Sukses

Makna Luhur Kue Keranjang

Liputan6.com, Pontianak: Kue keranjang alias dodol Cina menjadi salah satu menu wajib yang harus tersedia saat perayaan Tahun Baru Imlek tiba. Dan, ternyata, makanan manis berbahan baku tepung ketan dan gula pasir ini ternyata memiliki makna yang luhur.

Kue keranjang juga disebut Nian Gao mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang. Kue keranjang ini mulai digunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak disantap sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek) tiba. 

Kata Nian sendiri berarti "tahun" dan Gao berarti "kue" yang juga berarti "tinggi". Karena itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil susunan kue ini. Hal ini bermakna peningkatan rezeki atau kemakmuran.

Pada zaman dulu, banyak atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Dipercaya pada awalnya kue ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga Yu Huang Da Di. Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun, dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Di Cina terdapat kebiasaan saat Imlek untuk terlebih dulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun. Di Indonesia sendiri, kue ini banyak diproduksi di Bogor dan Yogyakarta. (CHR/Wikipedia)




    Video detik-detik ledakan di Parkir Timur Senayan

    Tutup Video