Sukses

Gempa Pangandaran 2006 dan Riwayat Lindu di Selatan Jawa

Liputan6.com, Jakarta - Sore yang tenang di Pangandaran, Senin 17 Juli 2006. Sejumlah pemburu ombak sedang memacu adrenalin di atas papan seluncur, para pedagang kaki lima berteduh di tenda-tenda yang berdiri sesak di pinggir pantai.

Sementara itu, di lepas pantai, di Samudera Hindia, gempa magnitudo 6,8 mengguncang pada pukul 15.15 WIB. Di kedalaman 33 kilometer di bawah laut. Guncangan akibat lindu dirasakan kuat warga di Bandung dan Jakarta. Namun tidak di Pangandaran.

Warga merasakan getaran, namun intensitasnya dirasa tak luar biasa. Tiba-tiba, warga di sana mendengar suara mirip ledakan menggelegar. Arahnya dari laut.

Hanya dalam hitungan detik, ombak raksasa menderu, menerjang apapun yang dilewatinya; batu karang, pasir, tanah, pepohonan, perahu dan kapal nelayan, bangunan, juga manusia. Gulungan air bercampur segala macam material itu berwarna hitam, kelam.

Kala itu, dua tahun setelah gempa dan tsunami dahsyat menerjang Aceh, sudah jadi pengetahuan umum bahwa gelombang gergasi bisa datang setelah terjadi lindu besar yang ditandai surutnya air laut yang bikin ikan-ikan menggelepar.

Dua pertanda itu dilaporkan nyaris absen di Pangandaran, meski ada warga yang mengaku menyaksikan air laut sempat surut. Akibatnya, banyak orang tak sempat mencari selamat.

Orang-orang panik bukan kepalang saat tsunami menyerbu masuk kawasan permukiman di pinggir pantai, menghancurkan bangunan restoran dan penginapan, menghela truk besar hingga masuk ke kolam renang sebuah hotel. Ketinggian air pada jarak 500 meter dari bibir pantai bahkan mencapai 1 meter.

John Minogue, seorang warga Pangandaran, mengaku bahwa tsunami terjadi sekitar 15 menit pasca-gempa. "Saya melihat ada beberapa orang di pinggir pantai yang meninggal," kata dia saat diwawancara Liputan 6 Petang SCTV.

Kesaksian serupa diutarakan Kirsten, yang tinggal sekitar 500 meter dari pinggir pantai Pangandaran. Perempuan itu mengaku melihat sejumlah orang terlempar ombak dan kemudian terseret derasnya air yang kembali ke laut. "Di sini semuanya masih panik, warga sibuk mencari sanak saudaranya yang hilang," kata dia.

Sementara, seorang turis asing mengaku, saat kejadian ia sedang minum-minum di bar. Tiba-tiba seorang pelayan menyuruhnya berlari, untuk menghindar dari terjangan ombak.

Ia, yang panik, masuk ke ruangan dapur yang buntu. Untungnya, ketika ombak besar datang tembok dapur itu runtuh sehingga dia bisa menyelamatkan diri.

Tsunami juga mengantam wilayah pesisir selatan Jawa di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bencana merenggut setidaknya 668 korban jiwa. Sementara, 65 dinyatakan hilang dan 9.299 lainnya luka-luka. Ribuan orang jadi pengungsi.

Pangandaran menjadi wilayah terdampak paling parah dengan jumlah korban jiwa lebih dari 400 orang. Malam gelap gulita karena aliran listrik yang terputus usai tsunami, balai desa jadi kamar jenazah, cold storage milik pengusaha Susi Pudjiastuti beralih fungsi jadi penyimpanan jasad manusia. Kala itu, ia belum jadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Pada 2004, usai tsunami melanda Aceh, Susi nekat mendaratkan pesawatnya ke pesisir timur Aceh, ke Meulaboh dan Pulau Simeuleu. Untuk membawa bantuan.

Sambil terisak, ia mengaku tak pernah mengira, gempa tsunami bakal hadir di kampung halamannya.

2 dari 3 halaman

Riwayat Gempa di Selatan Jawa

Bukan kali itu aja gempa besar terjadi di Pangandaran dan wilayah pesisir selatan Jawa, yang termasuk rawan diguncang lindu.

Meski demikian, Danny Hilman Natawidjaja, ahli gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI mengungakapkan, dilihat dari sejarahnya, zona subduksi Jawa memiliki potensi magnitude kegempaan lebih rendah dibandingkan dengan zona subduksi Sumatera yang rata-rata di atas 8 skala Richter (SR).

Sedangkan waktu terjadinya gempa pun di Jawa lebih kecil dibandingkan Sumatera.

"Selain itu lempeng Jawa pun sudah tua, berusia di atas 150 juta tahun. Gerakan tektoniknya pun berat sehingga tidak terlalu menekan ke arah Pulau Jawa," kata dia seperti dikutip dari situs geodesy.gd.itb.ac.id.

Sejarah gempa di Pulau Jawa yang dimiliki LIPI tidak begitu banyak, hanya untuk rentang waktu 1840-2000.

Pada 20 Oktober 1859 terjadi gempa di Pacitan dengan perkiraan di atas 7 SR. Sedangkan 10 Juni 1867 terjadi gempa di Yogyakarta yang menewaskan 500 orang lebih. Pusat gempa diperkirakan sama dengan gempa yang terjadi di Yogyakarta, Mei 2006 lalu, namun magnitude pada 1867 lebih besar dengan perkiraan 8 SR dibandingkan pada 2006 yang hanya 6,3 SR.

Sementara itu pada 11 September 1921 terjadi gempa yang pusatnya berdekatan dengan pusat gempa di Pangandaran pada bulan Juli 2006.

Sejarah kegempaan dan tsunami di Jawa pernah dilaporkan Fisher, peneliti dari Belanda pada tahun 1920-an. Laporannya antara lain menyebutkan daerah Pacitan pernah dilanda tsunami.

Pakar Kegempaan, Bidang Geologi dan Geofisika Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Hery Harjono mengungkaplam, sejarah kegempaan yang menimbulkan tsunami di Selatan Jawa tidak 'terekam' secara alami, seperti halnya di pantai barat Sumatera.

Periode naik dan turunnya permukaan pesisir pantai barat Sumatera dalam periode ratusan tahun terekam pada terumbu karang yang hidup disana. Ketika gempa akibat sesar naik maka pesisir pantai akan naik, yang menyebabkan terumbu karang yang naik ke permukaan akan mati. Namun ketika pesisir itu tenggelam karena proses geologis turun, maka terumbu karang tersebut akan tumbuh kembali.

Dengan mengetahui sejarah terjadinya gempa besar yang disertai tsunami berdasarkan catatan itu, penduduk paling tidak dapat mengantisipasi periode pengulangan, dan berwaspada pada bahaya itu.

Sedangkan di pesisir selatan Jawa tidak ditemukan koloni terumbu karang. Di sekitar daerah ini memiliki topografi yang berbeda, tidak ditemukan jajaran kepulauan dan perairan yang dangkal di antaranya. Padahal perairan dangkal memungkinkan tumbuhnya terumbu karang.

Dengan kata lain, informasi mengenai kegempaan dan tsunami yang terjadi di sekitar pantai selatan Jawa masih minim.

3 dari 3 halaman

Di Balik Legenda Nyi Roro Kidul

Legenda Nyi Roro Kidul mungkin bukan sekedar kisah mitologi tentang roh atau lelembut yang berkuasa Laut Selatan.

Kepala Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto percaya bahwa mitologi Ratu Kidul termasuk geomitologi, mitos yang memiliki dasar peristiwa geologi masa lalu.

Seperti dikutip dari situs BNPB, hal tersebut berdasarkan kajian paleotsunami (tsunami purba) atau gelombang gergasi yang terjadi pada zaman dahulu.

Eko menambahkan, kajian paleotsunami yang ia lakukan menemukan jejak tsunami tua di sepanjang pantai selatan Jawa.

Deposit paleotsunami itu ditemukan di Lebak, Banten; Pangandaran, Jawa Barat; Cilacap, Jawa Tengah; Pacitan, Jawa Timur; dan  di Kulon Progro, Yogyakarta.

Sebagian telah diketahui memiliki kesamaan umur sekitar 300 tahun lalu. Beberapa lapisan lagi memiliki lapisan lebih tua, menunjukkan keberulangan kejadian tsunami di masa lalu.

Sementara itu, kajian paleotsunami oleh geolog AS, Ron Harris dan timnya, menemukan dua lapisan tsunami tua di Bali selatan. Secara teoretis, kejadian tsunami di selatan Jawa bisa berbarengan dengan di selatan Bali. 

Loading
Artikel Selanjutnya
BMKG: Aktivitas Gempa di Kalimantan Paling Rendah
Artikel Selanjutnya
Top 3 News: Kala Gempa Bogor Bikin Jakarta Ikut Berguncang