Sukses

Pakar: Calon Pengebom Dicuci Otak Tiga Tahun

Liputan6.com, Jakarta: Aksi terorisme dimulai dengan rekrutmen anggotanya yang kini diduga sudah merambah ke remaja. Seperti kasus ledakan bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, Jumat pekan lalu. Berdasarkan keterangan polisi, pelaku bom bunuh diri di hotel itu diperkirakan baru berumur 16 hingga 17 tahun.

Perkiraan polisi itu dibenarkan pakar pikiran bawah sadar, Mardigu W.P. Menurut dia dalam perbincangan dengan SCTV, Sabtu (25/7), umur 15 hingga 25 tahun adalah usia sugestif atau masa yang gampang dipengaruhi unsur-unsur dari luar dirinya. "Karenanya usia 15-17 tahun sangat memungkinkan melakukan hal semacam itu," kata Mardigu.

Mardigu menambahkan, sekalipun usianya masih remaja, gerak tubuh mereka sebetulnya bisa dinilai. Itu karena mereka sudah diasramakan, dan diprogram atau "cuci otak". Biasanya secara teori untuk membuat seseorang terprogram secara sempurna diperlukan minimal tiga tahun. Lantaran itu, ujar Mardigu, para pelaku teror hampir 90 persen hilang selama satu hingga tiga tahun.

Setelah diasramakan, kata Mardigu, mereka bertindak seperti orang kebanyakan. Tapi selalu bergerak secara berkelompok. Biasanya mereka bertindak santun, bicaranya runut, rendah hati, dan tertib beribadah. Namun, menurut Mardigu, peluang untuk menjadi pelaku teror sebenarnya sangat kecil. Dari 10 yang dibina biasanya hanya tujuh yang jadi. Anggota yang gagal dibina biasanya berperilaku setengah antisosial dan senang menyendiri. Serta, bila ada hal-hal yang bisa membuat marah, mereka gampang emosi.

Sebelum dilepas ke masyarakat, mereka harus diuji untuk menjadi seorang pejuang atau pengebom bunuh diri. Para calon pelaku teror ini harus menjalani tes hampir mati. "Bahkan menurut pengalaman dan data ada juga yang mati. Karena saat latihan menggunakan peluru tajam betulan atau tes bom sesungguhnya," kata Mardigu.

Ciri apalagi yang bisa dikenali dari para pelaku teror ini?. Kemudian, langkah apa yang harus diperbuat masyarakat jika mengenali ciri-ciri tersebut. Simak selengkapnya dalam video berita ini.(IAN/ANS)