Sukses

Australia-Indonesia Harus Menanggulangi Imigran Gelap

Liputan6.com, Jakarta: Australia membuka pintu bagi 12.000 pengungsi ke negara benua itu tiap tahun. Tapi, tawaran itu tak berlaku bagi para pendatang tanpa identitas resmi alias imigran gelap. Celakanya, imigran gelap asal Timur Tengah yang ingin ke Negeri Kanguru itu banyak yang terdampar dan ditampung di Indonesia. Kehadiran para manusia perahu itu juga merepotkan pemerintah Indonesia. Persoalan pelik itu hanya bisa diselesaikan jika Indonesia dan Australia mau bekerja sama.

Demikian benang merah perbincangan antara Yusbar Djamil, Direktur Asia Pasifik Departemen Luar Negeri dan Kirk Coningham, Public Affair Concellor Kedutaan Besar Australia di Indonesia yang dipandu Rosiana Silalahi dalam dialog Liputan 6 Petang, Rabu (14/11). "Kalau mau ke Australia kenapa tidak mau yang resmi melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kalau imigran gelap pasti kita tolak," kata Coningham. Menurut Coningham, jika Indonesia tegas menolak menjadi tempat transit, para pendatang liar itu juga tak bakal ke Indonesia. "Tapi di sini ada perasaan kemanusiaan," kata Yusbar. "Kami juga berbaik hati menerima pengungsi. Tapi tak adil jika tempat bagi pengungsi resmi diisi pendatang gelap," ujar Coningham.

Keduanya mengakui masalah imigran gelap ini sangat pelik. Yusbar mengimbau pemerintah Australia ikut membiayai para imigran gelap yang ditampung di Indonesia. Selain itu, Australia juga diminta memberi informasi tentang perjalanan para pendatang gelap itu. "Jadi bisa kita cegah lebih awal," kata Yusbar. "Permintaan itu masuk akal dan kami siap membantu," kata Coningham.(TNA)

    Live Streaming EMTEK GOES TO CAMPUS 2018 di Surabaya

    Tutup Video