Sukses

Wagub DKI: Jakarta Siap Hadapi Medan Perang Lawan Omicron

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria angkat bicara mengenai pernyataan Menkes Budi Gunadi Sadikin soal Jakarta dari lokasi perang Omicron. Riza menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menghadapi bahaya dari varian baru Covid-19 tersebut.

"Untuk itu DKI Jakarta bekerja sama dengan Satgas Pusat, Menteri Perhubungan, Kemenkeu, dan semuanya, Kemenkes, siap menghadapi medan perang dalam rangka melawan varian baru corona, Omicron," kata Riza di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (17/1/2022).

Poltikus Gerindra tersebut menyatakan Jakarta sebagai Ibu Kota merupakan lokasi transit warga negara asing ataupun warga negara Indonesia (WNI) yang pulang dari perjalanan luar negeri.

Karena hal itu, Riza meminta agar semua kalangan untuk ikut serta dalam memerangi varian baru tersebut.

"Tentu semuanya membutuhkan partisipasi dukungan semua pihak khususnya bagi seluruh warga Jakarta dan Indonesia," jelas dia.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Medan Perang Pertama Lawan Omicron

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan DKI Jakarta menjadi medan perang pertama untuk menghadapi peningkatan kasus COVID-19 varian Omicron.

"Sekitar 90 persen transmisi lokal (Omicron) terjadi di Jakarta, jadi kita harus persiapkan khusus DKI Jakarta sebagai medan perang pertama menghadapi Omicron dan kita harus pastikan kita menang menghadapi Omicron," kata Budi Gunadi di kantornya di Jakarta, Minggu (16/1/2022).

Budi Gunadi menyampaikan hal itu seusai mengikut rapat terbatas dengan topik Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.

"Di ratas tadi kami 'update' soal Omicron, puncak kasus dicapai secara cepat dan tinggi dalam waktu 35-65 hari jadi tergantung kita lihat dari mana, (kasus Omicron) di Indonesia pertama terindentifikasi akhir Desember tapi kasus kita mulai naik awal Januari, nah dalam 35-65 hari kasus kita terjadi cepat dan tinggi," ungkap Budi Gunadi yang dikutip dari Antara.