Sukses

Kementan Kirim Tim Identifikasi Kerusakan Lahan Pertanian Akibat Erupsi Semeru

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian menerjunkan tim khusus untuk melakukan pemetaan dan pendataan terkait kerusakan lahan pertanian di daerah terdampak erupsi Gunung Semeru.

Erupsi Gunung Semeru yang berasal dari awan panas dan guguran lahar dingin tak hanya merusak bangunan rumah maupun infrastruktur jembatan, namun juga lahan pertanian dan peternakan milik warga.

"Hari ini sudah mulai pendataan di lapangan. Pak Menteri juga hari ini sedang di Semeru," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr Fadjri Jufri di Bogor, Selasa (7/12/2021).

Fadjri menerangkan, tim khusus juga sudah mulai melakukan analisa secara secepat menggunakan citra satelit, untuk mengetahui luasan lahan pertanian yang rusak akibat meterial erupsi dari Gunung Semeru. Untuk kemudian mengambil langkah cepat melakukan indentifikasi potensi kerugian sektor pertanian.

"Kami sudah memetakan sawah dan hewan yang terdampak. Itu sudah ada datanya, cuma masih terus di update, masih menunggu data yang akurat. Karena kroscek di lapangan juga penting untuk mengetahui secara detil seberapa besar tingkat kerusakannya," terangnya.

Apabila data sebaran kerusakan dan potensi kerugian telah teridentifikasi, lanjut Fadjri, langkah selanjutnya adalah menyiapkan benih dan pupuk, kemudian perbaikan infrastruktur pertanian.

"Bapak Menteri telah menugaskan kepada saya untuk segera mengambil langkah-langkah itu. Penyiapan benih dan perbaikan infrastruktur segera kita lakukan supaya bisa cepat tanam," kata dia.

2 dari 2 halaman

Tergantung Aktivitas Semeru

Namun begitu, recovery lahan pertanian yang rusak bergantung dari status Gunung Semeru. Apabila masih sering erupsi maka proses pemulihan lahan akan memakan waktu cukup lama.

"Erupsinya masih berproses jadi kita tunggu sampai betul-betul tidak ada lagi letusan. Tapi tentunya kita koordinasi dengan pemantau Gunung Semeru," kata ujarnya.

Di sisi lain, Kementan juga akan mendorong para petani dan peternak mendapat klaim asuransi agar beban mereka menjadi ringan.

"Dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat) termasuk asuransi sawah kita sudah ada alokasinya," pungkasnya.