Sukses

Pariwisata Bukan Lagi Pembantu Utama Ekonomi Indonesia

 

Liputan6.com, Jakarta - Zaman berlalu, andalan ekonomi juga berubah. Jika dulu Indonesia mengandalkan komoditas sebagai penyumbang devisa utama negara, kali ini giliran sektor pariwisata.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menargetkan pada 2045, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 73,6 juta. Angka tersebut dinilai masuk akal meski capaian wisman pada 2018 baru di angka 15,81 juta orang.

"Kelihatannya besar, tapi jumlahnya itu biasa saja. Prancis sekarang ini dikunjungi 80 juta lebih wisatawan. Sementara, negara Thailand dekati 40 juta. Lalu, Malaysia mendekati 30 juta," kata Bambang dalam Rakornas Pariwisata III di Jakarta, Selasa, 10 September 2019.

Optimisme yang sama dilontarkan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Ia menyebut pariwisata Indonesia bisa menyumbang devisa terbesar nomor dua setelah batu bara, menyalip komoditas sawit. Diperkirakan pada 2019, angkanya menembus 20 miliar dolar AS.

"Pertumbuhan ekonomi kita sekitar 5-6 persen, tapi pertumbuhan pariwisata 14 persen," kata Arief.

Pertumbuhan itu menempatkan Indonesia di peringkat 9 pertumbuhan pariwisata tercepat di dunia berdasarkan World Travel and Tourism Council periode September 2018. Namun, angka tersebut masih kalah dari Vietnam yang pertumbuhannya rata-rata tujuh digit lebih besar daripada Indonesia.

"Vietnam enggak hanya jadi investor darling, tetapi juga tourist darling...Kenapa demikian? Orang investasi di sana mudah. Mereka deregulasi besar-besaran. Apa itu deregulasi? Sederhanakan segala sesuatunya, jangan berbelit-belit," ujar Menpar.

 

 

 

 

2 dari 4 halaman

Pilar Ekonomi

Kepala Bappenas menyebut pariwisata jadi harapan untuk perekonomian Indonesia mengingat persaingan semakin berat. Ia mengungkapkan current account alias neraca transaksi berjalan Indonesia saat ini negatif. Maka itu, harus ada penyeimbang agar tidak defisit.

"Faktornya (defisit) banyak. Ada jasa pelayaran defisit cukup besar, repatriasi modal dari indonesia ke luar negeri, plus neraca perdagangan defisit. Kalaupun surplus sangat kecil. Artinya, ekspor belum bisa diandalkan sebagai penghasil devisa," kata dia.

Sementara, item travel alias perjalanan menunjukkan surplus. Ia tak menyebut jumlah pasti, tetapi menunjukkan pariwisata menjadi sektor menjanjikan untuk menopang perekonomian agar lebih stabil. Namun, ada hal yang patut diwaspadai, yakni jumlahnya yang semakin menipis.

"Ini akibat juga tingkat hidup masyarakat Indonesia makin baik, income makin baik. Mulai banyak orang Indonesia traffic ke luar negeri. Ini harus diwaspadai teman-teman Kemenpar," ujarnya.

Maka itu, ia meminta agar Kemenpar mencari cara mendatangkan devisa lebih cepat. Bukan hanya mengandalkan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia, tetapi memperpanjang waktu tinggal dan tingkat pengeluaran wisatawan mancanegara di Indonesia.

Solusi yang diajukannya adalah agar pelaku usaha pariwisata fokus mengelola objek wisata yang membuat wisatawan tidak segan-segan mengeluarkan uangnya, tak hanya untuk akomodasi maupun makanan, tetapi juga suvenir dan MICE.

"Hal simpel seperti suvenir, di luar negeri gampang sekali cari magnet kulkas, tapi kalau di Indonesia tidak mudah atau tidak banyak magnet tersebut. Padahal bisa banyak kembangkan UMKM, tak perlu konglomerat, asal dibuat dengan baik," tutur Bambang.

3 dari 4 halaman

Kesiapan SDM

Bambang menargetkan, sektor pariwisata bisa menampung 15 juta pekerja dalam lima tahun mendatang. Apalagi, banyak sektor yang bakal terlibat dalam industri ini.

Meski begitu, kesiapan sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Belum semua warga siap untuk menyambut wisatawan. Misalnya saja, masyarakat di Danau Toba seperti yang disinggung oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

"Orang Toba harus diajari lebih tersenyum. Bangun-bangun gini (infrastruktur) relatif gampang, tetapi latih host agar lebih ramah tidak gampang, lebih memakan waktu dan hati," ucap Basuki.

Menanggapi hal itu, Menpar menyatakan telah mengirimkan 22 anak Toba menjalani studi di Bandung. Mereka juga akan mempraktikkan ilmu di Bali. Diharapkan dalam lima tahun mendatang, mereka siap untuk kembali dan menggarap pariwisata di kampung halaman.

"Kami oke saja dengan target (jumlah wisatawan dan devisa) segitu, tapi dengan syarat, anggarannya dipenuhi. Biaya promosi kan tidak bisa dikerjasamakan. Kami minta Rp10 T, yang baru ada sekarang hanya 44 persennya," kata Arief.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kemenhub Dapat Tambahan Anggaran Rp 441,5 Miliar di 2020
Artikel Selanjutnya
Ini Alasan Pertumbuhan Ekonomi Bali Melebihi Nasional