Sukses

Asyiknya Membuat Keramik

Liputan6.com, Jakarta: Anda pasti sering melihat berbagai benda kesenian keramik. Baik yang dipajang seperti tiruan binatang dan miniatur perlengkapan rumah tangga maupun yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sebut saja mulai dari mug, piring, sampai asbak. Ternyata, tak sulit mempelajari pembuatan benda seni yang sudah ada sejak ribuan tahun silam itu. Baru-baru ini, SCTV berkunjung ke tempat kursus sekaligus workshop keramik milik Haryo Adiputro di kawasan Jakarta.

Pertama-tama, siapkan tiga komponen utama keramik yang terdiri dari yaitu tanah liat, alat-alat pembentukan, dan alat pembakaran. Warna bahan baku tanah liat beragam tergantung daerah asalnya. Dari Sukabumi biasanya berwarna kuning, sedangkan tanah liat Kalimantan abu-abu. Untuk bisa menghasilkan keramik yang permukaannya halus, tanah liat harus dipisahkan dari batu atau pasir dengan cara membasahinya dan menggilingnya sampai halus. Setelah itu, tanah liat diuleni atau ditindih dengan kayu agar udara di dalamnya keluar sehingga tanah liat menjadi padat.

Tahap kedua adalah pembentukan. Cara sederhana yang biasa dipakai adalah teknik slab yakni meratakannya dengan roller dan bending wheel. Bisa juga dengan menggunakan meja putar yang digerakkan kaki. Pada tahap ini, tanah liat bisa dibentuk menjadi apa saja sesuai selera. Bisa seperti botol, gelas, atau hiasan dinding. Setelah jadi, biasanya tanah liat dilapisi glasir, semen, atau bahan pelapis lainnya. Tujuannya, agar tanah liat yang cenderung rapuh ini bisa kedap air sehingga nantinya tak mudah retak. "Glasir ini berbahan dasar gelas. Ada yang mengkilap ada pula yang doff. Warnanya juga macam-macam sesuai selera," jelas Haryo. Setelah jadi dibentuk, hasil karya tadi mesti dibakar dalam suhu maksimum maksimum 1.000 derajat Celcius.

Setelah diwarnai dengan glasir, masuklah ke tahap ketiga yakni pembakaran akhir. Proses ini memakan waktu sekitar delapan jam tergantung ketebalan keramik dan bahan dasarnya. Sementara suhu tungku pembakaran harus mencapai 1.200 derajat Celcius. Sesudah melewati semua tahapan ini, jadilah keramik dalam berbagai bentuk dan warna nan menarik.

"Saya mempelajari ini karena memang hobi sekaligus memanfaatkan waktu luang," ungkap Naomi, peserta kursus di workshop Haryo. Tapi, menurut Haryo, tak sedikit pula peserta kursusnya yang mempelajari kesenian ini untuk segi bisnis. Maklum, saat ini kerajinan tangan tersebut punya pangsa pasar cukup menjanjikan.(MTA/Esther Mulyanie dan Yuli Sasmito)