Sukses

Muhammadiyah Berdiri 18 November 1912, Melihat Sosok Ahmad Dahlan dan Perjuangannya

Liputan6.com, Jakarta - Di Kampung Kauman Yogyakarta pada tempo dulu memiliki dua aliran kepercayaan, yakni kepriyayen kasultanan dan perdagangan. Orang-orang di Kauman menjadi bagian dari dua tipe kehidupan tersebut. 

Namun, berlomba menuju ke arah hidup sejahtera mulai menjauhkan mereka dari syariat Islam, baik dalam ibadah maupun hubungan sosial. 

Seperti yang dijelaskan Adi Nugraha dalam bukunya K.H. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat (1869-1923), K.H. Ahmad Dahlan memutuskan untuk mendirikan organisasi yang diberi nama Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912.

Melalui organisasi ini, K.H. Ahmad Dahlan ingin memurnikan Islam, mengembalikan kehidupan agama kepada sumber aslinya yaitu Al-Quran dan Sunnah.  

Dalam buku Ensiklpedi Tokoh Nasional K.H Ahmad Dahlan yang ditulis Moh. Habib Asyhad menjelaskan, arti kata Muhammadiyah. Ia merujuk dari keterangan Ahmad Dahlan, bahwa nama Muhammadiyah diambil dari nama Nabi terakhir umat Islam, Muhammad. Tujuannya jelas. 

Bahwa gerakan yang dimaksud adalah gerakan Islam yang bisa meneladani sifat-sifat Muhammad sebagai Nabi akhir zaman. Sementara tambahan iyah di akhir namanya semata-mata menunjukkan apa pun yang merujuk pada sifat Muhammad. 

Dengan demikian, siapa pun yang menjadi anggota gerakan ini dapat mencontoh dan meniru pribadi Muhammad yang tertuang di sunah- sunahnya, baik itu qauliyah, fi'lyah, atau togririyah. 

Rohmat Kurnia, dalam buku K.H. Ahmad Dahlan, Tokoh Pembaru Islam menjelaskan, dalam proses pembentukan organisasi yang menjadi salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia tidaklah mulus. Berbagai penentangan dan penolakan datang silih berganti.

Penolakan itu datang mulai dari keluarga besarnya, masyarakat dan tokoh-tokoh pemuka agama. Berbagai tuduhan dilayangkan kepadanya mulai dari pendirian agama baru, meniru bangsa Belanda, kiai palsu, menyalahi ajaran agama dan berbagai tuduhan lainnya yang menyudutkan. 

Bahkan, K.H. Ahmad Dahlan beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan. Namun, K.H. Ahmad Dahlan dengan keteguhan hatinya tetap tegar menghadapi berbagai rintangan tersebut. Baginya pembaharuan Islam adalah hal yang penting dan utama. 

Sebagai wujud keseriusannya dalam melakukan pembaruan Islam pada tanggal 20 Desember 1912 KH Ahmad Dahlan mendaftarkan organisasi yang didirikannya kepada pemerintah Hindia-Belanda. 

Tujuan pendaftaran tersebut adalah untuk mendapatkan badan hukum sehingga dalam pelaksanaannya memiliki kekuatan. 

Dua tahun kemudian, pada tanggal 22 Agustus 1914. Pemerintah Belanda mengabulkan permohonan yang diajukan Dahlan. Melalui Surat Ketetapan Pemerintah Nomor 1 tanggal 22 Agustus 1914, organisasi Muhammadiyah resmi berbadan hukum, tetapi hanya berlaku untuk kawasan Yogyakarta saja, hal ini karena ada kekhawatiran dari pemerintah Belanda atas perkembangan organisasi tersebut. 

Meskipun dibatasi, orang-orang yang simpati akan gerakan pembaruan yang digulirkan oleh K.H. Ahmad Dahlan semakin meningkat. Mereka datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Hal ini jelas menimbulkan kekhawatiran bagi KH Ahmad Dahlan karena sudah bertentangan dengan keinginan Belanda, yaitu mengizinkan kegiatan organisasi di kawasan Yogyakarta saja.

Untuk menyiasati kecurigaan Belanda, Ahmad Dahlan menyusun strategi. Yaitu menyarankan penyamaran nama bagi cabang-cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta. 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Menyebar ke Pelosok

Dengan begitu, organisasi Muhammadiyah menyebar ke berbagai pelosok meskipun dengan nama yang berbeda-beda. Misalnya, di Makassar terdapat cabang Muhammadiyah dengan nama alias Al-Munir, atau Nurul Islam di Pekalongan dan sebagainya.

Meskipun awalnya Ahmad Dahlan mendapat berbagai petentangan pada saat mendirikan Muhammadiyah, karena ketekunan dan keyakinannya organisasi tersebut terus bekembang. Anggotanya bukan hanya sebatas dari Yogyakarta saja, tetapi juga di berbagai pelosok daerah lainnya.

Bersama Muhammadiyah. Ahmad Dahlan giat menyebarkan pembaruan. Cara yang ditempuhnya bukan lagi dari surau ke surau atau pengajaran kelas, tetapi secara terbuka. Yaitu dengan mengadakan tablig akbar. Kegiatan ini ia lakukan di berbagai daerah dan mendapatkan sambutan yang hangat dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya umat Islam dan para ulama.

Sebagai bukti penerimaan masyarakat akan pembaruan yang digulirkannya, banyak ulama dari berbagai daerah berdatangan kepadanya. Semua memberikan dukungan terhadap Muhammadiyah dan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Dengan begitu. seiring berjalannya waktu organisasi massa ini pun berkembang pesat.

Dengan semakin banyaknya simpatisan dan juga anggota Muhammadiyah, Ahmad Dahlan merasa perlu membentuk pengurus-pengurus Muhammadiyah di berbagai pelosok daerah. Akan tetapi, untuk mewujudkannya, ia harus meminta persetujuan dari pemerintah Hindia Belanda. Karena izin yang dulu pernah diajukannya hanya sebatas lingkupan Yogyakarta saja.

Melalui kegigihan dan kerja kerasnya, Muhammadiyah terus berkembang. Bahkan hampir ke seluruh nusantara. Karena itu, supaya lebih leluasa dalam berdakwah, terutama dalam hal pengurusan anggota yang tersebar di segala penjuru nusantara, pada tanggal 7 Mei 1921 permohonan untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh nusantara pun diajukan. 

Permohonan yang diajukan Ahmad Dahlan mendapat persetujuan. Pada 2 September 1921, pemerintah Hindia Belanda mengabulkan permohonannya. Setelah itu, cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh pelosok nusantara pun terbentuk. Kini mereka tidak perlu lagi menyamarkan nama cabang mereka.

Sejak didirikan di Yogyakarta oleh Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, Muhammadiyah paling tidak memiliki peran dalam tiga dataran, sebagai gerakan pembaruan, sebagai agen perubahan sosial, dan sebagai kekuatan politik. 

Muhammadiyah banyak bergerak di bidang pendidikan. Selain giat memberikan pengajian kepada para ibu dan anak-anak pada awal berdirinya Muhammadiyah, Dahlan juga mendirikan berbagai sekolah. 

Gerakan membangun pendidikan itu terus berkembang hingga saat ini. Muhammadiyah juga giat dalam bidang sosial kemanusiaan. Organisasi ini banyak mengelola rumah yatim piatu, rumah sakit, dan lembaga keuangan masyarakat. 

Berdasarkan data 2000, Muhammadiyah sudah mendirikan lebih dari 1.128 sekolah dasar, lebih dari 1.768 madrasah ibtidaiyah, lebih dari 1.179 sekolah lanjutan tingkat pertama, 534 madrasah tsanawiyah, 509 sekolah menengah atas, 249 sekolah menengah kejuruan, dan 171 madrasah aliyah.

Pada tingkat perguruan tinggi, jumlah sekolah tinggi, akademi, dan politeknik mencapai lebih dari 163 buah. Selain itu, banyak pula rumah sakit yang didirikan di beberapa tempat di Indonesia.