Sukses

Curahan Hati Ibunda Siswa Korban Kekerasan Guru SMAN 12 Bekasi

Liputan6.com, Bekasi - Sedih bercampur marah tersirat di wajah Siti Nuraini. Hatinya sakit mengetahui buah hatinya jadi korban kekerasan gurunya yang dilakukan di tempat sang anak menimba ilmu. Aksi pemukulan tersebut bahkan viral dan tersebar luas di masyarakat.

Nuraini tak pernah membayangkan kejadian memilukan akan menimpa sang anak, MR, yang saat ini duduk di kelas XII SMA Negeri 12 Kota Bekasi. Sebagai seorang ibu, hatinya sangat terluka melihat MR diperlakukan secara tidak manusiawi oleh gurunya sendiri.

"Iya di video itu anak saya. Yang lainnya banyak, tapi gak sampe kena video itu. Terus terang saya sakit hati, saya sakit bener. Saya belum pernah semarah apa, saya berusaha jangan sampai mukul," kata Nuraini dengan nada lirih kepada awak media, Sabtu (15/2/2020).

Perempuan paruh baya itu tak habis pikir mengapa sosok guru seperti IM yang notabene berperan sebagai orangtua siswa di sekolah, melakukan kekerasan kepada anak didiknya. Ia bahkan menilai ada yang salah dengan kejiwaan IM.

"Saya merasa guru itu sudah tidak bermoral. Mau jadi apa murid-muridnya dididik dengan pengetahuan-pengetahuan, tapi tidak berakhlak. Jadi tidak bisa membedakan mana yang harus diajarin," keluhnya.

Nuraini berpikir seharusnya masih banyak cara lain yang bisa dilakukan guru jika ingin menghukum siswa, yang bahkan lebih bermanfaat. Apalagi jika kesalahan yang dilakukan siswa terkesan sepele, tapi harus menerima hukuman yang tak setimpal.

"Cara mukulnya itu kayak mukul maling. Cuma kesalahan gitu, sudah gak wajar. Di depan anak didiknya dia ngasih contoh kaya begitu. Apa dia mau anak didiknya kaya dia. Kan banyak cara yang mendidik. Misalkan hukuman olahraga, atau baca Pancasila yang sekarang lagi tren gitu," paparnya.

 

2 dari 3 halaman

Tenangkan Trauman Anak

Nuraini juga menyayangkan sikap IM yang tak kunjung menunjukkan itikad baik untuk meminta maaf atas tindak kekerasan yang dilakukan terhadap anaknya. Dengan semua hal tersebut, ia menilai IM sangat tidak pantas menyandang profesi guru.

"Gak ada niat baik, apa telepon kek, apa gimana, gak ada. Kalaupun dia benar-benar seorang guru yang mendidik, dia minta maaf. Harus siap dengan resiko apapun, buktikan sama anak muridnya dong," tegasnya.

Hampir setiap malam pasca kejadian tersebut, Nuraini menyediakan waktu menemani sang anak untuk sekedar menenangkan batinnya yang masih dihinggapi trauma.

"Sampai saya sekarang tiap malam itu selalu dampingin dia. Saya gak mau psikologisnya keganggu," tutupnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading