Sukses

4 Strategi Pemerintah Putus Mata Rantai Penyebaran Corona Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Juru bicara pemerintah penanganan Corona Achmad Yurianto menegaskan, pemerintah terus menyusun berbagai strategi untuk pencegahan penyebaran kasus virus yang menyebabkan Covid-19.

Menurut dia, hal paling mendasar adalah mencegah terjadinya penularan Corona Covid-19 baru di tengah masyarakat.

"Oleh karena itu, maka sejak awal physical distancing menjadi kunci sukses di dalam pelaksanaan pengendalian penularan Covid-19," ujar Yurianto dalam konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Rabu (8/4/2020).

Karena sampai saat ini, jumlah pasien yang dinyatakan positif Corona Covid-19 masih terus bertambah.

Sampai dengah hari ini, total akumulatif 2.956 kasus. Kemudian untuk pasien sembuh total 222 dan meninggal dunia karena Corona Covid-19 sebanyak 240 orang.

Selain menyiapkan strategi pencegahan penularan kasus baru di masyarakat, pemerintah juga menyiapkan strategi lain.

Berikut 4 strategi yang disiapkan pemerintah demi menghentikan mata rantai penularan kasus virus Corona Covid-19 di Indonesia:

 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 5 halaman

Physical Distancing atau Jaga Jarak

Juru bicara pemerintah penanganan Corona Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan, sejak awal, physical distancing atau jaga jarak menjadi kunci sukses di dalam pelaksanaan pengendalian penularan.

"Saat ini dirasa perlu oleh pemerintah memperkuat physical distancing, karena dalam beberapa hari terakhir kita masih mendapatkan mendapatkan ketidakefektifan pelaksanaan ini akibat disiplin yang masih belum kita bangun bersama-sama di tengah masyarakat," kata Yurianto.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah pun memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB dalam kaitan untuk meningkatkan efektivitas physical distancing.

"Tujuan dari pembatasan sosial, bukan dimaknai melarang, tapi membatasi. Karena kita sama-sama pahami faktor pembawa penyakit ini adalah manusia," ucapnya.

Dengan begitu maka, sebaran penyakit virus Corona ini akan sejalan dengan segala aktifitas masyarakat itu sendiri. Sehingga, kata Yurianto, perlu dibatasi.

"Mengapa dibatasi? Karena kita yakini banyak kasus positif tanpa gejala, kasus positif Covid-19 dengan gejala yang minimal sehingga secara subjektif dirasakan, tidak ada gejala yang msh berada di tengah-tengah kita," papar Yurianto.

Kemudian juga, lanjutnya, masih banyak kelompok masyarakat rentan yang mengabaikan physical distancing, jaga jarak, dan tidak rajin mencuci tangan. Akibatnya, kata Yurianto,penularan yang terus terjadi.

"Strategi dasar ini kita perkuat dengan gerakan masker untuk semua. Kita wajib menggunakan masker ketika berada di ruang publik, manakala ada di luar rumah," kata dia.

Karena, lanjut Yurianto, kita tidak pernah tahu jika ada orang disekitar yang ternyata menderita Corona Covid-19 tanpa keluhan, tanpa gejala, atau yang kita sebut dengan Orang Tanpa Gangguan.

"Karena itu, dengan semua memakai masker, kita yakini kita akan menjadi tidak rentan terhadap penularan Covid-19 ini," ucap Yurianto.

 

3 dari 5 halaman

Penelusuran Kontak

Yuri memaparkan, strategi kedua yang dilakukan pemerintah adalah melakukan penelusuran kontak dari kasus positif Corona Covid-19 yang sudah dirawat.

"Kita harus mewaspadai betul kelompok yang potensial menjadi sumber penularan, di antaranya adalah kontak dekat kasus positif yang kita rawat, kemudian risiko pada tenaga kesehatan yang merawat penderita Covid-19, dan pada masyarakat di daerah di mana kasus ini sangat banyak kita temukan," papar dia.

Hal tersebutlah, kata Yurianto, yang kemudian dilakukan oleh pemerintah selanjutnya menentukan kebijakan-kebijakan untuk melakukan screening dan rapid test.

"Tujuannya adalah untuk melakukan penyaringan, penjaringan penelusuran kasus, kontak pada tenaga kesehatan dan pada komunitas dimana di daerah tersebut banyak sekali kasus positif. Ini strategi awal yang dilakukan terkait dengan pemeriksaan tes," kata dia.

 

4 dari 5 halaman

Edukasi Masyarakat Isolasi Mandiri

Strategi ketiga yang dilakukan pemerintah menurut Yurianto adalah mengedukasi dan menyiapkan secara mandiri pada sebagian hasil contact tracing yang menunjukkan positif dari hasil tes atau negatif Corona, namun memiliki gejala untuk melakukan isolasi secara mandiri.

"Isolasi ini bisa dilaksanakan secara tersendiri, dilaksanakan secara kelompok seperti yang diinisiasi oleh berbagai kelompok masyarakat kita," ucapnya.

Yurianto menegaskan, upaya melakukan isolasi mandiri adalah upaya yang positif dan patut diapresiasi.

Sehingga, kata dia, mereka yang melakukan isolasi mandiri bisa melaksanakannya dengan baik tanpa ada stigmatisasi dan upaya untuk mengucilkannya.

"Namun, kewajiban bersama untuk membantu agar mereka bisa melaksanakan isolasi dengan baik. Dari kelompok inilah kemudian bila pemeriksaannya kemudian diulang dan didapatkan positif atau keluhan klinis semakin memberat, baru kita laksanakan pemeriksaan antigen dengan metode PCR," tegas Yurianto.

 

5 dari 5 halaman

Isolasi Rumah Sakit

Menurut Yurianto, strategi terakhir yang disiapkan pemerintah adalah isolasi rumah sakit. Dia menyebut, tahapan ini dilakukan apabila isolasi mandiri tidak lagi mungkin dilakukan karena ada tanda klinis yang membutuhkan layanan definitif di rumah sakit.

"Termasuk kemudian kita membangun rumah sakit darurat untuk Covid-19, baik yang berada di Wisma Atlet atau yang kita bangun di Pulau Galang," ucapnya.

Yurianto mengatakan, beberapa daerah juga melakukan hal yang sama, yaitu menyiapkan rumah sakit darurat untuk pasien Corona dalam rangka melaksanakan isolasi kasus positif dengan klinis ringan sampai sedang, yang tidak mungkin melaksanakan isolasi mandiri.

"Puncaknya adalah rumah sakit rujukan Covid-19 dengan keluhan sedang berat. Dengan keluhan sedang berat yang membutuhkan alat bantu yang spesifik termasuk ventilator," pungkas Yurianto.

Yurianto berharap, semua strategi yang dilakukan itu dapat mengefektifkan, mengefisienkan, dan tepat sasaran dengan menggunakan segala sumber daya yang dimiliki.