Sukses

Bencana Melanda, Panggilan Itu Datang

Liputan6.com, Sleman: Setiap bencana tiba, di situ selalu hadir relawan. Ya, orang-orang yang berani menantang maut di saat orang lain kabur mencari selamat. Hal itu terjadi ketika Gunung Merapi memuntahkan amarahnya. Panggilan itu pun datang kepada para relawan.

Dua relawan pemberani itu di antaranya, Sobirin dan Dedy alias Kenthir. Mereka tak kenal takut menantang maut. Kendati hanya berbekal sebuah handy talky, mereka dengan sigap mengabarkan bahaya yang akan terjadi.

Setiap harinya, kedua relawan tersebut memantau aktivitas Gunung Merapi dari radius empat kilometer saja. Mereka berkeliling sambil memberitahu warga yang masih bertahan di kediamannya di dekat  Merapi ,untuk segera mengungsi ketika awan panas datang.

Meski demikian, mereka harus tetap waspada. Setidaknya mereka harus tahu, ke arah mana luncuran awan panas akan menuju. Bermain dengan maut, bercanda dengan kematian. Semua dilakukan Sobirin atas nama kemanusiaan. Bahkan untuk biaya sehari-hari, ia merogoh koceknya sendiri.

Panggilan sebagai relawan mulai kental di tubuh pemuda tersebut sejak aktif di organisasi pencinta alam. Dan keputusannya menjadi relawan bermula saat letusan Merapi pada 2006 silam.

Sudah sepekan lebih Sobirin bersama 20 rekannya berada di Merapi. Tak ada imbalan apalagi keinginan mendapat pujian. Yang terpenting adalah misi kemanusiaan yang merupakan panggilan jiwa untuk meringankan beban sesama.(BJK/SHA)