dilaporkan terjadi secara global.

Mengutip VOA Indonesia, Sabtu 2 Juli 2022, badan kesehatan PBB itu mengatakan dalam laporan mingguan terbaru tentang pandemi bahwa jumlah kematian di seluruh dunia tetap sama dengan minggu sebelumnya, yaitu sekitar 8.500. Kematian terkait Covid-19 naik di tiga wilayah, yaitu Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Amerika.

"Kenaikan mingguan terbesar dalam kasus baru Covid-19 sebanyak 47 persen terlihat di wilayah Timur Tengah, menurut laporan yang dirilis pada Rabu 29 Juni 2022 malam. Penularan naik sekitar 32 persen di wilayah Eropa dan Asia Tenggara, dan sekitar 14 persen di Amerika," papar WHO.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

WHO Sebut Pandemi Berubah tapi Belum Berakhir

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kasus meningkat di 110 negara, di mana peningkatan tersebut sebagian besar didorong oleh Varian Omicron BA.4 dan BA.5.

"Pandemi ini berubah, tetapi belum berakhir," kata Ghebreyesus pada minggu ini saat konferensi pers.

Tedros juga mengatakan kemampuan melacak evolusi genetik Covid-19 "terancam" karena negara-negara melonggarkan upaya pengawasan dan pengurutan genetik. Ia memperingatkan bahwa itu akan membuat lebih sulit untuk mengetahui varian baru yang muncul dan berpotensi berbahaya.

Dia menyerukan negara-negara untuk mengimunisasi populasi mereka yang paling rentan, termasuk petugas kesehatan dan orang usia lebih dari 60 tahun.

"Ratusan juta orang belum divaksinasi. Mereka berisiko terkena penyakit yang parah dan kematian," jelas Ghebreyesus

Ia menambahkan, walaupun lebih dari 1,2 miliar vaksin Covid-19 telah diberikan secara global, tingkat imunisasi rata-rata di negara-negara miskin adalah sekitar 13 persen.

 

3 dari 4 halaman

Pakar Sebut Penguatan Protokol Kesehatan Kunci Menuju Endemi Covid-19

Dalam proses transisi menuju endemi, kasus infeksi baru COVID-19 di Indonesia menunjukkan peningkatan. Saat ini, infeksi baru Covid-19 masih menunjukkan penambahan di angka 2.000-an per hari. Kemarin, Kamis, 30 Juni 2022, data menunjukkan kasus positif bertambah 2.248 orang.

Peningkatan jumlah kasus Covid-19 ini telah diprediksi seiring ditemukannya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Tanah Air. Puncak kasus diperkirakan mencapai 20.000 hingga 25.000 kasus per hari dan terjadi pada pekan ketiga dan keempat Juli 2022.

"Setelahnya akan turun kembali," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada 16 Juni 2022 di Bogor.

Penguatan protokol kesehatan menjadi salah satu kunci menuju endemi Covid-19, seperti disampaikan Dr dr Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K).

"Penguatan protokol kesehatan merupakan salah satu kunci menuju endemi, dengan demikian mari disiplin memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan," ujarnya, dilansir Antara.

Anggota Bidang Pengkajian Penyakit Menular PB IDI itu mengatakan, berbagai upaya penguatan juga perlu dilakukan guna mengendalikan kasus Covid-19 di Indonesia.

"Untuk menuju endemi, persiapannya adalah dengan menekan jumlah kasus terkonfirmasi positif. Salah satunya melalui vaksinasi, baik dosis primer dan juga dosis penguat atau booster," ujarnya.

Erlina mengatakan, pemerintah daerah pun perlu meningkatkan cakupan vaksinasi dosis penguat di wilayah masing-masing.

"Sosialisasi mengenai pentingnya vaksinasi harus terus dioptimalkan guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat," tuturnya.

Evaluasi berkala mengenai target vaksinasi di wilayah masing-masing pun perlu dilakukan pemerintah daerah.

"Dengan demikian dapat diketahui apakah target vaksinasi telah terlampaui, jika belum maka perlu menjadi prioritas utama sebagai salah satu kunci menuju endemi Covid-19," jelas Erlina.

 

4 dari 4 halaman

Perjalanan Kasus Corona di Indonesia

Kasus infeksi virus Corona pertama kali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China Desember 2009. Dari kasus tersebut, virus bergerak cepat dan menjangkiti ribuan orang, tidak hanya di China tapi juga di luar negara tirai bambu tersebut.

2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Pengumuman dilakukan di Veranda Istana Merdeka.

Ada dua suspect yang terinfeksi Corona, keduanya adalah seorang ibu dan anak perempuannya. Mereka dirawat intensif di Rumah Sakit Penyakit Infeksi atau RSPI Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta Utara.

Kontak tracing dengan pasien Corona pun dilakukan pemerintah untuk mencegah penularan lebih luas. Dari hasil penelurusan, pasien positif Covid-19 terus meningkat.

Sepekan kemudian, kasus kematian akibat Covid-19 pertama kali dilaporkan pada 11 Maret 2020. Pasien merupakan seorang warga negara asing (WNA) yang termasuk pada kategori imported case virus Corona. Pengumuman disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Urusan Virus Corona, Achmad Yurianto, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat

Yurianto mengatakan, pasien positif Covid-19 tersebut adalah perempuan berusia 53 tahun. Pasien tersebut masuk rumah sakit dalam keadaan sakit berat dan ada faktor penyakit mendahului di antaranya diabetes, hipertensi, hipertiroid, dan penyakit paru obstruksi menahun yang sudah cukup lama diderita.

Jumat 13 Maret 2020, Yurianto menyatakan pasien nomor 01 dan 03 sembuh dari Covid-19. Mereka sudah dibolehkan pulang dan meninggalkan ruang isolasi.

Pemerintah kemudian melakukan upaya-upaya penanganan Covid-19 yang penyebarannya kian meluas. Di antaranya dengan mengeluarkan sejumlah aturan guna menekan angka penyebaran virus Corona atau Covid-19. Aturan-aturan itu dikeluarkan baik dalam bentuk peraturan presiden (perpres), peraturan pemerintah (PP) hingga keputusan presiden (keppres)

Salah satunya Keppres Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Keppres ini diteken Jokowi pada Jumat, 13 Maret 2020. Gugus Tugas yang saat ini diketuai oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo ini dibentuk dalam rangka menangani penyebaran virus Corona.

Gugus Tugas memiliki sejumlah tugas antara lain, melaksanakan rencana operasional percepatan penanangan virus Corona, mengkoordinasikan serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan percepatan penanganan virus Corona.

Sementara itu, status keadaan tertentu darurat penanganan virus Corona di Tanah Air ternyata telah diberlakukan sejak 28 Januari sampai 28 Februari 2020. Status ditetapkan pada saat rapat koordinasi di Kementerian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) saat membahas kepulangan WNI di Wuhan, China.

Kapusdatinkom BNPB Agus Wibowo menjelaskan, karena skala makin besar dan Presiden memerintahkan percepatan, maka diperpanjang dari 29 Februari sampai 29 Mei 2020. Sebab, daerah-daerah di tanah air belum ada yang menetapkan status darurat Covid-9 di wilayah masing-masing.

Agus Wibowo menjelaskan jika daerah sudah menetapkan status keadaan darurat, maka status keadaan tertentu darurat yang dikeluarkan BNPB tidak berlaku lagi.

Penanganan kasus virus corona (Covid 19) pun semakin intens dilakukan. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mereduksi sekaligus memberikan pengobatan terhadap mereka yang terpapar Covid-19.

Berdasarkan situs covid19.go.id, sebanyak 140 rumah sakit di Tanah Air dijadikan rujukan untuk penanganan pasien Covid-19. Ada pula sejumlah tempat yang dijadikan rumah sakit darurat.

Salah satunya, pemerintah resmi menjadikan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, sebagai rumah sakit darurat untuk pasien Covid 19. Peresmian dilakukan langsung oleh Presiden Jokowi, Senin 23 Maret 2020. Begitu dibuka, Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran langsung menerima pasien.

Ada pula Rumah Sakit Darurat di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Pulau tersebut dulunya merupakan tempat penampungan warga Vietnam. Tempat tersebut telah dirapikan dan bisa menampung 460 pasien. Sejumlah tempat milik pemerintah lainnya juga dijadikan tempat isolasi pasien yang terpapar Covid-19.