Sukses

Erupsi Gunung Galunggung Paksa Pesawat Mendarat Darurat 39 Tahun Lalu

Liputan6.com, Jakarta Senin, 5 April 1982, Gunung Galunggung di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, meletus. Erupsi pertama yang terjadi tepat hari ini pada 39 tahun lalu itu disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar.

Peristiwa ini tak mudah dilupakan karena berlangsung selama 9 bulan dan baru berakhir pada 8 Januari 1983. Selama periode letusan ini, tak ada korban jiwa langsung akibat erupsi. Perkiraan kerugian sekitar Rp 1 miliar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.

Dikutip dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral esdm.go.id, secara umum periode erupsi 1982-1983 dibagi menjadi 3 fase sesuai dengan tipe erupsinya, yaitu:

Fase pertama, erupsi awal (5 April-6 Mei 1982) berupa erupsi tipe Pellean yang menghancurkan kubah lava Gunung Jadi, serta menghasilkan awan panas, lontaran batu, hujan batu, abu, dan gas.

Kubah lava yang terhancurkan diperkirakan 40%. Awan panas meluncur dan mengendap di Cibanjaran sejauh 5,1 km serta di Cikunir dan Cipanas sejauh 4,6 km. Tinggi abu erupsi mencapai 12 km dari kawah.

Erupsi pada 17-19 Mei, masih merupakan fase penghancuran kubah lava dianggap sebagai erupsi utama dalam fase pertama ini, di mana tinggi asap erupsi mencapai lk 30 km dan sisa kubah lava Gunung Jadi sebesar 5%.

Lontaran itu bahkan menyebabkan pesawat milik British Airways mendarat darurat di Jakarta. Pesawat menempuh perjalanan London-Auckland (Selandia Baru). Saat kejadian, pesawat berada di atas Pelabuhan Ratu. Di saat itulah satu per satu dari ke-4 mesin jetnya mati akibat kemasukan abu Galunggung.

Sang pilot memutuskan kembali ke Jakarta sambil berusaha keluar dari awan abu Galunggung. Berhasil dan mesin kembali menyala. Pesawat akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusumah.

Kejadian ini sungguh mencekam. Setelahnya, para penumpang membentuk Galunggung Gliding Club untuk bisa terus menjalin kontak. Salah seorang penumpang, Betty Tootell, menuangkan pengalaman dramatis tersebut dalam buku All Four Engines Have Failed.

Fase kedua, berupa erupsi tegak tipe vulkano, yang secara dominan menghasilkan piroklastik jatuhan, lontaran batu dan hujan pasir, serta menghancurkan seluruh sisa kubah Gunung Jadi.

Tinggi asap erupsi pada 13-19 Juli mencapai +/- 35 km dan melemparkan sebagian sumbat lava pada pipa kepundan hingga kedalaman 150 meter dari dasar kawah. Terjadi semburan lava pijar dan abu.

Fase ketiga, merupakan erupsi Strombolian yang melontarkan batu pijar seperti kembang api. Erupsi yang lebih lemah dan menyemburkan asap dan abu dengan tingkat penghancuran kecil, mencapai tinggi maksimal asap erupsi setinggi 12 km.

Erupsi terus mengecil atau melemah dan terjadi penumpukan bahan erupsi berupa tefra di dasar kawah dan di sekeliling lubang erupsi membentuk kerucut silinder dengan ketinggian 60 m di atas dasar kawah. Fase erupsi ini diakhiri oleh keluarnya aliran lava dari radial fissure dekat dasar kerucut silinder.

Sejak Januari 1983 Gunung Galunggung sudah tidak memperlihatkan aktivitasnya lagi, erupsi yang terjadi pada Januari 1984 berupa dua erupsi phreatik kecil yang mengeluarkan uap air dan sedikit abu.

2 dari 3 halaman

Peta Wilayah Berubah

Dalam sejarahnya, Gunung Galunggung beberapa kali meletus, yaitu:

Erupsi 1822

Tanda-tanda awal erupsi diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan ke kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah. Pada tanggal 8 Oktober hingga 12 Oktober 1822, erupsi menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar.

Luncuran awan panas melalui celah antara Pr. Haur dengan Pr. Ngamplong menuju Cisayong dan Cidadap di bagian lereng timur, hingga Citandui yang berjarak 18 km dari puncak. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Korban manusia tercatat 4011 jiwa dan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak.

Erupsi 1894

Setelah hampir 72 tahun tertidur, Gunung Galunggung kembali mengalami erupsi pada tahun 1894 tepatnya pada tanggal 7 hingga 9 Oktober mengeluarkan awan panas. Kemudian pada 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar pada 1822. Letusan itu mengakibatkan Desa yang hancur sebanyak 50 buah, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu.

Erupsi 1918

6 Juli 1918, erupsi diawali gempa bumi, menyebabkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Pada 19 Juli, muncul kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85 m dengan ukuran 560 x 440 m yang dinamakan gunung Jadi.

Erupsi 1982-1983

Erupsi Gunung Galunggung selanjutnya yakni pada tahun 1982, tepatnya dimulai pada 5 April. Kegiatan erupsi berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.

Letusan pada periode ini telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari.

Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.

Pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai 'benteng' pengaman melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya.

Pada masa tersebut juga dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir Galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini usaha pengerukan pasir Galunggung tersebut semakin berkembang.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: