Sukses

Mengenal Calok, Kuliner Unik Khas Kampung Tua di Pulau Terluar Indonesia

Liputan6.com, Natuna - "Ada itu kuliner khas Segeram namanya calok. Enak sekali," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna Hardiansyah di Ranai, Kabupaten Natuna, Minggu, 22 September 2019.

Ya, makanan berbahan dasar udang kecil ini sudah sebegitu lekat dengan wilayah yang masuk ke Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna tersebut.

Bagaimana tidak, berdasarkan keterangan warga sekaligus produsen calok, Syahrul Nizam, 90 persen warga Segeram memproduksi kuliner khas satu ini.

Produsen lain, Rusnawati, menjelaskan, calok merupakan hasil fermentasi udang kecil yang diberi bumbu hanya berupa garam dan gula. Setelah ditangkap, udang langsung dibersihkan dengan air asin.

"Jangan sampai (udang) kena air tawar, nanti bisa basi," sambung perempuan juga produsen calok, Hamsiyar, di Kampung Segeram, Kabupaten Natuna, Senin, 23 September 2019.

Setelah dicuci bersih, barulah bumbu ditambahkan. Setelah diaduk rata, calok siap dimasukkan ke dalam botol kaca dan didiamkan selama semalam sebelum dipasarkan.

Calok disebut bakal bertahan paling lama satu bulan sejak dikemas. "Kalau lebih dari satu bulan, isinya bakal jadi kayak air," kata Nizam. Ketika ditanya soal rasa, ketiganya kompak mengatakan calok didominasi asin, sedikit gurih dan manis.

"Makannya enak pakai nasi hangat, pakai timun, atau lauk lain seperti ikan enak juga," tutur Rusnawati. Satu botol calok biasanya dibanderol Rp12 ribu. "Dijual biasanya ke Ranai, Sedanau, sampai Tanjung Pinang juga ada," kata Nizam.

Sayang, karena belum ada jaringan internet di Kampung Segeram, calok belum bisa dipasarkan secara online. "Padahal kami mau (jualan calok secara online)," aku Nizam.

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 dari 3 halaman

Satu-satunya di Kabupaten Natuna

Nizam mengatakan, Kampung Segeram adalah satu-satunya produsen calok di Kabupaten Natuna. "Calok sebenarnya juga ada di Kalimantan. Tapi, rasanya beda karena udang yang dipakai berbeda," tuturnya.

Ia menambahkan, saat air sungai surut adalah waktu terbaik untuk berburu udang kecil bahan baku calok. Namun, kondisi sungai yang berbatasan dengan laut ini membuat udang tak selalu ada.

"Musim angin selatan, angin utara, dan angin barat, udang selalu banyak. Itu sekitar bulan ke-6, 7, dan 8, lalu 12, 1, dan 2," tuturnya. Bila udang sedang banyak, per orang rata-rata bisa menghasilkan 20 botol per sekali tangkap.

Bila tidak terlalu banyak, mungkin hanya dapat 2--3 botol. "Kadang malah tidak dapat sama sekali," sambungnya.

Selain calok, udang kecil juga dimanfaatkan warga untuk membuat belacan. "Udang yang sudah dicuci, didiamkan semalam semari direndam pakai garam. Perah airnya, jemur dulu sampai kering. Habis itu ditumbuk, baru dicetak," jelas Rusnawati soal cara membuat belacan.

Soal pemberdayaan potensi kuliner di Segeram, para produsen calok berharap mendapat bantuan dari pemerntah kabupaten (pemkab), mulai dari pengadaan label halal, pelatihan untuk pembudidayaan, sampai pemugaran pong-pong (perahu kecil) yang dipakai untuk menangkap udang.

"Pong-pong warga sudah banyak yang tidak layak. Rata-rata usianya sudah belasan tahun dan harusnya dipugar. Tapi, kembali lagi terbentur biaya," tutur Nizam.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading