Sukses

Cerita Akhir Pekan: Dilema Hamil di Masa Pandemi

Liputan6.com, Jakarta - Serba tak pasti dan belum pernah dialami kebanyakan orang, pandemi COVID-19 tentu bukan masa-masa mudah untuk dilalui. Kecemasannya sangat mungkin berlipat ganda karena kondisi tertentu, seperti hamil.

Faktor kesehatan tentu jadi pusat dari berbagai keresahan. Pasal, menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, ibu hamil, terutama hamil muda, daya tahan tubuhnya cenderung menurun.

"Ini (daya tahan tubuh menurun) terjadi secara alami karena tubuh lagi dirancang untuk tidak menolak janin. Tidak pandemi saja ibu hamil harus ekstra hati-hati, apalagi dalam kondisi sekarang," katanya lewat sambungan telepon pada Liputan6.com, Kamis, 9 Juli 2020.

Dokter kandungan, Raissa Liem, menambahkan, dilema lain hamil di masa pandemi adalah soal waktu kontrol ke dokter. Pasal, dokter kandungan jam praktik maupun jumlah pasiennya dibatasi, sehingga ibu hamil tak bisa periksa sefleksibel waktu sebelumnya.

Lalu, kontrol ke rumah sakit atau klinik, yang mana bisa saja jadi sumber penyakit. "Jadi harus ekstra hati-hati," paparnya lewat pesan Rabu, 8 Juli 2020. "Apabila ingin periksa darah, itu harus ke laboratorium yang mungkin dapat mendapat paparan penyakit."

Sedangkan, bagi seorang ibu hamil, Fitri Andiani, keadaan paling dilematis saat hamil di tengah pandemi justru baru dirasakan di masa transisi kenormalan baru. Perusahaan tempatnya bekerja mulai menerapkan aturan untuk work from office walau masih split team per hari.

"Dalam kondisi hamil gini, tentu gue jadi mempertimbangkan banyak hal, apalagi sebagai pengguna transportasi publik. Di titik itu, pertimbangan pribadi gue yang fokus sama keselamatan si bayi dalam kandungan berbenturan sama kebijakan perusahaan. Tapi, untungnya bisa dikompromi dan dapat win-win solution yang diharapkan," katanya melalui pesan Rabu, 8 Juli 2020.

2 dari 4 halaman

Jangan Fokus pada Kecemasan

Supaya tak fokus semata pada kecemasan, dr. Raissa memberi beberapa catatan ekstra bagi para ibu hamil. Pertama, harus tetap kontrol sesuai anjuran. "Apabila disarankan kontrol ke dokter, tetap harus ke dokter, jangan ke bidan saja," tegasnya.

Lalu, jaga diri dengan tak pergi kecuali sangat penting, pakai masker, cuci tangan lebih sering, serta jangan menyentuh wajah. Juga, mandi, keramas, dan berganti pakaian setelah bepergian.

Sementara, Hasto mengatakan, ibu hamil harus mengonsumsi suplemen. "Asam folat. Lalu, di bulan ke-4 nanti minum kalsium. Konsumsi makanan yang mengandung DHA dan omega-3. Karena sebenarnya tidak pandemi pun (asupannya) harus ekstra," ucapnya.

Di samping terus melakukan berbagai upaya preventif, Fitri menikmati sisi positif hamil di masa pandemi. Karena kebijakan bekerja dari rumah, ia dan suami punya lebih banyak kesempatan untuk bersama dalam menjalani masa kehamilan dan memantau tiap perkembangan janin.

"Kalau di hari-hari normal, karena sama-sama sibuk kerja, ya minim banget pasti kesempatan kayak gitu," katanya. Meski pandemi ini jadi menciptakan kekhawatiran tersendiri, Fitri berusaha tak membiarkan situasi itu mempengaruhinya terlalu jauh.

"Khawatir pasti, dan itu wajar. Waspada ya harus banget, bahkan jadi ekstra. Tapi buat gue, ketenangan batin selama hamil jauh lebih penting, mental harus sehat biar fisiknya juga sehat. Jadi, kalau memang khawatir soal pandemi dan pengaruhnya ke kesehatan kita, daripada khawatir berlebihan, mending fokus cari dan lakuin tindakan-tindakan solutif," jelasnya.

Ia sendiri selama ini sudah patuh pada protokol kesehatan. "Yang penting tahu prioritas. Kalau sudah paham prioritasnya keselamatan diri dan bayi dalam kandungan, semua tindakan yang diambil pasti akan mengarah ke sana. Termasuk ketika memilih untuk tidak fokus sama rasa khawatir. Ibu hamil harus tetap happy!" ucapnya.

3 dari 4 halaman

Tunda Kehamilan di Masa Pandemi atau Tidak?

Hasto mengatakan, pihaknya tak melarang, namun menganjurkan menunda kehamilan di masa pandemi. "Karena bukan cuma mendukung program pemerintah, namun juga ada pertimbangan kesehatan pribadi," katanya.

Tak semata karena lebih rentan terinfeksi virus saat hamil muda, pihak BKKBN berusaha mencegah kenaikan angka kematian ibu dan janin. Ia menjelaskan, paling tidak ada lima persen kemungkinan kelainan di awal kehamilan.

"Jadi, misal ada 1000 orang hamil, kurang lebih 50-nya akan jadi masalah. Ada keguguran, dan di masa pandemi banyak kejadian seperti begitu. Pelayanan (kesehatan) pun sedang tidak seoptimal seperti di luar pandemi. Makanya jangan sampai kematian ibu dan bayi selama pandemi malah meningkat," ucapnya.

dr. Raissa menambahkan, pada dasarnya pertimbangan menambah momongan sama saja, baik di masa pandemi atau bukan.

"Tapi, tambahannya di masa pandemi ini, kesiapan ekonomi perlu diperhatikan baik baik. Terus perlu dipikirkan juga apabila anak-anak yang sudah ada dan sedang sekolah dari rumah, siapa yang akan mengurus bayi nanti," katanya.

Sedangkan menurut Fitri, hamil adalah soal kesiapan dan kemampuan yang diukur secara logis. "Gue hamil sebelum ada status pandemi, tapi gue sudah mengukur itu berdua suami dan yakin kami siap. Jadi ketika pandemi begini, Alhamdulillah nggak banyak bikin bingung. Memang harus adaptasi saja sama keadaan," ujarnya.

"Jadi, soal menunda hamil di masa pandemi, balik lagi ke kesiapan pasangan. Kalau memang mampu menjamin keamanan dan kesehatan buat orangtua maupun anak, mulai dari hamil sampai nanti anaknya lahir, terlepas dari kapan kita bebas dari status pandemi, kenapa nggak?" sambungnya.

"Sebaliknya, kalau buat berdua atau jaga yang ada saja mesti ambil risiko besar dan nggak punya pilihan lain, baiknya ya jangan egois melibatkan satu manusia baru yang nggak ngerti apa-apa dan masih akan banyak bergantung sama kita," tandas ibu hamil yang sudah masuk trimester ketiga itu.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: