Sukses

BMKG Sebut Wilayah Ini Alami Peningkatan Aktivitas Tektonik

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa pada Juli 2019 ini, sebagian wilayah Indonesia mengalami peningkatan aktivitas kegempaan.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, wilayah seperti Mentawai, Bengkulu dan juga Nias pada bulan ini tercatat sesarnya kembali aktif.

"Kemudian Selat Sunda dan Selatan Jawa Barat ini juga aktif," papar Daryono di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu (31/7/2019).

Tak terkecuali bagi selatan Jawa Timur dan juga Bali, menurut Daryono juga mengalami peningkatan aktifitas tektonik. "Di bagian selatan Sumbawa dan Sumba ini juga mengalami peningkatan aktivitas. Kemudian Laut Banda tapi ini kedalamannya menengah di atas 60 kilometer gempa yang terjadi tidak terlalu berdampak," jelas Daryono.

Selain itu, ada juga peningkatan di Ambon dan Seram, serta Sulawesi Tengah di kawasan Palu Koro dan Matoro. "Kemudian juga Halmahera Selatan, kemudian Maluku Utara, dan yang terakhir wilayah Papua bagian utara," jelas Daryono.

Sebelumnya kata Daryono, meskipun Indonesia berada di atas banyak sesar aktif tapi penduduknya tetap aman. Menurutnya, mereka bisa terhindar dari kejadian alam asalkan mengedepankan budaya mitigasi bencana.

Daryono berkaca pada Amerika Serikat dan Jepang. Di dua negara itu juga rawam gempa bumi. Di Amerika terutama di wilayah Pantai Barat yakni lempengan San Andreas.

"Di Amerika ada (lempeng) San Andreas tapi saat gempa kemarin tidak banyak yang meninggal," kata Daryono.

 

2 dari 3 halaman

Minim Korban

Menurut Daryono, minimnya korban jiwa saat gempa di Amerika dikarenakan budaya mitigasi bencana di sana telah berakar kuat.

"Jepang itu tidak ada yang aman gempa semuanya ada sesar aktif, tetapi pembangunan maju, ekonomi maju karena mereka mampu mengelola resiko (bencana) dengan baik," katanya.

Tak berbeda dengan New Zealand, negara ujung selatan benua Australia ini juga kerap dilanda gempa dengan kekuatan di atas 7 magnitudo. Namun jumlah korban jiwa maupun kerusakan bangunan amat mini.

"Rumahnya kokoh, rumahnya standar gempa sehingga (tinggal di daerah rawan gempa) tidak menjadi menakutkan," tegas Daryono.

Daryono kembali menegaskan bahwa tinggal di daerah rawan gempa bukan berarti membut merasa khawatir. Tetapi dengan upaya mitigasi yang maksimal, kata Daryono, masyarakat bisa menanggulangi potensi bencana tersebut dengan baik.

"Maka di tengah ketidakpastian kapan terjadinya (gempa) kita harus mempersiapkan mitigasi. Dalam hal ini adalah mitigasi struktural," tegas Daryono.

Mitigasi struktural, kata Daryono, ialah mitigasi berbasis pada upaya pencegahan dengan memperkuat bangunan penduduk supaya tahan gempa. "Kalau tidak kuat maka kita bangun bangunan yang ringan bahannya baik dari kayu atau pun dari bambu. Kita juga harus melakukan pemahaman bagaimana cara selamat pada saat terjadi gempa bumi," tandas Daryono.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cuaca Hari Ini: Jabodetabek Cerah Berawan
Artikel Selanjutnya
BMKG: Tren Kenaikan Pencemaran Udara di Sumatera Terus Meningkat Akibat Karhutla