Sukses

Deretan Pejabat yang Pernah Tolak Uang Haram Korupsi

Liputan6.com, Jakarta - Godaan korupsi kerap kali menjerat para pejabat di Indonesia. Tak banyak, namun juga tak sedikit para pemangku kepentingan itu terlilit dalam pusaran korupsi.

Apalagi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin giat melakukan operasi tangkap tangan atau OTT. KPK sama sekali tidak memandang bulu.

Namun rupanya, tidak semua mudah terbujuk rayu oleh uang sogokan itu. Meski sering ditawarkan dengan jumlah besar, para pejabat ini dengan tegas menolak.

Mereka memilih untuk tetap jujur dan tidak termakan dengan rayuan uang haram tersebut.

Berikut cerita deretan pejabat Indonesia yang menolak melakukan korupsi dan harus dicontoh:

 

2 dari 6 halaman

1. Artidjo Alkostar

Artidjo Alkostar bercerita semasa dirinya berkiprah sebagai hakim agung. Menurutnya, kala itu, berbagai upaya suap pernah dicoba dilakukan kepadanya.

Namun, Artidjo berulang kali menolaknya dengan tegas. Dia bercerita pernah ada seorang pengusaha datang langsung kantornya untuk memberikan suap agar dihentikan perkaranya.

Rupanya, iming-iming uang itu tak membuat Artidjo luluh. Dengan tegas, ia menolak suap tersebut.

"Saya marah betul. Ini apa saudara ini, saudara menghina saya," kata Artidjo.

Tak berhenti di situ, upaya lain untuk menyuap Artidjo melalui kiriman selembaran fotokopi cek. Dia lalu dihubungi untuk meminta nomor rekening.

"Tidak saya baca berapa jumlahnya pokoknya saya jawab kepada dia. Saya terhina dengan surat-surat Anda itu. Itu jangan diteruskan lagi itu masalah menjadi lain," kata Artidjo.

 

3 dari 6 halaman

2. Brigjen Polisi Kaharoeddin

Brigjen Polisi Kaharoeddin diangkat menjadi gubernur pertama Sumatera Barat pada 1958 silam. Mantan Komandan Polisi Sumatera Tengah ini tetap mempertahankan gaya hidup sederhana dan anti korupsi.

Cerita percobaan suap terjadi saat seorang rekanan Pemprov datang berkunjung ke kantor Kaharoeddin.

Setelah berbasa-basi, pengusaha itu pulang dengan meninggalkan sebuah kotak roti. Tetapi setelah diperiksa, isinya uang. Kaharoeddin terkejut dan segera memanggil ajudannya.

"Kembalikan uang ini pada pengusaha yang menemui saya tadi. Bilang kalau mau menyumbang bukan sama gubernur, tapi ke jawatan sosial," tegas Kaharoeddin.

Cerita itu dikutip dalam buku Brigadir Jenderal Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa, Gubernur di Tengah Pergolakan, terbitan Pustaka Sinar Harapan 1998.

Sementara itu, sejak menjadi pejabat polisi, Kaharoeddin melarang polisi berpakaian dinas nongkrong di kafe atau restoran serta tempat-tempat umum.

Menurut dia, baju dinas memang untuk dinas, bukan untuk bertemu seseorang di restoran. Kaharoeddin menyebut hal ini bisa disalahgunakan.

Karena itu pula Mariah, istri Kaharoeddin, berkisah dirinya sering mengantarkan makan siang untuk makanan sang suami di kantor.

Walau sudah menjadi istri gubernur, Mariah tetap mencucikan pakaian dan memasak untuk suaminya.

Hingga akhir hayatnya, Kaharoeddin tak punya rumah pribadi. Karena kejujuran dan kesederhanaannya Kaharoeddin yang menjabat gubernur Sumbar selama tujuh tahun, tak punya cukup uang untuk membeli rumah.

 

4 dari 6 halaman

3. Mantan Kapolri Hoegeng Imam Santosa

Rupanya, mantan Kapolri Hoegeng Imam Santosa juga pernah mendapat godaan suap. Dia pernah dirayu seorang pengusaha keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan.

Wanita itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tidak lagi dilanjutkan ke pengadilan.

Seperti diketahui, Hoegeng sangat gencar memerangi penyelundupan. Dia tidak peduli siapa beking penyelundup tersebut, semua pasti disikatnya.

Wanita ini pun berusaha mengajak damai Hoegeng. Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak mentah-mentah. Hadiah ini langsung dikembalikan oleh Hoegeng. Tapi si wanita tak putus asa dan terus mendekati Hoegeng.

Namun justru Hoegeng dibuat terheran-heran. Karena, rekan kepolisian dan kejaksaan malah memintanya untuk melepaskan si wanita.

Hoegeng heran, kenapa begitu banyak pejabat yang mau menolong pengusaha wanita tersebut. Hoegeng pun hanya bisa mengelus dada prihatin menyaksikan tingkah polah koleganya yang terbuai uang.

 

5 dari 6 halaman

4. Mayjen TNI Purnawirawan Eddie M Nalapraya

Kisah percobaan korupsi juga pernah dirasakan Mayjen TNI Purn Eddie M Nalapraya. Eddie mengawali karirnya sebagai prajurit rendahan hingga akhirnya bisa pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal (Mayjen).

Setelah itu, Eddie sempat menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 1984-1987. Tentu sebuah hal yang langka dari dulu hingga sekarang.

Pria yang dikenal dekat dengan kalangan ulama dan aktivis di Jakarta ini mengungkap beberapa kali menolak uang suap dan uang haram yang ditawarkan padanya.

Jika seandainya diambil, mungkin Eddie sudah berhadapan dengan hukum dan habis karirnya. Kisah ini ditulis dalam buku Memoar Eddie M Nalapraya, Jenderal Tanpa Angkatan yang ditulis Ramadhan KH dan kawan-kawan. Buku ini diterbitkan Zigzag Creative tahun 2010.

Saat menjabat Kepala Staf Kodam Jaya pada 1980 awal, Eddie sempat didatangi anak buahnya di Kodam.

Si perwira tiba-tiba menyerahkan uang yang jumlahnya kala itu cukup untuk membeli tiga buah mobil mercy keluaran terbaru. Mungkin kalau dinilai sekarang di atas Rp 1 miliar.

"Ini uang apa? Asalnya dari mana?" kata Eddie terkejut.

"Oh ini dana taktis, Pak. Dari hasil ruislag (tukar guling tanah) di Jembatan Merah, untuk disimpan oleh Bapak," kata si perwira.

"Sudah lapor Panglima Kodam belum?" balas Eddie lagi. Si perwira menggeleng. Eddie memintanya lapor Panglima Kodam saja lebih dulu.

Sejak saat itu dia tak tahu lagi kelanjutan soal uang tersebut. Eddie juga tak pernah lagi mengingat-ingatnya.

 

Reporter : Syifa Hanifah

Sumber  : Merdeka.com

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani Ingatkan Para Camat Bikin Program dan Tak Korupsi
Artikel Selanjutnya
Rugikan Negara Rp 568 M, Eks Manager Merger Pertamina Divonis 8 Tahun Penjara