Sukses

Tony Soemarno: Suatu Saat Meledaknya Akan Besar

Liputan6.com, Kuta: Peringatan tragedi Bom Bali I di titik ledakan di Jalan Legian, Kuta, Badung, Bali, Jumat (12/10) malam, seolah menjadi ajang reuni bagi para korban bom yang pernah terjadi di Indonesia. Meski menjadi korban kekejaman terorisme pada tempat, waktu, dan oleh pelaku yang berbeda, mereka merasa menyatu karena sama-sama menanggung akibat dari perbuatan yang tak pernah mereka lakukan.

Adalah Tony Soemarno salah satunya, yang membuat para korban bisa saling mengenal, berbagi pengalaman, dan saling memberi semangat satu sama lain melalui Asosiasi Korban Bom Terorisme di Indonesia (Askobi) yang didirikannya pada 12 Oktober 2009. Pria yang memperistri teman kuliahnya saat menempuh studi di Northrop University, Los Angeles, California, Amerika Serikat ini adalah korban ledakan bom di Hotel J.W. Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 5 Agustus 2003.

Meski tak lagi menjadi Ketua Askobi, Tony tetap meluangkan waktunya bersama-sama dengan Wahyu Adiartono, Ketua Askobi yang baru, untuk membantu korban bom teroris serta mensosialisasikan bahaya terorisme di kalangan anak muda. Dalam perbincangan di Legian, Kuta, usai peringatan sepuluh tahun Bom Bali I, ayah tiga anak ini bicara banyak soal nasib para korban terorisme, pertemuannya dengan para pelaku, serta kekecewaan terhadap pemerintah. Berikut petikannya.


Anda pernah mengatakan tidak setuju dengan vonis untuk Umar Patek --salah satu pentolan bom Bali I dan bom malam Natal tahun 2000-- yang dihukum 20 tahun, kenapa?

Saya memang tidak setuju, karena isunya bukan soal jumlah atau lamanya hukuman, tapi bagaimana menyadarkan para pelaku dari perbuatan mereka yang keji. Pemerintah selama ini hanya bertindak sebagai fire fighting, tangkap sana tangkap sini, tangkap teroris dan masukkan ke penjara, selesai. Ini tidak akan membawa dampak yang banyak.

Bukankah Anda sendiri adalah korban terorisme?

Benar saya adalah korban, tapi pertemuan dengan para pelaku membuat hidup saya berubah. Saya sebagai korban kemudian bertemu pelaku dan saling memaafkan, itu membuat saya tenang. Saya ketemu Ali Imron, Tohir dan banyak lagi di lembaga pemasyarakatan, saya selalu bicara dan ingin tahu kenapa dia berbuat begitu.

Lantas, apa jawab mereka?

Awalnya memang tak mudah. Tapi setelah bertemu berkali-kali, mereka baru terbuka. Mereka selalu berpikir orang asing atau bule itu kafir dan harus mati. Lantas, saya yang orang Indonesia dan muslim ternyata juga terkena dampak perbuatan mereka. Saya juga mengatakan kepada mereka, tak ada agama yang menyuruh untuk membunuh orang dengan melihat asal atau agamanya.

Bagaimana Anda melihat eskalasi terorisme di Indonesia sejak bom Natal hingga saat ini?

Eskalasinya tidak meningkat atau menurun, tapi yang saya lihat berbahaya sekarang ini adalah "kanker" yang makin menjalar. Saya punya feeling, suatu saat meledaknya akan besar, belum kelihatan saja sekarang.

Dengan kondisi seperti itu, apa yang harus dilakukan pemerintah?


Pemerintah harus konsolidasi, misalnya dengan membuat task force. Ini semacam tim kecil dimana mereka harus berbagi tugas. Di dalamnya ada orang pemerintah, korban, pelaku, ulama, akademisi, dan disiplin ilmu lainnya. Merekalah nantinya yang akan terjun ke lapangan untuk memberikan pemahaman tentang bahaya terorisme sekaligus untuk meng-counter paham-paham menyimpang dari pelaku teror.

Apakah tidak cukup dengan keberadaan Detasemen Khusus 88 Antiteror?

Ini bukan hanya kerja Densus. Kalau Densus kan hanya menangkap. Selama ini tidak ada pola dan sistem untuk mengatasi ini, teroris muncul silih berganti, kenapa? Ya karena pemerintah cukup berpuas diri ketika seorang pelaku teror ditangkap, sudah dianggap hebat. Umar patek dihukum mati gampang, tinggal ditembak habis dia. Tapi setelah itu? Yang di belakang Umar Patek ini bagaimana?

Apakah karena alasan itu Anda mendirikan Askobi?

Askobi saya dirikan karena saya tidak bisa melihat janda atau duda, terutama anak-anak yang orangtuanya jadi korban bom, tak lagi jelas nasibnya. Mereka tak lagi punya pegangan, tak ada yang memperhatikan, tak bisa makan. Lantas siapa yang menghidupi ketika pemerintah tak peduli karena fokus hanya pada pelaku. Harusnya ada organisasi atau lembaga yang dibentuk pemerintah untuk melindungi dan membantu korban, ini kan tidak ada. Malah seperti Askobi, korban yang berbuat dan membantu korban, ini kan terbalik.

Sudah sejauh mana bantuan yang diberikan?

Sampai sekarang belum maksimal. Meski kita sangat ingin membantu anak-anak borban bom yang putus sekolah atau istri yang kehilangan suami dan tak punya pegangan ekonomi. Contohnya Ibu Chusnul, karyawan Paddy's Pub yang jadi korban bom Bali I. Kini dia tak punya sandaran ekonomi. Suaminya yang sakit hati istrinya jadi korban, membunuh orang dengan harapan bisa masuk penjara dan bertemu pelaku. Niatnya, dia akan membalas dendam, tapi ternyata penjaranya beda, dia ditahan dimana, pelaku ditahan dimana, ini kan konyol.

Rencana ke depan?

Saat ini program yang paling kita utamakan adalah peacekeeping against violence. Kami melakukan pembinaan di kalangan kaum muda dengan roadshow ke daerah-daerah. Kita ambil pembicara dari pelaku seperti Nasir Abbas, kemudian pemuka agama, korban, serta dari ponpes. Kita berikan pemahaman akan bahaya terorisme pada mereka. Kalau yang bicara pelaku dan korban tentu mereka bisa percaya.

Apa kendala yang dihadapi Askobi?

Kendalanya saat bicara pendanaan. Kalau tidak ada dana kami tak bisa jalan. Saya dan Wahyu (Ketua Askobi) tidak bisa bergerak penuh karena juga terikat dengan pekerjaan karena kami kan juga butuh makan, jadi tidak bisa sepanjang waktu mencurahkan perhatian ke Askobi.

Bantuan dana dari pemerintah?

Ada dana pemerintah, tapi kalau diibaratkan, dari sepuluh hanya satu dari pemerintah, sisanya dari NGO (lembaga swadaya masyarakat). Belum lama ini saya hadir di pertemuan korban bom teroris dunia di Madrid, Spanyol. Saya mendapat kesempatana bicara di forum itu dan mereka yang hadir mengakui baru ada satu yayasan yang mengurus korban bom. Dan ini akan menjadi contoh serta pola bagi negara lain. Sejak itu pula banyak NGO yang siap meggelontorkan uang, tapi mereka tidak mau diekspose.

Anda adalah korban bom di Hotel J.W. Marriott yang pertama, apa dampak yang Anda rasakan?

Setelah kejadian itu saya dirawat di dua rumah sakit. Saya di Rumah Sakit Jakarta selama empat hari, kemudian pindah ke bagian luka bakar Rumah Sakit Pertamina sampai delapan bulan. Saya diinapkan di ruang isolasi yang terpisah karena luka bakar yang sudah sangat parah. Kepala saya juga kejatuhan lampu gantung yang besar, ada 14 jahitan di kepala.

Ada dampak dari sisi ekonomi?

Ketika menjadi korban bom saya bekerja di sebuah perusahaan milik orang indonesia, tapi tak ada perhatian sama sekali, tak ada santunan. Sampai kemudian pensiun, tak sepeser pun saya dapat, padahal saya terkena tragedi ini ketika menjalankan tugas perusahaan, yaitu bertemu klien di Marriott. Setelah itu saya harus mencari kerja lagi karena saya butuh biaya untuk hidup.

Kalau dampak psikologis?

Saya rasanya sudah mau mati. Hari-hari saya yang biasanya di lapangan, tiba-tiba harus diam, hanya makan dan tidur. Rasanya saya mau bunuh diri saja. Setelah keluar rumah sakit lebih parah. Ketemu orang tak berani, kemana-mana takut dan minder.

Anda tidak menaruh dendam?

Kenapa hidup harus punya dendam, dendam bukan jalan keluar, dendam akan membuat hati hancur, imbasnya ke fisik kita, kalau tetap dendam hati tak akan pernah sembuh.(ADO)