Sukses

Belasan Pemuka Adat Minangkabau Dinobatkan Menjadi Datuk

Liputan6.com, Agam: Datuk atau penghulu adat memiliki arti penting dalam khasanah budaya dan adat Minangkabau di Sumatra Barat. Datuk merupakan posisi tertinggi yang diberikan pada salah satu tetua adat untuk menjadi pemimpin kaumnya. Pemilihannya sendiri dilakukan secara demokratis melalui musyawarah. Beberapa syarat harus dimiliki seorang calon datuk, seperti sifat jujur, bijaksana, bertanggung jawab dan fasih berkomunikasi. Setelah sang datuk terpilih, prosesi pengangkatan pun digelar.

Belum lama berselang, di Nagari Bayua, Maninjau, Kabupten Agam, Sumbar, dilangsungkan prosesi Batagak Panghulu Basamo. Ini berarti tidak hanya satu datuk yang diangkat. Ada belasan datuk dari beberapa marga seperti Guci, Chaniago, Melayu, Piliang, Koto dan Tanjung. Mereka bakal diangkat menjadi pemimpin adat di kaumnya masing-masing.

Masjid Raya Bayur menjadi tempat dilakukannya prosesi pengangkatan, yang dihadiri oleh wakil-wakil nagari dari suku calon datuk serta dari Negeri Sembilan, Malaysia, yang masih memiliki pertalian darah dengan masyarakat Minangkabau. Tenda tradisional yang biasa disebut tabia didirikan sebagai tempat upacara pengangkatan.

Sirih pinang pun dihaturkan kepada para calon datuk, sebagai tradisi yang biasa dilakukan untuk menyambut kedatangan orang yang dihormati. Apalagi menurut adat setempat, datuk adalah orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Artinya, dalam berbagai hal, posisi datuk satu tingkat lebih tinggi dari yang lain.

Dalam acara penobatan 16 penghulu ini, mereka juga harus mendengarkan petuah-petuah dari tetua adat yang sekaligus menjadi kontrak sosial untuk selalu menjaga kelestarian adat Minangkabau. Para datuk ini juga bertanggung jawab untuk selalu membina dan mendidik para kemenakan dan kaum muda selama hidupnya.(ADO/Harjuno Pramundito dan Bambang Triono)