Sukses

Golkar Diyakini Berpeluang Koalisi dengan Nasdem Hadapi PDIP dan Gerindra

Liputan6.com, Jakarta Peneliti politik dari SMRC Saidiman Ahmad mengatakan, ada peluang Golkar yang mengusung Airlangga Hartarto di Pilpres 2024 membangun koalisi dengan NasDem.

"NasDem menjadi lebih mungkin (berkoalisi dengan Golkar). Misalnya NasDem mendorong orang seperti Ridwan Kamil berpasangan dengan Airlangga," kata dia, Minggu (24/10/2021).

Dia menuturkan, Golkar di Pilpres 2024 ada kemungkinan untuk melanjutkan tradisi mereka untuk mengusung calon presiden atau wakil presiden dari internalnya, yang tak dilakukannya pada Pilpres 2019.

Karenanya, lanjut Saidiman, Airlangga Hartarto yang paling berpeluang didorong oleh partai berlambang pohon beringin itu di Pilpres 2024.

"Tantangannya dari sisi penerimaan publik, tetapi ada temuan mulai ada perkembangan," ungkap dia.

Sadiman mengatakan partai Golkar juga dimungkinkan membangun koalisi dengan partai-partai lainnya yang eks -Golkar. Meski tidak bisa dipungkiri masih ada peluang berkoalisi dengan PDI-P.

Namun itu kembali kepada PDIP dan Gerindra yang selama ini berpeluang mengusung pasangan Prabowo Subianto- Puan Maharani. 

"Koalisi PDI-P dan Gerindra justru ada peluang tetapi tidak besar. Karena kalau berkoalisi dengan Gerindra, pertanyaannya siapa yang akan dicalonkan sebagai presiden? apakah Prabowo? Apakah PDI-P sebagai partai terbesar, mau menerima partai lain menjadi calon presiden?," tambahnya.

Sadiman menilai PDI-P memiliki tradisi selalu mencalonkan kadernya menjadi presiden dan wakilnya dari NU. Karena itu Ia menduga PDI-P lebih berpeluang berkoalisi dengan PKB daripada dengan partai Gerindra.

 

2 dari 2 halaman

Tiga Partai Besar

Saidiman mengakui ketiga partai besar yakni Partai PDIP, Gerindra dan Golkar menjadi yang terdepan dalam pencalonan presiden dan wakil presiden Pilpres 2024.

Namun, menurutnya keputusan partai mendukung capres mungkin juga akan berpengaruh pada pilihan politik para kader.

"Di dalam survei kita, kalau suatu partai memutuskan calon yang tidak dikehendaki oleh pemilih partai itu, boleh jadi si pemilih partai ini pindah. Jadi loyalitas pemilih terhadap partai itu kan rendah," kata dia.