Sukses

Cerita Dokter Sulitnya Merawat Pasien Covid-19 Disertai Kamorbid

Liputan6.com, Jakarta - Virus Covid-19 adalah penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Covid-19 yang disertai penyakit penyerta (komorbid) bisa berakibat fatal bagi kesehatan pasien.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Erika, menceritakan pengalamannya merawat pasien Covid-19 dengan komorbid. Menurut Erika, mayoritas pasien Covid-19 dengan komorbid yang ditanganinya masuk kategori berat.

"Pasien Covid-19 dengan komorbid jantung dan hipertensi cukup tinggi. Pasien Covid-19 dengan komorbid jantung secara otomatis menciptakan problem tersistematis yang perawatannya jauh lebih sulit daripada yang tanpa komorbid," ujarnya, Kamis (3/12/2020).

Erika mengaku sempat takut terpapar Covid-19 saat menangani pasien. Namun, rasa takut bisa dilawan setelah berhasil merawat banyak pasien Covid-19.

"Jujur, rasa takut terpapar Covid-19 masih ada sampai sekarang, namun pengalaman merawat pasien sampai melihat mereka sembuh mengalahkan rasa takut saya," kata dia.

Anggota Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Soedjatmiko, mengatakan Covid-19 bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Termasuk kelompok umur 19 sampai 59 tahun.

"Yang meninggal 60,4 persen di rentang umur 19 sampai 59 tahun, ini umur yang rentan karena mereka aktif di luar rumah dengan berjualan, bermain, dan segala aktivitas lainnya," katanya.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Cegah dengan Protokol Kesehatan

Menurut Soedjatmiko, sesungguhnya Covid-19 bisa dicegah dengan menerapkan protokol kesehatan 3M. Yakni, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.

Selain itu, perlu ada intervensi kesehatan oleh pemerintah melalui vaksinasi. Vaksin penting untuk membentuk kekebalan tubuh sehingga bisa mengendalikan Covid-19.

"Tujuannya adalah untuk menurunkan kematian dan kesakitan masyarakat. Tetapi (vaksin) harus diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," tandasnya.

Reporter: Titin Supriatin

Sumber; Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: