Sukses

7 Januari 1962: Ketika Bung Karno Digranat di Makassar

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 7 Januari 1962 menjadi satu dari sekian banyak saat-saat menegangkan bagi Presiden Pertama Republik Indonesia, Sukarno. Kala itu Bung Karno tengah menuju Gedung Olahraga Mattoangin, Makassar, Sulawesi Selatan untuk menyampaikan pidatonya.

Tepat hari ini, 59 tahun silam, sekelompok orang mencoba membunuh Bung Karno saat melawat ke Makassar. 

Kala itu, keriuhan massa yang menyambut kedatangan Presiden Sukarno mendadak dikejutkan dengan bunyi ledakan keras. Sebuah granat meledak di tengah iring-iringan rombongan presiden.

Seperti dikutip dari Tirto.id, rombongan Bung Karno, berangkat dari Kompleks Kegubernuran Sulawesi Selatan dengan didampingi Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel M Jusuf. Ketika rombongan melintas di Jalan Cendrawasih, granat dilempar ke rombongan Sukarno dan meledak.

Sukarno sempat menanyakan bunyi ledakan itu kepada M Yusuf, namun perwira itu dengan santainya menjawab bahwa suara kemungkinan berasal dari ban pecah. Soekarno baru menyadari kejadian sebenarnya setelah ia sampai di GOR Mattoangin.

Ia pun marah besar. Saat itu Sukarno menduga bahwa dalang percobaan pembunuhan terhadap dirinya adalah kelompok yang didanai oleh Belanda. Kecurigaan Bung Karno patut dimaklumi, pasalnya saat itu Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Belanda soal Irian Barat.

Kendati ledakan itu tak melukai Sukarno sedikit pun, namun menurut pemberitaan waktu itu, setidaknya terdapat 31 rakyat sipil jadi korban dan lima orang tewas di lokasi kejadian.

 

2 dari 4 halaman

Dalang Pelemparan Granat

Adalah Ida Bagus Suja Tenaja yang kala itu berumur 41 tahun sebagai dalang di balik rencana pembunuh Presiden Sukarno. Kedatangan Bapak Pendiri Bangsa itu ke Makassar dimanfaatkan betul oleh Tenaja.

Suatu siang di hari yang sama peristiwa tersebut, Tenaja memberikan bungkusan kepada Alex Alfonsus Ratu, seorang anggota TNI di Kodam XIV Hasanuddin berumur 46 tahun. Bungkusan itu bukan untuk Alex, melainkan akan diberikan kepada Jan Pieter Korompis, seorang Pembantu Letnan Dua (Pelda) di jawatan kesehatan Angkatan Darat di KODAM XIV Hasanuddin berusia 36 tahun.

Jan Pieter tak hanya dapat bungkusan, tapi juga perintah untuk mengeksekusi rencana pembunuhan terhadap Sukarno. Alex juga meminta kepada Jan Pieter segera melaporkan hasil eksekusi itu pada pagi 8 Januari 1962 atau esok harinya.

Setelah serah terima bungkusan, Jan kedatangan tamu seorang Indo-Makassar berusia 30 tahun, bernama Welly Trouwerbach. Pria yang tinggal di Jalan Mangkura nomor 1 Makassar itu senasib dengan Tenaja, sama-sama pengangguran.

Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, isi bungkusan yaitu granat diperlihatkan oleh Jan Pieter kepada Welly Trouwerbach. Welly diajari bagaimana cara mengaktifkan granat sebelum dilemparkan. Welly pun menerima granat dan uang sebesar Rp 10.000, sebagai kompensasi dari misi melemparkan granat untuk membunuh sang proklamator.

Mereka dapat kabar Sukarno akan melintasi Jalan Cendrawasih menuju Gedung Olahraga Mattoangin, Makassar. Selain Welly, ada pengangguran lain yang bersama Jan Pieter, namanya Lukas Hokum, berusia 43 tahun dan tinggal di Jalan Bungur nomor 4 Makassar.

Mereka bertiga berada di depan asrama militer. Lukas Hokum, yang merupakan bagian dari komplotan itu menjadi saksi mata bagaimana Welly melemparkan granat ke arah mobil yang ditumpangi Sukarno.

Menurut catatan Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian Tentang Bung Karno, 1945-1967 (1999:327), “komplotan penggerak dan pelaksana adalah suatu organisasi gelap yang menamakan dirinya Resimen Pertempuran Koordinator Angkatan Darat Revolusioner (RPKADREV) sebagai pemimpin organisasi tersebut adalah Ida Bagus Suja Tanaja.”

 

3 dari 4 halaman

Keterlibatan Sipil dan Oknum Militer

Selain Tenaja, Alex, Jan Pieter, Welly dan Lukas yang beraksi, dalam komplotan itu terdapat juga anggota TNI lain. Mereka adalah Son Beslar, seorang Pelda TNI asal Sangir berusia 34 tahun dan bertugas di lingkungan Kasdam, yang tinggal di Penginapan Sumarni Jalan Rajawali Nomor 5 Makassar.

Juga ada Subarang, seorang Sersan Dua (Serda) berasal Rantepao, Tana Toraja, berusia 30 tahun dan yang bertugas di Lompobatang tinggal di Jalan Sungai Limboto 56 nomor 13A Makassar.

Nama lainnya ada Marcus Octavianus Latupeirissa, seorang Sersan Mayor (Serma) TNI berumur 35 tahun yang bertugas sebagai pengawas pegawai sipil dan tinggal di Penginapan Jenebarang kamar 26 di Jalan Sungai Jenebarang nomor 230 Makassar.

Seorang Ambon yang juga bermarga Latupeirissa, tapi bukan militer, juga terlibat dalam komplotan ini. Namanya Joseph, berumur 31 tahun dan bekerja sebagai pedagang hasil bumi serta tinggal di Jalan Andalah 153 nomor 3 Makassar.

Tugasnya bersama Marcus dan orang-orang sipil dalam komplotan adalah mengawasi Jalan Cendrawasih. Mereka siap melakukan perlawanan jika terjadi kondisi yang membahayakan komplotan.

Orang-orang sipil selain Joseph itu adalah: Sutar, seorang pedagang makanan berdarah Jawa tapi kelahiran Palopo, berusia 32 tahun dan tinggal di Jalan Setandu Gang Buntu; Paulus Maera Tappo, seorang pegawai di Kodim Ujungpandang berusia 31 tahun dan tinggal di Penginapan Sejahtera kamar 6 di Jalan Limboto Makassar. 

Para pelaku, belakangan dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Angkatan Darat Dalam Keadaan Perang (Mahadper) untuk Indonesia bagian Timur.

Catatan Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian Tentang Bung Karno, 1945-1967, mereka terkait dengan Resimen Pertempuran Koordinator Angkatan Darat Revolusioner (RPKADREV) yang meneruskan perjuangan Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang anti-komunis.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: